Edisi
No.13/VII/Desember/2003
 



 
  Sajian Utama:  
Virtual Learning/Virtual Classroom sebagai Model Pendidikan Jarak Jauh: Konsep dan penerapannya
(Dr. Anung Haryono, M.Sc.& Drs. Abubakar Alatas, M.Sc.)
 
Pemanfaatan Teknologi dalam Evaluasi Hasil Belajar Pendidikan Terbuka Jarak Jauh (PTJJ)
(Dr. Suci M. Isman dan Ir. K.A. Puspitasari, M.Ed.)
 
Upaya Peningkatan Motivasi Berprestasi dalam Pembelajaran di SLTP dan SMU Terbuka (Dr. Nurdin Ibrahim, MPd)  
Belajar Berbasis Aneka Sumber (Bebas): Sebuah Pemikiran tentang Peluang dan Tantangannya
(Drs. Mohammad Tahmid)
 
Guru dan Media Pembelajaran (Drs. Ade Koesnandar, M.Pd.)
 
Sistem Belajar Mandiri: Dapatkah Diterapkan dalam Pola Pendidikan Konvensional? (Uwes A. Chaeruman, S.Pd.)
 

Menata Ulang Proses Pembelajaran di Perguruan Tinggi (Once Kurniawan)

 
Validitas dan Reliabilitas Tes: Deskripsi Konsep dan Aplikasinya dalam Evaluasi Pendidikan (Drs. Jafar Ahiri, M.Pd.)  
Singkatan dan Akronim dalam Media Chatting dan SMS (Analisis Komunikasi Teks dalam Internet dan Telepon Selular) (Lydia Irawati, S.S. )
 
   
 
pustekkom.go.id  
 
     
     
 

 



 

 
 


VIRTUAL LEARNING/VIRTUAL CLASSROOM SEBAGAI MODEL PENDIDIKAN JARAK JAUH: KONSEP DAN PENERAPANNYA*)

Oleh: Anung Haryono dan Abubakar Alatas**)

Abstrak
Kelas virtual akan menjadi trend teknologi pembelajaran masa depan. Pemanfaatan teknologi pembelajaran seperti video conference, audio conference, e-learning, CD interaktif, dll telah dimulai di sejumlah institusi Pendidikan. Secara konseptual, kelas virtual memiliki sejumlah potensi antara lain; memberikan peluang bagi siswa untuk berinterkasi dengan guru, teman, maupun bahan belajar tanpa terikat oleh waktu dan tempat. Demikian pula guru melalui internet dapat mengontrol kegiatan belajar siswa kapan saja diperlukan. Selain itu, kelas virtual dapat memberikan sajian bahan belajar yang menarik sehingga siswa termotivasi untuk belajar. Namun di pihak lain, kelas virtual juga memiliki beberapa kelemahan, antara lain; penggunaan internet memerlukan imprastruktur yang memadai, saat ini masih relatif mahal, dan komunikasi melalui internet sering kali lamban. Oleh karena itu penerapan kelas virtual di Indonesia perlu dilakukan secara bertahap. Sekolah-sekolah di perkotaan yang telah mempunyai akses ke internet dapat memulai terlebih dahulu.

PENDAHULUAN
Banyak orang di seluruh penjuru dunia mengakui bahwa Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) dapat digunakan sebagai salah satu cara yang efektif untuk mengatasi permasalahan pendidikan yang sulit diatasi dengan cara konvensional. Permasalahan itu misalnya banyaknya anak usia sekolah yang tidak dapat mengikuti pendidikan konvensional karena tinggal di tempat yang jauh dari sekolah, banyaknya anak maupun orang dewasa yang ingin memperoleh pendidikan tetapi tidak dapat mengikuti pendidikan konvensional karena harus bekerja mencari nafkah pada jam jam sekolah, banyaknya orang yang pada waktu mudanya tidak mendapatkan kesempatan memperoleh pendidikan dan sekarang ingin mendapatkan kesempatan kedua tetapi tidak dapat meninggalkan pekerjaannya, banyaknya orang yang ingin mendapatkan pendidikan tetapi tidak dapat karena cacat badan, sakit, tinggal di penjara, tidak dapat meninggalkan rumah karena banyaknya urusan dan tanggung jawab keluarga, dan sebagainya.

Makalah ini membahas mengenai pengertian PJJ, efektivitas dan kelemahan sistem yang digunakan selama ini, timbulnya keinginan untuk mengembangkan kelas virtual sebagai cara baru dalam menyelenggarakan sistem PJJ, serta potensi, cara menggunakan, dan kelemahan model PJJ melalui internet ini.


DEFINISI PENDIDIKAN JARAK JAUH
Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) berkembang sudah lama sebelum kita di Indonesia menggunakannya. Banyak definisi yang digunakan untuk PJJ. JW. Keegan melakukan penelitian mengenai praktek penyelenggaraan dan definisi PJJ yang digunakan di berbagai negara di dunia. Dia melakukan analisis dan menelaah berbagai definisi yang hampir sama, mulai dari definisi Doamen (1967), Meckenzie. Christensen; dart Rigby (1968); Undang-undang Pendidikan Perancis (1971); Peters (1973), Holmberg (1977) dan membuat sintese mengenai definisi-definisi tersebut. Menurut dia ada enam unsur dasar pengertian (six defining elements) Pendidikan Jarak Jauh yang dapat diketengahkan, yaitu:
• Terpisahnya guru dan siswa. Karakteristik inilah yang membedakan PJJ dari pendidikan konvensional.
• Adanya lembaga yang mengelola PJJ. Hal ini yang membedakan orang yang mengikuti PJJ dari orang yang belajar sendiri (self study).
• Digunakannya media (biasanya media tercetak) sebagai sarana untuk menyajikan isi pelajaran.
• Diselenggarakannya sistem komunikasi dua arah antara guru dan siswa atau antara lembaga dan siswa sehingga siswa mendapatkan manfaat darinya. Dalam hal ini siswa dapat berinisiatif untuk terjadinya komunikasi itu.
• Pada dasarnya PJJ itu bersifat pendidikan individual. Pertemuan tatap muka untuk melengkapi proses pembelajaran berkelompok maupun untuk sosialisasi dapat bersifat keharusan (compulsory), pilihan (optional), ataupun tidak ada sama sekali tergantung kepada organisasi penyelenggaranya.

Definisi tersebut berlaku bagi berbagai sistem atau model PJJ yang menggunakan nama yang berbeda-beda seperti Correspondence School, Distance Learning, Open Learning. Open Education, Open University, Extentiori Study, Home Study, Independent Learning, dan masih banyak lagi istilah lain. Definisi itu bahkan juga masih berlaku bila diterapkan pada sistem PJJ baru yang sekarang sedang banyak diminati orang yaitu On-line Learning, Virtual Learning atau e-Learning.


JARAK TRANSAKSI DAN CARA MENJEMBATANINYA
Sebelum pembahasan mengenai pendidikan jarak jauh melalui internet ini dilanjutkan kiranya perlu dibahas terlebih dahulu mengenai arti jauh dalam istilah “pendidikan jarak jauh” dan bagaimana cara menjembatani jarak itu. Menurut Moore (1983) jarak antara siswa dan guru dalam pendidikan jarak jauh hanya dipandang dari segi jarak fisik dan geografis saja melainkan harus dilihat sebagai jarak komunikasi dan psikologis yang disebabkan karena keterpisahan siswa dari guru. Dewey dalam Moore (1903) menjelaskan bahwa transaksi pendidikan merupakan interaksi antara individu; lingkungan, dan perilaku yang terjadi dalam situasi tertentu. Transaksi pendidikan dalam sistem PJJ terjadi antara siswa dan guru dalam situasi yang bersifat khusus yaitu keterpisahan mereka satu dari lainnya. Jarak transaksi dalam sistem pendidikan jarak jauh merupakan jarak komunikasi dan jarak psikologis antara siswa dan guru. Jarak transaksi ini dapat mengakibatkan perbedaan persepsi mengenai konsep yang dijelaskan oleh guru melalui media dan pemahaman siswa mengenai konsep itu. Oleh karena itu jarak itu perlu dijembatani supaya perbedaan persepsi itu berkurang atau hilang.

Menurut Moore (1983, 1996) jarak transaksi itu dapat dijembatani melalui komunikasi dan percakapan (dialogue). Dialog atau komunikasi pembelajaran dapat mengurangi jarak transaksinya. Artinya makin mudah dan makin sering guru dan siswa berinteraksi makin kecil kemungkian terjadinya kasalahpahaman dalam menafsirkan isi pelajaran. Jadi dalam sistem PJJ ini adanya interaksi aktif antara siswa dan guru itu sangat penting supaya proses belajar dapat terjadi.

Moore (1983, 1996) juga mengatakan bahwa media yang digunakan untuk menyajikan isi pelajaran itu sangat mempengaruhi ada tidaknya komunikasi, dialog, atau interaksi antara guru dan siswa. Kalau media yang digunakan adalah TV, radio, atau buku kesempatan siswa untuk berkomunikasi, berdialog, atau berinteraksi dengan guru sangat kecil. Kalau media yang digunakan adalah audio conference, video conference, atau internet kesempatan bagi siswa untuk berkomunikasi, berdialog, atau berinteraksi dengan guru secara relatif jauh lebih besar. Dengan perkataan lain, bila media yang digunakan itu internet jarak transaksi antara siswa dan guru kecil dan karenanya komunikasi dapat sering dilakukan sehingga kesalahpahamanan penafsiran isi pelajaran semakin kecil.


USAHA YANG TELAH DILAKUKAN
Sampai saat ini media pembelajaran yang masih banyak digunakan dalam sistem pendidikan jarak jauh terutama adalah media cetak berupa bahan belajar mandiri yang biasa disebut modul. Media ini seringkali ditunjang dengan media radio, TV, kaset audio, dan kaset video.

Seperti yang telah dibicarakan pada bagian sebelumnya media tersebut di atas kurang memberikan kesempatan kepada siswa dan guru untuk saling berinteraksi, karena itu menyebabkan adanya jarak transaksi yang besar. Artinya media tersebut kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkomunikasi, berdialog, atau berinteraksi dengan guru. Akibatnya siswa yang mendapatkan kesulitan dalam memahami isi pelajaran tidak dapat menanyakan kesulitan itu kepada guru. Dengan demikian kalau siswa salah dalam menafsirkan isi pelajaran, kesalahan itu akan disimpannya dan dibawanya terus sebelum ada orang yang memberi penjelasan mengenai penafsiran yang benar.

Apakah usaha yang dilakukan untuk menjembatani jarak tersebut? Telah banyak usaha yang dilakukan untuk membantu siswa dalam mengatasi kesulitan belajar. Usaha itu antara lain berupa layanan bantuan belajar melalui tutorial. Dalam kegiatan tutorial ini guru atau tutor memberikan kesempatan kepada siswa untuk menanyakan atau mendiskusikan kesulitan belajar yang mereka hadapi. Guru akan memberikan bantuan dalam memecahkan masalah itu dengan memberikan penjelasan atau mendiskusikannya dengan siswa yang lain.


BEBERAPA JENIS TUTORIAL DAN KELEMAHANNYA
Tutorial dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya tutorial tatap muka, tutorial melalui surat-menyurat, turorial melalui telepon, tutorial melalui audio konference atau video conference.

• Tutorial tatap muka
Siswa dan guru atau tutor bertemu muka secara berkala untuk memberikan kesempatan kepada siswa menanyakan kesulitan yang dihadapi siswa. Tutorial seperti ini sangat bagus untuk mengurangi jarak transaksi antara guru dan siswa. Dengan demikian kesalahpahaman dalam menafsirkan isi pelajaran dapat diperkecil.

Kekurangan yang ada dalam tutorial semacam ini:
- Tutorial tidak dapat dilakukan terlalu sering. Makin sering dilakukan makin mahal biayanya. Biasanya tutorial ini diadakan seminggu sekali, sebulan sekali, atau bahkan ada yang hanya diselenggarakan dua atau tiga kali dalam satu semester. Hal ini menyebabkan siswa harus menunggu lama sebelum mereka dapat mengutarakan kesulitannya kepada guru atau tutor.

- Tutorial seperti ini biasanya bukan merupakan keharusan. Akibatnya banyak siswa yang memilih tidak hadir karena pertimbangan-pertimbangan yang bersifat individual. Banyak yang tidak hadir karena aiasan waktu, biaya transpor, atau alasan lain.

• Tutorial melalui telepon dan surat
Tutorial jenis ini tidak banyak dimanfaatkan siswa, pada hal biayanya relatif murah dan mudah melakukannya. Kendalanya mungkin tidak semua siswa mempunyai telepon, atau sungkan untuk menanyakan pelajaran kepada guru melalui telepon atau surat. Rasa sungkan ini mungkin dipengaruhi oleh faktor kebudayaan. Di samping itu tutorial melalui surat jawabannya seringkali datangnya sangat lambat.

• Tutorial melalui konferensi audio atau video
Tutorial ini jarang digunakan karena biayanya relatif mahal.


SISTEM PEMBELAJARAN MELALUI INTERNET
Dunia telah mengakui bahwa sistem PJJ yang diselenggarakan selama ini merupakan wahana belajar siswa yang cukup efektif. Lulusan PJJ dapat bersaing dengan lulusan sekolah konvensional di pasar kerja di masyarakat. Banyak juga lulusan PJJ yang berhasil memasuki dan meyelesaikan jenjang pendidikan yang lebih tinggi dalam kedudukan yang sama seperti lulusan sekolah konvensional. Namun kekurangan yang ada dalam penyelenggaraan sistem PJJ yang selama ini berlangsung dan kemajuan di bidang teknologi informasi telah mendorong banyak orang untuk menjajagi efektifitas teknologi pembelajaran melalui internet yang diduganya dapat meningkatkan proses belajar dalam sistem PJJ. Dalam sistem pembelajaran melalui intemet isi pelajaran disampaikan secara on-line, siswa belajar, berdiskusi, bertanya, dan mengerjakan soal latihan secara on-line. Karena itu sistem pembelajaran ini seringkali disebut pembelajaran secara on-line. Dalam sisten pembemlajaran ini semua proses pembelajaran dapat dilakukan tanpa menuntut siswa hadir di ruang kelas tertentu, tetapi mereka dapat berinteraksi satu sama lain untuk mendiskusikan pelajaran seperti yang terjadi di kelas biasa. Karena dalam sistem pembelajaran ini tidak ada ruang kelas atau kampus secara fisik maka sistem ini seringkali disebut virtual learning, virtual classroom, atau virtual campus (Potter, 1997). Selain dari pada itu, karena proses pembelajaran, dalam sistem ini dilaksanakan melalui komunikasi elektronik dengan menggunakan intemet, maka sistem ini juga sering disebut e-learning.


POTENSI VIRTUAL LEARNING DALAM PROSES PEMBELAJARAN
Virtual Learning ini banyak diminati orang karena potensi yang dimilikinya untuk membuat proses belajar menjadi efektif.
• Potensi yang utama adalah dapat memberikan peluang bagi siswa untuk berinteraksi dengan guru, dengan teman, maupun dengan bahan belajarnya.
- Siswa dapat berkomunikasi dengan gurunya melalui e-mail. Komunikasi ini bersifat orang perorang. Siswa dapat mengajukan pertanyaan kapan saja dia mau. Guru akan menjawab secepat mungkin sesuai dengan waktu yang dimilikinya. Cara berkomunikasi seperti ini jauh lebih cepat dari pada komunikasi yang dilakukan melalui pertemuan tatap muka.

- Siswa dapat berkomunikasi dengan guru dan teman-temannya secara bersama-sama melalui papan buletin. Dalam forum ini pertanyaan seorang siswa kepada guru dapat dibaca oleh teman-temannya yang mengambil pelajaran yang sama. Jawaban guru juga dapat dibaca oleh siswa lain yang tidak mengajukan pertanyaan. Dalam proses ini guru juga dapat melontarkan pertanyaan tadi kepada siswa yang lain. Siswa yang lain dapat memberikan jawaban yang akan dibaca oleh seluruh anggota kelas. Dengan demikian sesuatu persoalan dapat dipecahkan bersama antara guru dan semua siswa di dalam “kelas virtual-nya”.

Komunikasi antara siswa dan guru atau antara siswa dengan siswa lain itu dapat dilakukan secara tidak bersamaan waktu (a-synchronous) maupun secara bersamaan waktu (synchronous). Komunikasi melalui e-mail dan papan buletin seperti yang diutarakan di atas dilakukan secara tidak bersamaan waktu. Pengiriman dan penerimaan informasi tidak dilakukan pada waktu yang sama.

Komunikasi yang dilakukan dalam waktu yang bersamaan (synchronous) dapat dilaksanakan melalui forum diskusi secara on-line. Diskusi semacam itu dilakukan menurut jadwal waktu yang disepakati. Dengan demikian pada waktu yang sama semua peserta diskusi akan membuka internetnya. Masing-masing akan dapat membaca informasi yang masuk dan pada waktu itu juga akan dapat memberikan tanggapan. Diskusi semacam ini akan sama menariknya dengan konferensi melalui audio atau video. Hanya biayanya relatif lebih murah.

- Komunikasi antara siswa dengan isi pelajaran. Siswa akan terbiasa untuk mempelajari sendiri bahan belajar yang disajikan secara on-line. Karena bahan belajar on-line itu biasanya disertai dengan tes mandiri, siswa akan dapat menguji kemajuan belajar dirinya sendiri. Bila siswa memerlukan pengayaan bahan belajar siswa juga dapat mencari sumber bacaan yang sesuai melalui internet. Hal tersebut akan mernbiasakan siswa mencari informasi dan sumber belajar sendiri, tidak menunggu diberikan oleh guru. Karena itulah proses pembelajaran on-line ini sering kali disebut juga resource based learning atau belajar berbasis sumber.

• Guru dapat mengontrol aktivitas belajar siswa melaiui internet. Guru akan dapat melihat kapan siswa belajar, topik apakah yang dipelajari, berapa lama ia mempelajarinya, berapa kalikah ia mempelajari ulang topik itu. Guru juga dapat melihat apakah siswa mengerjakan latihan soal setelah selesai mempelajari topik tertentu. Berapa banyak soal yang dapat dikerjakan dengan betul. Berapa sekornya dan sebagainya.

• Virtual learning dapat menyajikan pelajaran dengan cara yang menarik. Merrill dalam Reigeluth (1983) mengemukakan bahwa dalam mengajar ada empat langkah utama yang dilakukan guru (1) pemberian penjelasan, (2) pemberian contoh, (3) pemberian latihan (exercise), dan (4) pemberian umpan balik atau feedback yang berfungsi sebagai reinforcement.

Keempat langkah ini dapat diterapkan dengan mudah dalam penyajian pelajaran melalui internet. Dalam memberikan penjelasan dan contoh, internet dapat menggunakan gambar, diagram, chart, suara, dan juga gerakan. Kalau dalam memberikan penjelasan digunakan, kata, atau istilah, atau konsep yang umum dikenal oleh siswa, siswa dapat meng-klik kata, istilah, atau konsep itu dan akan muncul paparan yang dengan mudah dapat dipelajari siswa. Setelah mempelajari paparan itu siswa akan dengan mudah kembali ke pelajaran semula. Dengan cara ini interaksi antara siswa dan bahan belajar dapat berlangsung secara aktif.

Pada saat siswa mengerjakan latihan, siswa akan segera mengetahui apakah jawaban yang diberikan betul atau salah. Karena program on-line akan segera memberikan umpan baliknya. Dengan demikian siswa akan gembira mendapatkan umpan balik itu dan akan termotivasi untuk belajar lebih lanjut.


MENCIPTAKAN KELAS VIRTUAL
(VIRTUAL CLASSROOM)
Porter (1997) menyarankan, kalau kita akan menciptakan kelas virtual kita harus mempertimbangkan berbagai hal supaya kelas virtual tersebut dapat menjadi wahana proses belajar yang efektif
• Kelas virtual tersebut harus dilengkapi dengan sumber belajar yang pada saat diperlukan siswa telah tersedia dan mudah diakses. Andaikan sumber belajar itu tidak dapat disediakan, penyelenggara kelas virtual tersebut harus dapat menunjukkan di mana sumber belajar itu dapat dicari. Kelas virtual itu harus dilengkapi dengan peralatan (tool) yang dapat digunakan untuk mencari dan mengirimkan pesan kepada guru atau sesama siswa. Sebagai contoh, bila siswa ingin mempelajari buku atau dokumen tertentu yang berkaitan dengan pelajaran yang sedang dipelajari, bahan belajar tersebut harus dapat diakses secara on-line. Bila tidak tersedia, setidak tidaknya alat yang tersedia dapat digunakan untuk mencarinya di sumber data yang lain.

Kelas virtual seringkali juga menggunakan alat komunikasi lain selain internet, seperti fax, telepon, konferensi audio dan konferensi video.

• Kelas virtual tersebat harus dapat memberikan harapan kepada siswa untuk terjadinya proses belajar dan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk belajar. Hal tersebut antara lain dapat diwujudkan dengan merumuskan tujuan pembelajaran yang jelas dan spesifik, menyusun bahan belajar yang baik dan berkualitas tinggi, dan memfasilitasi terjadinya komunikasi timbal balik antara siswa dan guru.

• Kelas tersebut harus dapat menyatukan siswa dan guru supaya mereka bersikap terbuka untuk berbagi informasi dan bertukar gagasan. Mungkin siswa dan guru dalam kelas virtual tidak pemah berjumpa satu dengan lainnya, tetapi kalau mereka sering berdialog jarak komunikasi dan jarak psikologisnya (jarak transaksinya) menjadi kecil. Dalam situasi seperti ini kemungkinan terjadinya kesalahan dalam menafsirkan isi pelajaran juga kecil.

• Kelas virtual harus menyediakan ruang untuk percobaan dan penerapan. Dalam sistem konvensional siswa sering diberi kesempatan melakukan percobaan, menghadapi workshop, melakukan demonstrasi mengenai hasil pelaksanaan tugas-tugas akademik, dan melakukan penyajian untuk mengungkapkan gagasan.

Kelas virtual juga perlu dirancang supaya siswa dapat berbagi (share) hasil karya dan bertukar pengalaman dalam menerapkan pengetahuan yang telah diperolehnya. Misalnya konferensi jarak jauh atau desktop video conference dapat digunakan untuk ceramah atau penyajian. Dapat juga dilakukan simulasi secara on-line mengenai penerapan pengetahuan tentang prosedur melakukan sesuatu yang baru dipelajari. Simulasi seperti ini harus dirancang untuk dapat memperoleh umpan balik, sehingga dapat diketahui apakah penerapan pengetahuan yang disimulasikan tersebut benar atau salah.

• Kelas virtual juga harus dapat memberikan penilaian terhadap kinerja siswa. Dalam sistem pembelajaran ini harus dimasukkan evaluasi kemajuan belajar siswa yang dapat dikerjakan secara on-line. Guru dapat memeriksa dan memberikan penilaian secara on-line juga. Pekerjaan siswa dan nilainya hanya dapat dilihat oleh siswa dan gurunya saja. Siswa lain tidak dapat mengetahui hasil tes tersebut. Dengan perkataan lain kerahasiaan hasil tes itu terjaga dengan baik.

Kelas virtual ini juga dapat memberikan tugas perorangan kepada setiap siswa melalui e-mail. Pekerjaan siswa yang dikirimkan kepada guru melalui e-mail diperiksa oleh guru, diberi komentar, dan diberi nilai. Komentar dan nilainya dikirimkan ke siswa melalui e-mail.

• Kelas virtual harus dapat menjadi wahana kebebasan akademik. Siswa itu perlu memperoleh kebebasan dalam melakukan percobaan, dalam membuat asumsi, dalam berinteraksi dengan siswa lain tanpa harus merasa takut dan cemas. Kelas yang efektif merupakan wahana bagi siswa untuk mengekspresikan diri dengan cara yang tepat, wahana untuk menempuh resiko sehingga dapat belajar lebih banyak, wahana berbagi gagasan, dan wahana melontarkan pertanyaan tanpa rasa takut.


KELEMAHAN KELAS VIRTUAL
Kelas virtual diciptakan dengan bantuan media internet. Ungkapan yang mengatakan bahwa “tidak ada media terbaik” kiranya berlaku juga bagi media internet. Media ini baik kalau digtmakan untuk tujuan yang tepat dalam situasi yang tepat juga. Ada beberapa kelemahan yang perlu dikemukakan dalam paper ini.
• Penggunaan intemet memerlukan infrastuktur yang memadai
Internet dapat dioperasikan kalau ada jaringan listrik dan ada jaringan telepon. Tempat-tempat yang belum mempunyai jaringan listrik dan telepon tidak dapat menggunakan internet. Karena itu banyak tempat di Indonesia yang belum dapat menggunakan internet.

• Penggunaan internet mahal
Untuk dapat menggunakan internet orang harus mempunyai komputer yang dilengkapi dengan modem, tenaga listrik, fasilitas telepon, dan terhubung dengan internet provider yang dapat diperoleh melalui langganan. Harga komputer dan modemnya mahal tetapi membeli sekali dapat dipakai dalam waktu yang lama.

Sedangkan biaya penggunaan saluran telepon, tenaga listrik dan langganan provider internet harus dibayar setiap bulan. Biaya ini untuk banyak orang seringkali tidak terpenuhi.

• Komunikasi melalui internet sering kali lamban
Arus komunikasi melalui internet sering kaki berjalan lamban. Lebih-lebih kalau informasi itu mengandung gambar, chart, bagan, gambar bergerak, suara dan sebagainya. Lambatnya arus informasi ini dapat menyebabkan proses belajar menjadi membosankan.


APAKAH KELAS VIRTUAL DIPERLUKAN
DI INDONESIA?
Pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Untuk menjawabnya memerlukan pemikiran dan analisis yang mendalam dengan mempertimbangkan berbagai faktor. Kalau melihat kondisi infrastruktur dan kondisi perekonomian di Indonesia terutama di daerah pedesaan kelas virtual ini mungkin memang belum waktunya dikembangkan dan digunakan. Namun kalau kita melihat potensi yang dimiliki oleh kelas virtual sebagai suatu sistem pembelajaran rasanya salah kalau kita tidak menggali potensi itu dan memanfaatkannya sesuai dengan kondisi di Indonesia.

Demi rasa keadilan dan pemerataan kesempatan belajar kita memang perlu mengutamakan pengembangan sistem pembelajaran yang sesuai untuk daerah-daerah pedesaan dan daerah terpencil. Namun kalau Indonesia tidak ingin tertinggal dalam penggunaan teknologi umtik memajakan sistem pendidikan, kita harus juga memikirkan cara penggunaan teknologi itu sesuai dengan kondisi di Indonesia.

Kelas virtual mungkin dapat dikembangkan dan digunakan untuk meningkatkan efektivitas proses pembelajaran di daerah perkotaan yang infrastruktur dan kondisi perekonomian warganya dapat mendukung pelaksanaan kelas virtual itu.


PENUTUP
Sungguhpun mempunyai berbagai kelemahan, sistem PJJ yang digunakan untuk mengatasi problema pendidikan di Indonesia selama ini ternyata cukup efektif. Sistem ini perlu terus dikembangkan dan digunakan terutama untuk melayani kebutuhan pendidikan di daerah pedesaan dan daerah perkotaan.

Kelas virtual yang mempunyai potensi yang tinggi untuk meningkatkan efektititas proses pembelajaran dalam sistem PJJ, ternyata memerlukan infrastruktur dan biaya yang mahal untuk melaksanakannya. Karena itu mungkin pada saat ini biaya dapat dikembangkan untuk daerah perkotaan saja. Supaya sistem pendidikan kita dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi barat dalam bidang pendidikan, pengembangan dan penggunaan kelas virtual ini merupakan kebutuhan pengembangan pendidikan yang tidak dapat kita abaikan.


REFERENSI
Alatas, Abubakar (2002) Virtual Campus: a Project Proposal. Jakarta: SEAMOLEC
Bullen Mark (2001) E-Learning and Internationalisation of Education, Malaysian Journal of Educational Technology. Volume 1, Number l, June 2001.Penang : META.
Buck, Martin (2000) Introduction to Web Course College.
Haryono, Anung (2000) Self Learning: The Concept and its Application in ODL. Jakarta : SEAMOLEC
Moore, Michael (1983) A Theory of Apartness and Autonomy dalam Keegan, Desmond Six Distance Education Theorist. ZIFF : Hagen
Moore, Michael G and Kearsley, Greg (1996) Distance Education: A System View. Belmond : Wadworth Publishing Company
Porter, Lyhhette (1997) Virtual Classroom, Distance Learning with the Internet. New York : John Wiley and Sons,Inc.
Regeluth, Charles M (1963) Instructional Design Theories and Models:An Overview of their Current Status. London: Lawrence Erlabaum Associates, Publisher
Suryo, Roy (2001) Information Technology and Communication Technology for Open And Distance Learning. Jakarta : Pustekkom-SEAMOLEC.

 
 

ke atas

 
ke daftar isi
 

 

 

 

 

 

 

 
     
 

PEMANFAATAN TEKNOLOGI DALAM EVALUASI HASIL BELAJAR PENDIDIKAN TERBUKA JARAK JAUH (PTJJ) *)
Oleh: Suci M. Isman dan K.A. Puspitasari **)

Abstrak
Tulisan ini membahas pemanfaatan teknologi dalam pelaksanaan Evaluasi Hasil Belajar (EHB) Pendidikan Terbuka Jarak Jauh (PTJJ) dengan mengambil kasus Universitas Terbuka (UT) sebagai contoh. Di dalam system PTJJ, EHB merupakan muara dari proses pembelajaran, hasil EHB sering kali menjadi tolok ukur terpenting dalam menilai keberhasilan belajar mahasiswa. Ada serangkaian kegiatan yang dilakukan dalam pelaksanaan EHB, yaitu mencakup; pengembangan soal ujian, penyiapan bahan ujian, penyelenggaraan ujian, pemrosesan hasil ujian, serta pelaporan hasil ujian. Teknologi yang digunakan untuk menunjang kegiatan tersebut saat ini masih terbatas pada scanner dan LAN (local area network). Pemanfaatan teknologi ini sangat membantu dalam pemrosesan hasil ujian serta proses pengkomunikasian hasil ujian. Selanjutnya disarankan agar dilakukan perubahan sistem, bukan sekedar perubahan perangkan keras dan lunak, namun perlu juga perubahan pada struktur organisasi PTJJ.


PENDAHULUAN
Sistem Pendidikan Terbuka Jarak Jauh (PTJJ) sebenarnya mempunyai aktivitas utama yang tidak berbeda dengan sistem pendidikan tatap muka, yaitu terdiri dari aktivitas mengajar dan aktivitas belajar (Belawati, 2000). Namun, karena adanya keterpisahan pelaksanaan kegiatan mengajar dan kegiatan belajar pada sistem PTJJ; pengelolaan kedua aktivitas tersebut berbeda dengan pengelolaan kegiatan belajar mengajar pada sistem pendidikan konvensional (Gambar 1).

Gambar 1.
Aktivitas mengajar dan belajar pada sistem PTJJ (Belawati,2000)

Dari gambar di atas terlihat bahwa Evaluasi Hasil Belajar (EHB) merupakan komponen penting dalam kegiatan mengajar dan belajar. Tanpa EHB sulit untuk mengukur kemajuan dan keberhasilan belajar mahasiswa. Peran EHB semakin menonjol dalam sistem PTJJ, di mana interaksi fisik antara pengajar dan mahasiswa sangat kurang dibandingkan dengan interaksi antar mahasiswa dan pengajar dalam sistem pendidikan konvensional. Dalam sistem pendidikan konvensional, EHB umumnya didasarkan pada dua elemen penting, yaitu kehadiran/keterlibatan mahasiswa dalam proses belajar di kelas dan ujian. Di dalam sistem PTJJ (Gambar 2) di Universitas Terbuka (UT) khususnya, EHB merupakan muara dari proses pernbelajaran yang terjadi. Oleh karena itu hasil ujian sering kali merupakan tolok ukur terpenting dalam menilai keberhasilan mahasiswa. Kualitas ujian yang diselenggarakan sangat menentukan penilaian tentang keherhasilan belajar dan kualitas bahan ajar.

Kuatnya tuntutan dari kebutuhan masyarakat akan pendidikan lanjutan yang berkualitas tercermin dari dikeluarkannya Peraturan Pemerintah yang mengatur tentang penyelenggaraan PTJJ, yang membuka peluang bagi institusi selain UT untuk ikut berpartisipasi dalam PTJJ. Kompetensi yang terjadi antar penyelenggara PTJJ ini akan menjadi pemicu bagi setiap institusi untuk selalu meningkatkan layanan yang diberikan. Penyelenggaraan PTJJ harus dilakukan secara lebih efektif dan efisien disesuaikan dengan permintaan pasar. Hal ini akan dapat dilakukan jika penyelenggara PTJJ seperti UT memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin canggih. Makalah ini akan membahas tentang evaluasi hasil belajar (EHB) sebagai salah satu komponen dalam sistem PTJJ dan pemanfaatan teknologi dalam EHB dengan menggunakan kasus UT sebagai contoh.

Gambar 2.
Komponen dalam sistem PTJJ


EVALUASI HASIL BELAJAR (EHB)
Evaluasi hasil belajar mahasiswa mempunyai beberapa tujuan. Sebagai institusi penyelenggara PTJJ, UT melaksanakan EHB untuk memotivasi mahasiswa agar mereka belajar lewat Tugas Mandiri (TM), untuk mengukur ketercapaian tujuan matakuliah lewat ujian akhir semester (UAS), dan untuk mengetahui ketercapaian tujuan program melalui ujian kemprehensif tertulis (UKT). Agar tujuan EHB tersebut dapat tercapai dan hasilnya dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa untuk memperbaiki cara belajar mereka dan oleh UT untuk memperbaiki penyelenggaraan PTJJ-nya, maka semua kegiatan yang terkait dengan komponen EHB harus dilakukan dengam baik. Sebelum membahas mengenai pemanfaatan teknologi dalam komponen evaluasi ini, akan dibahas secara lebih rinci setiap kegiatan yang ada dalam komponen evaluasi ini.
• Pengembangan Soal Ujian
Pengembangan soal ujian ini meliputi tiga kegiatan yaitu, analisis kompetensi, pengembangan kisi-kisi, dan pengembangan soal.
1. Analisis Kompetensi
Analisis kompetensi merupakan kegiatan menentukan kemampuan dan keterampilan (kompetensi) yang akan dibelajarkan kepada mahasiswa dalam sebuah program atau matakuliah. Hal ini dilakukan pada saat sebuah program/matakuliah dirancang. Berdasarkan kompetensi tersebut kemudian diturunkan tujuan-tujuan instruksional yang harus dicapai dalam sebuah matakuliah. Dengan dilakukannya analisis kompetensi ini, dimungkinkan penggunaan penilaian acuan patokan dalam evaluasi hasil belajar dengan menggunakan kompetensi sebagai kriteria yang harus dicapai oleh mahasiswa.

2. Pengembangan Kisi-kisi
Setelah menentukan tujuan instruksional yang akan dicapai maka tahapan selanjutnya dalam EHB adalah pengembangan kisi-kisi yang mencakup penulisan dan penelaahan kisi-kisi. Penulisan kisi-kisi ini merupakan upaya untuk merencanakan ujian dengan baik dengan memperhatikan tujuan ujian, kompetensi yang hendak diukur, dan sumber daya yang tersedia. Kisi-kisi atau test blueprint ini mencakup informasi yang diperlukan untuk menulis soal ujian. Untuk mengembangkan kisi-kisi yang mampu menghasilkan ujian yang mempunyai validitas isi diperlukan kerjasama yang baik antara pakar bidang ilmu dan ahli evaluasi. Sebagian besar dari kisi-kisi ujian UT dikembangkan dengan melakukan outsourcing ke perguruan tinggi (PT) lain untuk penulisan sedangkan penelaahan dilakukan oleh staf akademik UT yang sudah terlatih dalam EHB. Namun karena para penulis dan penelaah berada di lokasi yang berbeda maka kegiatan pengembangan kisi-kisi ini memerlukan proses yang agak lama. Oleh karena itu tidak terlalu mudah untuk mengakomodasi secara cepat perubahan yang terjadi dalam bahan ajar ke dalam kisi-kisi ujian.

3. Pengembangan Soal
Pengembangan soal ujian, seperti kisi-kisi, terdiri atas dua kegiatan yaitu, penulisan soal dan penelaahan soal. Soal yang berkualitas adalah soal yang mengikuti rambu-rambu penulisan soal yang baik sehingga dapat membedakan mahasiswa yang telah mencapai tujuan dan yang belum (Jacobs & Chase, 1992; Osterlind 1989; Zainul & Nasoetion, 2001). Untuk menghasilkan soal seperti ini diperlukan keterlibatan pakar bidang ilmu yang telah dibekali dengan keterampilan menulis soal. Sebagai institusi yang banyak memanfaatkan jaringan kerjasama, UT dalam menyediakan soal ujiannya juga mengikutsertakan dosen dari PT lainnya. Sebelum para pakar ini menulis soal biasanya mereka dibekali terlebih dahulu dengan pengetahuan dan keterampi}an untuk mengernbangkan soal jenis ujian tertentu. Oleh karena adanya jarak antara UT dan PT lainnya ini, pembekalan para penulis soal ini membutuhkan waktu dan sumber daya yang tidak sedikit. Soal ujian yang telah ditulis tidak bisa langsung digunakan, tapi harus melewati proses penelaahan yang juga memerlukan waktu dan sumber daya.

• Penyiapan Bahan Ujian
Penyiapan bahan ujian ini terdiri dari tiga kegiatan, pengetikan soal, penggandaan bahan ujian, dan pengiriman hahan ujian ke lokasi ujian.
1. Pengetikan Soal
Penyiapan bahan ujian diawali dengan pengetikan soal untuk dijadikan naskah ujian. Dengan jumlah matakuliah yang terus bertambah seiring dengan pembukaan program baru, maka jumlah naskah ujian yang harus disiapkan oleh UT juga bertambah untuk setiap masa ujian. institusi PTJJ seperti UT memerlukan sebuah unit tersendiri untuk menangani penyiapan bahan ujian ini. Penyiapan bahan ujian UT merupakan tugas yang diemban oleh Pusat Pengujian (Pusjian). Pengetikan soal melibatkan kerjasama antara para staf akademik sebagai perakit dan pemfinal naskah ujian dan para tenaga administratif sebagai pengetik soal. Soal ujian yang telah ditulis dan telaah kemudian dirakit menjadi set soal. Soal yang sudah berupa set ini kemudian diserahkan kepada pengetik untuk diketik, dilengkapi dengan petunjuk, serta di layout menjadi naskah ujian. Sebelum menjadi master naskah ujian yang siap digandakan diperlukan proses editing yang cukup menyita waktu. Dengan pertimbangan keamanan penyiapan bahan ujian ini dilakukan di sebuah gedung yang agak jauh terpisah dari gedung lainnya. Namun hal ini membuat proses pengetikan soal dan editing naskah ujian menjadi agak terhambat karena memerlukan penyediaan waktu khusus staf akademik untuk berkunjung ke gedung tersebut.

2. Penggandaan Bahan Ujian
Setelah master naskah ujian disiapkan maka selanjutnya bahan ini harus digandakan. Penggandaan ini dilakukan di kantor pusat UT untuk kemudian dikirim ke unit pembelajaran jarak jauh (UPBJJ) yang ada di daerah. Oleh karena jumlah mahasiswa peserta ujian bisa mencapai ratusan ribu per matakuliah sedangkan mesin cetak yang digunakan jumlahnya terbatas dan dengan kondisi yang sudah tidak prima lagi, maka proses penggandaan inipun cukup menyita waktu dan sumber daya.

3. Pengiriman Bahan Ujian
Bahan ujian yang sudah digandakan tadi kemudian ditata menurut matakuliah, jam, hari, dan lokasi ujiannya. Dengan jumlah naskah yang banyak dan tenaga yang terbatas, maka dalam penataan bahan ujian ini masih terjadi human error. Walaupun jumlah dan jenis kesalahan penataan ini selalu diupayakan untuk menurun, namun karena adanya jarak antara lokasi Ujian dan kantor UT setiap kesalahan akan berakibat terhadap kualitas penyelenggaraan ujian. Setelah penataan, bahan ujian tersebut siap untuk dikirim. Pengiriman dilakukan dengan ekspedisi darat untuk wilayah Sumatera (kecuali Bengkulu), Jawa, Bali, dan NTB. Sedangkan wilayah yang lain dikirim lewat udara sehingga beban pengiriman ini cukup menyita sumber daya UT.

• Penyelenggaraan Ujian
Penyelenggaraan ujian terdiri atas beberapa kegiatan, yaitu penyiapan bahan, ruang dan pengawas ujian; pelaksanaan ujian; dan pengiriman hasil ujian.
1. Penyiapan bahan, ruang dan pengawas ujian
Kegiatan penyelenggaraan ujian dimulai dengan penyiapan bahan ujian, ruang dan pengawas ujian. Bahan ujian terdiri dari naskah uj ian dan bahan pendukung ujian. Bahan pendukung ujian meliputi Lembar Jawaban Ujian (LJU) atau buku jawaban ujian (BJU), daftar hadir, daftar peserta ujian, dan berita acara pelaksanaan ujian. Sebelum pelaksanaan ujian, bahan ujian harus dicek terlebih dahulu, apakah naskah ujian yang diterima sesuai dengan yang akan diujikan, apakah jumlah naskah dan jumlah lembar jawaban sesuai dengan jumlah peserta ujian, dan apakah sudah tersedia format daftar hadir peserta ujian. Bahan Ujian lain yang harus disiapkan adalah pensil cadangan, penghapus, rautan, cassette player atau stop watch bila diperlukan. Dalam memeriksa kelengkapan bahan ujian panitia ujian perlu berpedoman pada check list bahan ujian agar tidak ada bahan ujian yang terlupa belum disiapkan. Untuk Ujian listening, kelayakan cassette player dan sound system harus diuji terlebih dahulu. Sebelum pelaksanaan ujian, bahan ujian harus disiapkan di tempat yang aman untuk mencegah terjadinya kebocoran ujian.

Ruang ujian perlu dipersiapkan sedemikian rupa sehingga terdapat cukup jarak di antara tempat duduk peserta ujian untuk menghindari kerjasama antar peserta ujian dalam mengerjakan ujian. Penomoran tempat duduk diperlukan agar peserta ujian tidak dapat memilih tempat duduk yang berdekatan dengan temannya. Dengan demikian, diharapkan ujian dapat terlaksana dengan aman dan tertib. Pemilihan ruang ujian didasarkan pada beberapa syarat, yaitu cukup terang, sirkulasi udara cukup dan kondisi ruang bersih sehingga peserta ujian merasa nyaman. Sedapat mungkin suasana di luar ruang ujian cukup tenang agar tidak rnengganggu konsentrasi peserta ujian. Kurangnya jarak antara peserta Ujian dan tidak nyamannya ruang ujian dapat mempengaruhi hasil ujian. Biasanya ruang ujian yang cukup ideal adalah ruang kelas, yang memang dirancang untuk kegiatan belajar.

Bila memungkinkan, sebaiknya dosenlah yang mengawasi ujian para siswanya. Hal ini akan menimbulkan rasa aman bagi siswa bila ada pertanyaan mengenai materi tes yang tidak jelas. Dosen juga dapat rnengamati secara langsung perilaku siswa pada saat menempuh ujian Pengawasan Ujian yang dilakukan oleh para dosen yang bersangkutan juga lebih menjamin keamanan ujian. Pada pendidikan jarak jauh (PJJ), umumnya tidak selalu memungkinkan bagi dosen untuk melakukan pengawasan ujian. Untuk itu, pengawasan ujian dilakukan oleh pengawas pengganti, yang diharapkan mempunyai kemampuan untuk menjaga keamanan dan ketertiban pelaksanaan ujian. Di UT, umumnya pengawas ujian adalah para guru, yang memang sudah terbiasa melakukan pengawasan ujian. Agar pengawas merasa ikut bertanggungjawab untuk menjamin ketertiban dan keamanan ujian, yang notabene bukan anak didiknya sendiri, ada baiknya dilaksanakan pengarahan pengawasan Ujian oleh sebelum pelaksanaan ujian.

2. Pelaksanaan ujian
Agar tidak terjadi keributan di luar ruang Ujian pada saat ujian berlangsung, perlu dipasang pengumuman di sekitar ruang ujian. Untuk menjaga ketertiban dan keamanan ujian, ada beberapa hal yang wajib dilakukan oleh pengawas ujian, yaitu antara lain: a) membacakan tata tertib ujian, b) menginformasikan waktu ujian, dan memberi tanda untuk memulai dan mengakhiri ujian.

Waktu ujian harus ditepati agar hasil ujian dapat dipertanggungjawabkan. Khusus untuk UT, hal ini juga dimaksudkan untuk menghindari kebocoran soal mengingat ujian dilaksanakan secara serentak di seluruh tempat ujian di Indonesia. Materi tes yang diujikan kepada seluruh siswa dibuat sama dengan tujuan untuk menyamakan standar pengukuran hasil belajar siswa di seluruh Indonesia. Untuk memastikan ketepatan waktu ujian, waktu ujian dimulai dan waktu ujian harus berakhir dicatat di papan tulis. Peserta ujian secara periodik perlu diberi informasi tentang sisa waktu ujian.

Selama ujian berlangsung; peserta Ujian harus diawasi dengan ketat. Pengawas berhak merrieeiksa identitas peserta ujian. Identitas yang meragukan maupun perbuatan peserta ujian atau kejadian yang dapat mempengaruhi hasil ujian perlu dilaporkan dalam Berita Acara Pelaksanaan Ujian. Misalnya, ada peserta ujian yang bekerja sama saat ujian, atau yang sibuk menerima telpon melalui handphonenya, atau yang membuka contekan. Pelanggaran ketertiban dan keamanan ujian akan menyebabkan hasil ujian kurang mencerminkan kemampuan belajar siswa yang sebenarnya. Uatuk itu sebaiknya dilakukan ujian ulang.

3. Pengiriman hasil ujian
Setelah pelaksanaan ujian selesai, hasil ujian dan daftar hadir dipak dan segera diberikan kepada dosen pemeriksa untuk menjaga keamanan hasil ujian. Di UT, setelah pelaksanaan ujian, LJU dan BJU, serta daftar hadir langsung dikirim ke UT pusat dari tempat-tempat ujian.

• Pemrosesan Hasil Ujian
Pemrosesan hasil ujian terdiri atas proses scoring dan grading. Scoring merupakan proses pemberian skor (nilai mentah) terhadap jawaban siswa. Umumnya skor diberikan oleh dosen yang bersangkutan. Kelebihan cara ini adalah dosen segera mengetahui materi-materi yang tidak dapat dijawab oleh siswa dengan benar, sehingga dapat segera memberikan umpan balik. Bila scoring dilakukan oleh orang lain, diperlukan pedoman penskoran yang valid (terutama untuk soal uraian), dan scoring harus dilakukan oleh orang yang menguasai materi ujian serta sudah terlatih melakukan penskoran. Scoring dapat dilakukan oleh orang yang tidak menguasai materi ujian, meskipun tetap harus dilakukan oleh orang yang terlatih dan mengacu kepada penskoran yang ada. Ketelitian tetap diperlukan, terutama dalam menggunakan pedoman penskoran dan menghitung jawaban benar. Sedangkan scoring untuk ujian objektif juga dapat dilakukan secara dengan bantuan komputer. Grading merupakan proses konversi dari nilai mentah (skor) menjadi nilai huruf (grade). Nilai huruf yang umum digunakan adalah A, B; C, D, E atau F. Proses grading dapat dibedakan menjadi dua, yaitu yang berdasarkan penilaian acuan norma (PAN) atau berdasarkan penilaian acuan patokan (PAP). Ada juga instansi pendidikan yang memilih menggunakan istilah Lulus (L) dan tidak Lulus (TI).

• Pelaporan Nilai
Setiap institusi pendidikan wajib memberikan laporan nilai kepada siswanya. laporan nilai wa jib diberikan agar siswa mempunyai catatan kemajuan belajarnya sendiri, sehinga dapat digunakan untuk melakukan rencana studi selanjutnya. Pada tingkat perguruan tinggi, laporan nilai umumnya diberikan dalam bentuk kartu hasil studi, daftar nilai ujian atau transkrip. Laporan nilai dapat juga diberikan kepada orang tua atau instansi pemberi beasiswa yang memberikan biaya belajar kepada siswa.

Kegiatan pelaporan nilai terdiri dari dua kegiatan, yaitu pencetakan dan pengumuman hasil ujian. Pencetakan hasil ujian atau pencetakan nilai merupakan akhir dari proses penilaian. Pengumuman hasil ujian dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, seperti dipasang di papan pengumuman, diberikan langsung kepada siswa, atau dikirimkan melalui jasa pos.


PEMANFAATAN TEKN0LOGI DALAM EHB
Berbicara mengenai masa depan evaluasi hasil belajar PTJJ tidak bisa terlepas dari pembahasan mengenai teknologi. Agar dapat menyelenggarakan EHB yang efektif dan efisien maka UT sebagai institusi PTJJ harus memanfaatkan teknologi yang tepat guna. Teknologi yang digunakan sekarang ini untuk menunjang pelaksanaan EHB di UT masih terbatas pada penggunaan scanner dan LAN, Berikut akan dibahas teknologi yang tersedia dan yang mungkin dimanfaatkan untuk setiap kegiatan EHB di UT.
• Pengembangan Soal Ujian
Pengembangan soal ujian di UT masih dilakukan secara konvensional dimana dilakukan pelatihan pembekalan keterampilan penulisan kisi-kisi dan soal bagi para penulis secara tatap muka. Kegiatan pembekalan ini memerlukan waktu dan sumber dana yang tidak sedikit terutama jika dilakukan di tempat yang tersebar dan lokasinya jauh dari kantor UT pusat. Setelah kisi-kisi dan soal selesai ditulis maka perlu dilakukan penjemputan bahan ujian tadi ke tempat para penulis. Sistem pengembangan soal seperti ini menyebabkan institusi PTJJ seperti UT tidak mudah untuk memperbaharui bahan ajarnya karena akan berdampak kepada ujian yang memerlukan waktu pengembangan yang cukup lama. Agar kegiatan pengembangan ini menjadi lebih singkat dan tidak menyita sumber daya yang terlalu banyak, bisa dimanfaatkan teknologi yang sederhana seperti penggunaan video untuk pembekalan para penulis soal. Teknologi jaringan juga dapat dimanfaatkara dimana para penulis dapat mengakses website seperti PAU-Online yang salah satu materi pelatihan adalah membuat soal ujian. Para penulis dan penelaah pun dapat saling berkomunikasi dengan menggunakan fasilitas chatting di internet. Jika suatu saat nanti infrastuktur jaringan yang ada di UT memadai, maka dapat dibuat sistem pengembangan soal secara remote, di mana para penulis soal dapat mengakses fasilitas jaringan yang memungkinkan mereka menulis soal secara on-line. Tentu harus dipikirkan bagaimana menjaga keamanan sehingga tidak bisa ditembus oleh pihak yang tidak berkepentingan.

• Penyiapan Bahan Ujian
Penyiapan bahan ujian di UT memanfaatan teknologi LAN yang tersedia di Pusjian. Dengan satu server dan lebih kurang sepuluh terminal serta tiga printer laser, UT mempersiapkan bahan ujian untuk ribuan mahasiswa setiap semester. Oleh karena sistem pendidikan yang terbuka, rnaka UT harus rnenyiapkan naskah ujian untuk semua matakuliah yang ada. Dengan teknologi yang ada sekarang maka proses pengetikan, editing, dan penggadaan bahan ujian ini memerlukan waktu kurang lebih tiga bulan. Kegiatan ini cukup menyita waktu staf UT sehingga upaya peningkatan kualitas komponen yang lain seperti bahan ajar dan layanan bantuan belajar menjadi agak lambat. Untuk mengatasi hal ini maka perlu dimanfaatkan teknologi komputer dalam membuat dan mengelola bahan ujian (Boekkooi-Timingga, 1989) yang dikenal sebagai Bank Soal Terkomputersasi. Pengelolaan soal ujian melalui Bank Soal ini menuntut tersedianya kumpulan soal yang sudah teruji kualitasnya. Sejak tahun 2000, UT telah mengembangkan sistem Bank Soal yang mencakup prosedur penyimpanan soal, pengkalibrasian soal, dan perakitan naskah ujian (lihat lampiran 1 dan 2). Di beberapa institusi lain seperti CITO di Belanda, sistem Bank Soalnya mencakup sampai proses pengadministsasian; penilaian; bahkan pelaporan nilai ujian (Van Theil & Zwarts, 1985). Bank Soal UT menggunakan teknologi LAN dengan satu server dan 20 terminal, didukung oleh empat printer dan dua scanner (pada saat operasional 2005). Dengan adanya Bank Soal ini penyiapan bahan ujian setiap semester dapat dilakukan dalam waktu yang relatif cepat. Keamanan soal juga lebih baik karena akses kepada Bank Soal dibatasi dan beberapa naskah ujian paralel dapat dihasilkan sehingga akan dimungkinkan untuk memberikan soal ujian yang berbeda namun setara dalarn satu lokasi ujian.

Penggandaan bahan ujian masih mengandalkan teknologi mesin cetak yang masih sederhana. Sekarang UT sedang mempertimbangkan kemungkinan pengiriman master naskah ujian lewat teknologi jaringan sehingga penggandaan naskah menjadi tanggung jawab UPBJJ di di daerah. Dengan demikian dapat dikurangi waktu dan tenaga yang dibutuhkan untuk penggandaan naskah ujian ini di UT Pusat.

• Pelaksanaan Ujian
Pelaksanaan ujian UT masih dilakukan dengan paper and pencil di lokasi yang telah ditentukan secara tatap muka, sama seperti yang dilakukan oleh institusi pendidikan konvensional. Dengan sistem yang seperti ini prinsip keterbukaan dari PTJJ agak dibatasi karena mahasiswa harus mengikuti jadwal ujian. Semua peserta ujian juga diberikan soal yang sama tanpa memperhatikan tingkat kemampuan mereka, di suatu lokasi tertentu, dan waktu yang sama. Berbagai bentuk pelanggaran ujian terjadi sebagai akibat dari kurangnya pengawasan dan soal yang seragam ini. Untuk itu perlu dipikirkan pemanfaatan teknologi yang dapat mengurangi peluang terjadinya distorsi nilai, dan meningkatkan kualitas ujian. Dengan perkembangan dalam teori pengukuran dan evaluasi serta perkembangan teknologi informasi dan komunikasi maka dimungkinkan untuk menyelenggarakan ujian dengan komputer yang dikenal dengan istilah computer-based testing (CBT). Ada dua macam CBT, yaitu linear test dan adaptive test. Linear CBT terdiri atas seperangkat soal, dari yang termudah sampai yang tersukar. tanpa memperhatikan kemampuan peserta tes. Sedangkan adaptive adalah tes di mana komputer mampu memberikan soal-soal yang sesuai dengan tingkat kemampuan peserta tes. Soal-soal dipilih dari sejumlah besar soal (item pool) yang dikategorisasikan sesuai materi dan tingkat kesukarannya. Oleh karena itu, jumlah soal dalam CBT biasanya lebih sedikit dari pada tes linear, tetapi cukup dapat memberikan informasi kepada institusi dan peserta tes. Soal yang diperlukan pada adaptive CBT lebih sedikit karena komputer dapat memilihkan soal-soal yang tingkat kesukarannya sesuai tingkat kemampuan peserta tes, berdasarkan jawaban-jawaban terhadap soal sebelumnya. Artinya peserta tes mendapatkan lebih sedikit soal yang tidak terlalu mudah ataupun terlalu sukar. Dengan demikian, tes diharapkan cukup menantang untuk setiap individu.

Adaptive CBT atau computerized aduptive testing (CAT) dirancang untuk setiap individu peserta tes (Wiener, 1990). Peserta tes akan diberi satu set soal yang memenuhi spesifikasi rancangan tes (kisi-kisi) dan biasanya sesuai dengan tingkat kemampuan setiap individu. Tes dimulai dengan soal-soal yang tidak terlalu sukar. Setiap peserta tes menjawab soal,-komputer akao memberikan skor. Jawaban terhadap soal tersebut akan menentukan soal yang akan ditampilkan oleh komputer selanjutnya. Setiap menjawab soal dengan benar, peserta tes akan diberi soal yang lebih sukar. Sebaliknya, bila menjawab salah, komputer akan memilihkan soal yang febih mudah. Urutan soal disajikan tergantung pada jawaban terhadap soal-soal sebetutnnya dan pada kisi-kisi tes. Dengan kata lain, komputer diprogram untuk memberikan soal yang sesuai dengan kisi-kisi tes, sekaligus secara terus menerus mencari soal-soal yang tingkat kesulitannya sesuai dengan tingkat kemampuan peserta ujian. Dalam hal ini peserta ujian harus menjawab semua soal. Keuntungannya, pada setiap layar hanya ditampilkan satu butir soal, sehingga peserta tes dapat berkonsentrasi untuk menjawab soal tersebut. Setelah menjawab soal, peserta ujian tidak akan dapat mengulang soal-soal sebelumnya dan mengganti jawabannya.

Salah satu contoh institusi penyelenggara ujian yang telah memanfaatkan teknologi komputer adalah ETS (ETS, 2002) yang telah menyediakan ujian seperti ini untuk TOEFL, GRE dan GMAT. Peserta ujian yang tersebar di seluruh dunia dapat mengikuti ujian ini lewat teknologi jaringan.

UT dengan adanya sistem bank soal terkomputerisasi sedang menjajaki penerapan tes online yang bersifat adaptive test (tes adaptif). Untuk mendukung aplikasi tes online diperlukan infrastruktur yang mapan di tempat-tempat ujian, termasuk penyusunan rambu-rambu pengawasan ujian. Tes adaptif mempunyai beberapa kelebihan, antara lain:
• Tes dapat diadministrasikan pada saat siswa merasa siap menempuh ujian;
• Tes dapat dilaksanakan sepanjang tahun di banyak lokasi sekaligus;
• Tes dilaksanakan di tempat ujian yang nyaman, yang privasinya lebih terjaga, dan diletagkapi komputer;
• Peserta tes lebih sedikit dalam satu kesempatan;
• Skor sementara (Unofficial scores) langsung ditampilkan setelah tes berakhir, kecuali untuk tes uraian;
• Nilai resmi (official scores) dapat diumumkan secara lebih cepat;
• Tes dapat disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa;
• Soal yang dibutuhkan lebih sedikit; dan
• Keamanan tes dapat ditingkatkan.

• Pemrosesan Hasil Ujian
Proses penilaian (scoring) dengan menggunakan teknologi elektronik sudah banyak digunakan di dunia pendidikan. Untuk itu diperlukan mesin scanner dan lembar jawaban ujian (LJU), yang khusus didesain untuk scanner tersebut. Peserta ujian menjawab ujian dengan cara menghitamkan huruf-huruf atau kode-kode yang tersedia dalam LJU, dengan menggunakan pensil khusus. Setelah mesin scanner membaca LJU, kumputer secara otomatis akan melakukan scoring dan grading. Untuk tes adaptif, proses scoring merupakan bagian dari rancangan tes (ETS, 2002). Peserta tes secara otomatis akan mengetahui skor yang telah diperolehnya. Skor yang diberikan tergantung pada jumlah soal yang dijawab dan jawaban terhadap soal yang diberikan. Soal yang diberikan oleh kumputer akan mencerminkan keberhasilan dalam menjawab soal sebelumnya dari kisi-kisi tes. Kisi-kisi tes meliputi:
• tingkat kesulitan soal yang diberikan;
• tipe soal yang diberikan; dan
• cakupan materi tes yang sesuai.

Soal yang pertama diberikan merupakan soal yang tidak terlalu sulit. Benar tidaknya jawaban terhadap soal tersebut dan soal-soal berikutnya menentukan apakah selanjutnya peserta tes akan diberi soal-soal yang lebih mudah atau lebih sukar. Dengan demikian, peserta tes akan rnendapatkan skor-skor yang mencerminkan kebenaran jawaban terhadap setiap soal dan tingkat kesulitan setiap soal.

Bila ada dua peserta tes yang mempunyai jumlah jawaban benar yang sama, peserta tes yang merrjawab soal-soal yang lebih sulit akan mendapatkan skor yang lebih tinggi. Demikian juga, bila ada dua peserta tes mendapatkan dua set soal yang tingkat kesulitannya sama, peserta tes yang lebih cepat menjawab dan mempunyai jumlah jawaban soal benar lebih banyak akan mendapatkan skor yang lebih tinggi.

Pemrosesan hasil ujian di UT sebagian besar dilakukan dengan menggunakan komputer. Penggunaan komputer dalam proses penilaian diharapkan dapat memberikan hasil yang lebih akurat secepat dan seekonomis mungkin, mengingat jumlah siswa UT yang mencapai puluhan ribu.

Setelah sampai di Pusat Pengujian, amplop hasil ujian diberi nomor batch (proses batching). Nomor batch tercatat dalam komputer. Penomoran hasil ujian ini berrnanfaat untuk mencari LJU secara mudah dan cepat bila dibutuhkan. LJU di-.scan dengan menggunakan optical .scanner. Setelah semua LJU di-scan, hasil scanning diload di komputer. Karena masih banyak siswa yang melakukan kesalahan dalam menghitamkan identitas pada LJU (nama, NIM, kode mata kuliah, tanggal lahir, kode naskah) maka Pusat Pengujian melakukan editing, Kegiatan ini bertujuan untuk memisahkan data siswa yang salah ke suatu file pada komputer, yang disebut file jawaban salah. Selanjutnya dilakukan proses updating, yaitu memperbaiki data identitas yang salah, sesuai data pribadi dan data registrasi siswa yang tersimpan pada komputer. Kemudian dilakukan proses scoring untuk menghitung jumlah jawaban benar dari setiap siswa. untuk ujian uraian, pemberian skor dilakukan oleh staf akadernik di fakultas. Setelah skor setiap siswa diterima dari fakultas Pusat Pengujian melakukan key-in skor ke dalam komputer laporan hasil key-in skor akan diperiksa lagi oleh fakultas untuk keperluan verifikasi nilai.

Setelah proses scoring (baik untuk ujian objektif maupun ujian uraian), sebaran nilai huruf (grade) dicetak dalam beberapa kategori kelulusan, yang disebut laporan pragmade. Fakultas akan menentukan kategori kelulusan. Penentuan kategori kelulusan dilakukan untuk seluruh siswa, tanpa membedakan status demograti siswa. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa proses penilaian siswa UT sangat terstandar. Proses selanjutnya adalah melakukan grading atau proses penilaian (dengan bantuan komputer) berdasarkan kategori kelulusan yang ditentukan oleh fakultas.

Proses grading diikuti oleh proses verifikasi nilai, untuk memastikan bahwa tidak ada kesalahan penilaian. Kemudian dilakukan pencetakan daftar nilai ujian (DNU), yang merupakan akhir dari proses pengolahan hasil ujian.

Perlu juga dijajaki penggunaan komputer dalam pemeriksaan ujian uraian karena sudah tersedia berbagai software yang dapat membaca tulisan tangan. Jika hal ini dawat dilakukan maka proses penilaian akan semakin cepat lagi karena yang sering menyebabkan nilai tertunda adalah pemeriksaan uraian yang terlambat.

• Pelaporan Nilai
Di UT, laporan nilai per semester diberikan dalam bentuk daftar nilai ujian (DNU). Sedangkan laporan nilai keseluruhan selama siswa belum lulus disebut laporan Kemjuan Akademik Siswa (LKAM). DNU dicetak dengan menggunakan komputer, yang dapat dilakukan di Kantor UT Pusat maupun di setiap UPBJJ- Pencetakan DNU dapat diprograrn untuk setiap UPBJJ, setiap Program Studi, maupun setiap siswa. Bila diprograrn untuk satu UPBJJ, maka DNU untuk seluruh siswa di UPBJJ tersebut yang mengikuti ujian pada semester yang bersangkutan akan tercetak. DNU dikirimkan ke setiap siswa melalui jasa pos.

Selain melalui DNU, siswa juga dapat melihat nilai per semester melalui peragaan nilai ujian di website UT (http://www.ut.ac.id). Peragaan nilai ujian di komputer juga tersedia melalui jaringan Student Record System di UT Pusat dan di UPBJJ untuk keperluan konsultasi siswa.

LKAM juga dicetak menggunakan komputer- Pencetakan LKAM dilakukan dengan menuliskan nomor induk siswa (NIM) pada komputer, dan secara otomatis semua data nilai yang pernah diperoleh di UT akan tercetak. Pencetakan dan peragaan LKAM baru tersedia di UT Pusat.


PENUTUP
Perubahan teknologi merupakan proses yang memerlukan waktu dan dana yang tidak sedikit. Untuk mendapatkan manfaat yang optimal dari sebuah teknologi baru bukan saja harus dipikirkan ketepatan teknologi yang dipilih juga kesiapan orang yang akan mengelola teknologi tersebut. Dengan menyadari bahwa sistem PTJJ tidak mudah diubah karena dampaknya luas, maka perubahan terhadap sistem yang ada hendaknya memang dipersiapkan dengan matang dan terencana. Transisi antara kedua sistem yang akan berubah ini juga harus dipikirkan dengan baik. Sistem yang dimaksud disini bukan saja mencakup perangkat keras maupun lunak tapi termasuk juga struktur organisasi yang menunjang pelaksanaan evaluasi PTJJ di UT.

Makalah ini telah membahas pemanfaatan teknologi dalam pelaksanaan evaluasi hasil belajar mahasiswa PTJJ dengan mengambil contoh yang dilakukan di Universitas Terbuka. EHB itu walaupun merupakan salah satu ujung tombak dari PTJJ, namun tidak bisa berdiri sendiri. Kualitas EHB juga dipengaruhi oleh kualitas dua komponen PTJJ yang lain, bahan ajar dan layanan bantuan belajar. Semoga makalah ini dapat menjadi pemicu pemikiran kearah penyelenggaraan EHB yang lebih baik melui pemanfaatan teknologi bagi orang-orang yang terlibat atau yang akan terlibat dalam penyelenggaraan PTJJ.


DAFTAR PUSTAKA
Belawati, T. (200Q). Prinsip-prinsip pengelolaan sistem PTJJ. Makalah dibawakan dalarn Seminar Sistem Pendidikan Tinggi Terbuka Jarak Jauh, Universitas Terbuka, 25 Januari 2000.
Boekkooi-Timinga, E. (1989). Models,for Computerized Test Construction. Academisch Boeken Centrum: De Lier.
Educational Testing Services. (2002). Computer-bused testing: Arrswer’s, for- candidats testing in the US; US territories, Puerto Rico, and Canada. {URL:http/www.ets.org/ebt/dstan l fq,html].
Jacobs., L.C. dan Chase, C. 1. (1992). Developing and Using Tests Effectively. Jossey-Bass Publishers: San Fransisco.
Osterlind, S.J. (1989). Constructing Test Items. Kluwer Akademik Publishers: Boston, MA.
Van Theil, C.C. dan Zwarts, M.A. (1986). Development of a Testing Service System. Applied Psychological Measurement. 10, 391-403.
Wainer, H. (1990). Computerized Adaptive Testing.- A Primer. Lawrence Erlbaum Asociates, Inc. Publishers: New Jersey.
Zainul, A. dan Nasoetion. N. (2001) Penilaian Hasil Belajar, PAU-PPAI Universitas Terbuka: Jakarta.

ke atas
 
ke daftar isi
 

 

 

 

 

 

 

     
 

UPAYA PENINGKATAN MOTIVASI BERPRESTASI DALAM PEMBELAJARAN
DI SLTP DAN SMU TERBUKA

Oleh: Nurdin Ibrahim *)


Abstrak
Keberhasilan pembelajaran pada semua jalur, jenis, dan jenjang pendidikan sangat dipengaruhi oleh karakteristik si pebelajar dan strategi (metode) pembelajaran. Hal ini termasuk pada sistem pendidikan terbuka jarak jauh seperti SLTP Terbuka dan SMU Terbuka. Karakteristik si pebelajar akan mencakup beberapa variabel yang di antaranya kemampuan awal dan motvasi belajar dan berprestasi yang biasanya disebut kondisi pembelajaran, sedangkan dalam strategi pembelajaran mencakup variabel strategi pengorganisasian bahan pembelajaran, strategi penyampaian isi pembelajaran, dan strategi pengelolaan pembelajaran. Strategi penyampaian isi pembelajaran: mencakup penggunaan media pembelajaran dan bentuk kegiatan pembelajaran, sedangkan strategi pengelolaan pembelajaran: mencakup penjadwalan, pembuatan catatan kemajuan belajar siswa, kontrol belajar, dan pengelolaan motivasional si pebelajar.


I. PENDAHULUAN
Untuk mengatasi permasalahan perluasan kesempatan memperoleh pendidikan sekaligus sebagai upaya mensukseskan wajib belajar pendi9dikan dasar (Wajar Dikdas) 9 tahun, pemerintah telah mengembangkan sistem pendidikan terbuka pada tingkat SLTP. SLTP Terbuka semula dirintis pada lima lokasi, yaitu SLTP Terbuka Kalianda Lampung Selatan, SLTP Terbuka Plumbon Cirebon Jawa Barat, SLTP Terbuka Adiwerna Tegal Jawa Tengah, SLTP Terbuka Kalisat Jember Jawa Timur, dan SLTP Terbuka Terara Lombok Timur. Pada tahun 1994/1995 pada saat Wajar Dikdas 9 tahun dicanangkan, jumlah SLTP Terbuka sebanyak 59 lokasi dan tahun 2002/2003 jumlah telah berkembang menjadi 2,870 lokasi dengan jumlah siswa 232.395 orang.

Berdasarkan hasil evaluasi tahun 1984/1985 lulusan SLTP Terbuka mempunyai hasil belajar yang tidak berbeda secara signifikan dengan lulusan SLTP reguler lainnya. Selain itu lulusan yang melanjutkan ke jenjang SLTA (SMU dan SMK) mempunyai hasil belajar yang sama dengan lulusan SLTP lainnya, bahkan di beberapa tempat lain cukup banyak lulusan SLTP Terbuka masuk kategori lima besar di kelasnya. Namun setelah ditetapkan bahwa sistem SLTP Terbuka sebagai salah satu pola Wajar Dikdas 9 tahun yang diunggulkan, maka pengembangan lokasi SLTP Terbuka tidak didasarkan studi kelayakan lokasi secara sistem dan sistemik, sehingga cukup banyak lokasi pengembangan yang kurang layak.

Cukup banyak lokasi SLTP Terbuka yang mempunyai SLTP Induk yang tidak memenuhi syarat seperti kecukupan jumlah guru yang sesuai latar belakang pendidikan dengan mata pelajaran yang ajarkan (dibina) dan sarana dan prasarana pembelajaran yang tidak tersedia

Hal ini menyebabkan cukup banyak lokasi SLTP Terbuka tidak dapat menyelenggarakan proses pembelajaran yang sesuai dengan konsepsi pembelajaran pendidikan pada SLTP Terbuka. Kondisi dan strategi pembelajaran tak bisa dilaksanakan secara optimal sehingga diasumsikan (belum ada penelitian) motivasi belajar dan motivasi keberhasil siswa semakin menurun. Pada akhirnya hasil belajar siswa tidak sesuai dengan yang diharapkan seperti pada lokasi-lokasi perintisan. Permasalahan yang terjadi pada sistem SLTP Terbuka, terjadi pula pada sistem SMU Terbuka, walaupun jumlahnya baru diritis di tujuh lokasi. Atas dasar itu maka perlu upaya-upaya untuk meningkatkan motivasi belajar dan motivasi berprestasi siswa SLTP Terbuka dan SMU Terbuka.


II. KAJIAN LITERATUR
Cukup banyak faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar. Namun dalam makalah ini, kami mencoba mengangkat dari berbagai sumber, yang mengatakan hasil belajar siswa dapat dipengaruhi oleh 1) karakteristik siswa dan 2) metode atau strategi pembelajaran (Reigeluth, 1983).

1. Karakteristik Siswa
Karakteristik siswa dalam kajian ini penulis batasi pada dua faktor yaitu a) kemampuan awal dan b) motivasi belajar dan motivasi berprestasi.
a. Kemampuan awal
Beberapa ahli perancang pembelajaran, mengisyaratkan bahwa rancangan pembelajaran dikatakan baik apabila memperhitungkan kemampaun awal siswa sebagai sasaran. Pada awal proses pembelajaran kadang-kadang siswa belum mempunyai kemampuan yang dijadikan tujuan dalam kegiatan pembelajaran, bahkan terdapat suatu jurang antara tingkah laku (kemampuan, pengetahuan, sikap, dan keterampilan) awal proses pembelajaran dan tingkah laku siswa pada akhir proses pembelajaran. Jurang tingkah laku siswa pada awal dengan akhir pembelajaran tersebut perlu dijembatani, sehingga hasil setelah proses dilakukan tercapai sebagaimana yang direncanakan. Proses pembelajaran yang baik dimulai dengan titik tolak yang berpangkal pada kemampuan awal siswa untuk dikembangkan menjadi kemampuan baru, sesuai dengan tujuan pembelajaran yang dirumuskan (kemampuan atau tingkah laku final). Oleh karena itu, keadaan siswa pada awal proses pembelajaran tertentu (tingkah laku awal) mempunyai relevansi terhadap penentuan, perumusan, dan pencapaian tujuan-tujuan pembelajaran (tingkah laku akhir/final). Menurut Winkel (1991), tingkah laku awal itu dipandang sebagai pemasukan (input; entering behavior), yang menjadi titik tolak dalam proses pembelajaran yang berakhir dengan suatu pengeluaran (output; final behavior). Kalau demikian kemampuan awal siswa merupakan salah satu karakteristik yang perlu diperhatikan oleh perancang pembelajaran atau guru dalam merancang pembelajaran tertentu, karena kemampuan awal memungkinkan proses pembelajaran akan berjalan dengan efektif dan pencapaian hasil sebagaimana yang diharapkan.

Benyamin S. Bloom (1976), menyebutkan kemampuan awal (Cognitive Entery Behavior) adalah berkaitan dengan berbagai tipe pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi yang dipersyaratkan (prerequisite), yang esensial untuk mempelajari tugas atau satu set tugas khusus yang baru. Ini berarti kemampuan awal itu adalah pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang telah dipelajari atau dikuasai oleh siswa sebagai persyaratan untuk mempelajari tugas-tugas pembelajaran yang baru. Pengetahuan faktual itu mungkin saja sesuatu yang telah atau pernah dipelajari oleh siswa, yang perlu dikeluarkan untuk mempelajari atau memecahkan soal-soal yang sedang dipelajari. Misalnya; untuk mempelajari atau menghitung masa jenis suatu benda (r) pada pelajaran fisika di SLTP menggunakan rumus; masa jenis benda (r) = masa jenis (M) dibagi Volume (V) atau r = M : V. Dalam memecahkan persoalan rumus dan problem fisika ini siswa harus telah mengetahui atau mempunyai pengetahuan tentang perkalian, dan pembagian. Selain itu siswa harus juga telah menguasai pengetahuan bahwa konsep tentang volume sama dengan isi yang disimbolkan ukurannya dengan meter kubik (m3 ) dan masa jenis dengan ukuran kg. Selain itu siswa haru tahu pula bahwa 1 m3 sama dengan 1.000 liter, karena 1 m3 sama dengan 1.000 dm3, sedangkkan 1 dm3 sama dengan 1 liter.

Gerlach dan Ely mengatakan bahwa melalui tes Enteryng Behaviors (kemampuan awal) siswa, guru akan mengetahui apa yang dibawa atau yang telah diketahui oleh siswa terhadap sesuatu pelajaran pada saat (pelajaran) dimulai. Para perancang pembelajaran atau guru dalam mengembangkan satuan pelajaranya dia harus mengetahui; siapa kelompok, populasi, atau sasaran kegiatan pembelajaran tersebut ? Perlunya guru atau perancang pembelajaran mengetahui kemampuan awal ini, agar pelaksanaan pembelajaran berjalan efektif, karena pengetahuan awal yang telah dimiliki siswa terdapat juga pengetahuan yang merupakan prerequisit bagi tugas belajar yang baru. Untuk mengetahui kemampuan awal sekelompok siswa atau mahasiswa perlu diadakan tes awal. Tes awal mempunyai fungsi atau tujuan yang berharga bagi pengembang pembelajaran.

Menurut Popham dan Baker (Hadi, dkk., 1992) berdasarkan data tes awal guru dapat menentukan 1) apakah siswa-siswanya telah memiliki keterampilan yang diperlukan demi berhasilnya program pengajaran yang disusunnya. 2) Sudahkan siswanya telah mencapai tujuan-tujuan yang seharusnya sudah dicapai dalam pelajaran-pelajaran sebelumnya? Apabila siswa telah gagal menguasai prilaku-prilaku prasyarat maka pelaksanaan pembelajaran berikutnya akan mengalami hambatan.

Bloom berpendapat, kemampuan membaca pemahaman pada kelas 1 - 6 kelihatannya mempunyai pengaruh yang besar dalam belajar di sekolah yang lebih tinggi kemudian. Hal ini dimungkinkan karena kebanyakan bahan belajar yang digunakan di sekolah mempersyaratkan kemampuan membaca pemahaman. Bahkan telah diteliti hubungan antara kemampuan membaca pemahaman dengan keberhasilan mempelajari mata pelajaran Matematik dan IPA Fisika. Dari penelitian tersebut dinyatakan bahwa; korelasi antara membaca pemahaman dengan matamatika 0.72, dan membaca pemahaman dengan IPA Fisika 0.62 untuk kelas 6 - 8; sedangkan pada kelas 9 - 12, korelasi antara membaca pemahaman dengan Matematika 0. 54, serta antara membaca pemahaman dengan IPA Fisika 0.58. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada kelas-kelas rendah (SD dan SLTP) keberhasilan dalam mempelajari berbagai mata pelajaran khususnya Matematikan dan Fisikan banyak dipengaruhi oleh kemampuan membaca pemahaman dari siswa. Makin tinggi kemampuan membaca pemahamannya semakin mudah menelaah materi-materi mata pelajaran lain. Hal ini lebih-lebih pada SLTP Terbuka, karena sistem ini menerapkan sistem belajar mandiri dengan modul cetak sebagai bahan belajar utamanya. Oleh karena itu pengetahuan prerequisites atau cognitive entry behaviors untuk menelaah tugas-tugas belajar kognitif memerlukan suatu keterkaitan antara siswa dengan penyelesaian tugas belajar. Bila siswa telah menguasai pengetahuan prerequisit yang diperlukan untuk tugas-tugas belajar yang baru kemungkinan mereka akan mudah menyesuaikan mempelajari tugas-tugas belajar yang baru, sehingga memungkinkan mereka berhasil dalam mempelajari nata pelajaran yang bersangkutan. Walaupun demikian, hal ini akan terjadi bila mereka termotivasi untuk melakukan tugas-tugas balajar itu dan bila kualitas dari pembelajaran sesuai dengan kebutuhan mereka. Dengan demikian keberhasilan belajar seseorang akan tercapai, di samping mempunyai kemampuan awal yang memadai, bermotivasi untuk melaksanakan tugas-tugas belajarannya dengan baik, dan juga kualitas pembelajaran yang disajikan sesuai dengan kebutuhan (need) siswa.

Selanjutnya Bloom mengatakan, ada bukti bahwa kemampuan awal (cogtinive entry behaviors) dapat menjelaskan (mempunyai pengaruh) 50 persen terhadap keberhasilan seseorang terhadap suatu set tugas belajar. Ini berarti walaupun kemampuan awal mempunyai andil 50 persen dalam keberhasilan belajar seseorang, namun temuan tersebut belum tentu benar untuk semua tugas belajar atau semua mata pelajaran.

Dari uraian tersebut jelas sekali bahwa kemampuan awal, dapat mempengaruhi keberhasilan belajar siswa. Kemampuan awal yang dibutuhkan untuk mempelajari suatu mata pelajaran, bukan saja pengetahuan yang dikuasai oleh siswa pada mata pelajaran yang bersangkutan, tetapi juga pengetahuan mata pelajaran lain. Pengetahuan awal pada suatu mata pelajaran memungkinkan untuk dimanfaatkan secara lintas mata pelajaran. Misalnya, kemampuan membaca pemahaman dapat mempermudah mempelajari semua mata pelajaran yang tertulis. Begitu pula, simbol-simbol atau angka-angka yang telah dipelajari dan dikuasai melalui mata pelajaran matematika dapat digunakan di samping untuk mempelajari matematika lebih tinggi, tetapi juga untuk mempelajari mata pelajaran fisika, kimia, biologi, tata buku, geografi, ekonomi, statistik, dan sebagainya.

b. Motivasi belajar dan motivasi berprestasi
Motivasi (motivation) berarti to move atau menyebabkan terjadinya aktifitas-aktifitas seseorang (si pebelajar). Motivasi disebut juga sebagai sesuatu yang melatar-belakangi terjadinya prilaku si pebelajar. Bisa juga sebagai dorongan atau hasrat yang menyebabkan si pebelajar beraktifitas atau bertingkah laku dalam mencapai tujuan (pembelajaran) atau kebutuhan (Suriasumantri, tanpa tahun).

Dalam kegiatan pembelajaran, motivasi merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan belajar siswa, di samping faktor karakteristiknya di antaranya kemampuan awal dan sikap siswa terhadap mata pelajaran dan guru. Menurut Davies (1981), motivasi mempunyai pengaruh penting dalam pembelajaran.

Pertama; Motivasi memberi semangat siswa; Hal ini membuat siswa menjadi aktif, sibuk, dan tertarik. Ini berarti siswa melakukan berbagai upaya atau usaha untuk meningkatkan keberhasilan dalam belajar sehingga mencapai kleberhasilan yang cukup memuaskan sebagaimana yang diharapkan. Di samping itu motivasi juga menopang upaya-upaya dan menjaga agar proses belajar siswa tetap jalan. Hal ini menjadikan siswa gigih dalam belajar. Upaya-upaya atau usaha (Gredler, 1986), merupakan atribusi intrinsik untuk memperoleh kesuksesan atau menghindari kegagalan. Siswa yang bermotivasi tinggi (motivasi berprestasi) akan melakukan upaya-upaya atau usaha dengan frekuensi dan intensitasnya pun akan tinggi. Bila hal ini terjadi, maka keberhasilan belajar siswa akan terjadi. Dengan kata lain siswa yang bermotivasi tinggi dalam belajar memungkinkan akan memperoleh hasil belajar yang tinggi pula. Semakin tinggi motivasinya, semakin intensitas usaha dan upaya yang dilakukan, maka semakin tinggi hasil belajar yang diperolehnya.

Kedua; Motivasi mengarahkan dan mengendalikan tujuan. Siswa yang bermotivasi mampu mengarahkan dirinya untuk melengkapi tugas-tugas, memungkinkan ia mencapai tujuan (khusus) yang diinginkan. Hal ini menjadikan siswa terarah. Dalam proses pembelajaran, selalu mengarah untuk pencapaian tujuan. Bila dalam pembelajaran setelah dievaluasi, menunjukkan sebagian besar tujuan telah dicapai, itu menunjukkan proses pembelajaran tersebut berjalan efektif dan terarah. Semakin tinggi motivasi siswa, semakin efektif atau terarah mengerjakan atau melengkapi tugas-tugas belajar, dan memungkinkan memudahkan pencapaian tujuan pembelajaran. Ini berarti motivasi dapat mengarahlan seseorang untuk mencapai tujuan.

Ketiga; Motivasi itu adalah selektif; Selektif dalam menentukan kegiatan yang akan dilakukan (diambil). Artinya siswa terpusat perhatian dan pikirannya terhadap apa yang sedang dihadapinya. Bila pada saat itu sedang belajar, berarti siswa terpusat perhatiannya pada apa yang sedang dipelajarinya. Bila perhatian terpusat banyak informasi, konsep, prosedur, atau meta kognitif, dalam materi yang dipelajarinya terserap. Begitu pula, bila siswa menemukan masalah dalam kondisi pikiran yang terpusat, memungkinkan ia mampu menemukan bagaimana tugas-tugas atau masalah-masalah itu akan dilakukan. Berarti motivasi menentukan prioritas pemecahan masalah dari berbagai kemungkinan pemecahannya. Menilik penjelasan ini, motivasi dapat mempengaruhi keberhasilan belajar siswa. Siswa yang tidak bermotivasi, pikiran dan perhatiannya tidak terpusat, sehingga tidak mampu menemukan alternatif pemecahan masalah belajarnya, memungkinkan hasil belajarnya menurun atau tidak tercapai.

Keempat; Motivasi membentuk prilaku siswa. Motivasi mengorganisir berbagai aktivitas siswa. Aktivitas-aktivitas memungkinkan keberhasilan ditingkatkan frekuensinya, sebaliknya aktivitas-aktivitas yang memungkinkan akan kegagalan, dienyahkan atau diacuhkan. Bila hal ini terjadi dalam kondisi pembelajaran, maka akan memungkinkan keberhasilan akan diperoleh atau diraih. Ini berarti hasil belajar dapat ditingkatkan.

Dari uraian di atas, motivasi yang merupakan fungsi stimulus tugas, dan mendorong siswa (individu) untuk berusaha atau berupaya mencapai keberhasilan atau menghindari kegagalan. Siswa yang bermotivasi (belajar dan berprestasi) tinggi, misalnya ingin memproleh nilai prestasi tinggi, melihat dirinya lebih mampu daripada siswa yang bermotivasi rendah. Mereka akan berusaha lebih banyak serta melakukan atau menyelesaikan tugas-tugas untuk mencapai prestasi itu. Jadi untuk keberhasilan belajar siswa di samping bermotivasi tinggi, juga harus didukung oleh kemampuan yang memadai (kemampuan awal siswa) untuk mengerjakan tugas-tugasnya.

2. Metode (Strategi) Pembelajaran
Pembelajaran adalah suatu proses interaksi peserta didik (si pebelajar) dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belaqjar (UU Sisdiknas no. 20 tahun 2003). Sementara itu, “strategi dapat diartikan sebagai cara bagaimana isi pelajaran disajikan atau dipresentasikan dalam lingkungan pembelajaran” (Gerlach & Ely, 1971). Ini dapat diartikan bahwa strategi pembelajaran adalah cara bagaimana isi pembelajaran dipresentasikan. Hal itu termasuk keluasan dan urutan kegiatan/kejadian yang dapat memberikan pengalaman belajar. Sementara itu Reigeluth & Merril (1983), menyatakan ada tiga komponen utama dalam strategi pembelajaran, yaitu: strategi pengorganisasian Pembelajaran, strategi penyampaian, dan strategi pengelolaan (kegiatan) pembelajaran.

a. Strategi pengorganisasian
Strategi pengorganisasian pembelajaran atau strategi pengorganisasian bahan ajaran lebih menitikberatkan pada “cara untuk membuat urutan dan mensintesis fakta, konsep, prosedur, dan meta kognitif yang berkaitan dalam penyajian isi suatu mata pelajaran yang diajarkan kepada siswa”. Cara penyajian semacam ini dalam sistem SMP dan SMU Terbuka lebih cenderung kepada pengembangan dan penulisan bahan belajar atau modul pelajaran cetak. Modul pelajaran sudah disusun melalui diskusi dan lokakarya yang melibatkan akhli mata pelajarn, guru mata pelajaran, dan pengkaji media.

b. Strategi penyampaian
Strategi penyampaian pembelajaran dapat dirinci menjadi 1) penggunaan media pembelajaran, dan 2) bentuk belajar mengajar (pembelajaran).

Pertama; Penggunaan media pembelajaran. Media pembelajaran mampu menyajikan muatan isi (fakta, konsep, prosedur,meta kognitif) yang akan disampaikan kepada siswa. Interaksi siswa dengan media akan mencakup “apa yang harus dilakukan siswa dan bagaimana peranan media untuk meningkatkan interaksi yang dimaksud”. Proses belajar terjadi dalam diri siswa ketika mereka berinteraksi dengan media atau sumber belajar. Pada sistem SLTP Terbuka, siswa melakukan kegiatan belajar dengan menggunakan modul cetak sebagai media utama, dan media audio visual (audio kaset, video kaset, program radio, program TV, VCD, buku paket) sebagai media penunjang. Media-media tersebut dipilih dan dikembangkan berdasarkan karakteristik mata pelajaran, dan melibatkan berbagai unsur seperti guru, ahli mata pelajaran, dan pengkaji media. Misalnya; media audio, diperioritaskan untuk mata pelajaran yang diasumsikan efektif disimak melalui pendengaran seperti bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan mata pelajaran IPS. Mata pelajaran-mata pelajaran yang muatan isinya lebih banyak mengandung konsep, prosedur, dan prinsip seperti matematika, fisika, biologi, dan beberapa topik IPS, lebih banyak disajikan dengan media video, atau televisi.

Kedua; Bentuk kegiatan pembelajaran. Dalam bahasan ini akan mencakup pengelompokan siswa dalam bentuk kelompok besar, kecil, perorangan atau mandiri. Dalam sistem SLTP Terbuka, bentuk kelompok besar terjadi pada saat siswa mengikuti pembelajaran melalui tatap muka. Pada kegiatan ini lebih difoluskan pada pemecahan kesulitan-kesulitan atau materi-materi yang tidak dimengerti oleh siswa pada saat belajar mandiri atau kelompok kecil di TKB masing-masing.

c. Strategi pengelolaan
Menurut Reigeluth dan Merrill (Degeng, 1989) paling tidak ada 4 (empat) hal yang menjadi urusan strategi pengelolaan, yaitu: “1) penjadwalan; (2) pembuatan catatan kemajuan belajar siswa; (3) kontrol belajar; dan 4) pengelolaan motivasional. Pengelolaan motivasional telah diuraiakan pada bagian-bagian sebelumnya, sehingga tidak perlu dibahas di bagian ini.

Pertama; Penjadwalan penggunaan strategi pembelajaran mengacu kepada kapan dan berapa kali suatu strategi pembelajaran atau komponen-nya dipakai dalam suatu situasi pembelajaran. Misalnya berapa kali siswa menggunakan program kaset audio dan mendengarkan program radio dalam seminggu, berapa kali kegiatan belajar secara tatap muka dilakukan dalam sebulan untuk tiap mata pelajaran, berapa lama mereka dijadwalkan untuk melaksanakan praktek IPA (fisika) dalam satu semester, berapa kali mereka menonton proram video dan televisi dalam satu bulan, dan berapa kali mereka belajar serta mengunjungi alam terbuka seperti metode proyek, serta berapa kali dalam seminggu mereka mengunjungi dan magang pada industri-industri kecil atau rumah tangga di sekitarnya. Bila semua hal tersebut di atas dijadwalkan dengan jelas, maka pelaksanaan pembelajaran akan berjalan secara efektif, menarik, praktekable, maka niscaya hasil belajar siswa meningkat dan bermanfaat.

Kedua; Pembuatan catatan kemajuan belajar siswa, mengacu kepada kapan dan berapa kali penilaian hasil belajar dilakukan, serta bagai-mana prosedur penilaian. Pada sistem SMP Terbuka dilakukan bermacam bentuk penilaian, yaitu penilaian akhir modul, akhir unit (beberapa modul), akhir catur wulan dan ujian akhir dalam bentuk EBTA dan UAN. SLTP Terbuka yang bagus, apabila melaksanakan semua ketentuan termasuk pelaksanaan dan pembuatan catatan kemajuan belajar siswa. Catatan kemajuan belajar siswa, sebagai salah satu fungsinya adalah sebagai balikan (umpan balik) baik bagi siswa maupun bagi sekolah dan guru mata pelajaran (Guru Bina). Berdasarkan hasil penelitian dan berbagai sumber menunjukkan bahwa umpan balik yang dilakukan dengan baik dan benar, mampu mendongkrak motivasi belajar dan berprestasi siswa. Ini berarti umpan balik secara tidak langsung meningkatkan hasil belajar siswa.

Ketiga; Kontrol belajar merupakan bagian penting untuk mempreskripsikan strategi pengelolaan pembelajaran. Komponen ini mengacu kepada “kebebasan siswa melakukan pilihan pada bagian isi yang dipelajari, kecepatan belajar, komponen strategi pembelajaran yang dipakai, dan strategi kognitif yang digunakan. Aspek-aspek ini dapat memberikan petunjuk bagaimana cara pengelolaan pembelajaran”.

Setiap siswa mempunyai kondisi dan karakteristik yang berbeda dengan yang lainnya. Kemajuan belajar setiap siswa selalu berbeda dengan siswa yang lain. Untuk itu diperlukan pengontrolan belajar siswa, termasuk pengontrolan belajar mandiri dan kelompok di rumahnya. Data kemajuan belajar dapat dipakai sebagi informasi tentang fluktuasi dan atmosfir kemajuan belajar siswa. Siswa yang kelihatan kemajuan belajarnya cenderung menurun, maka kepadanya perlu diberikan pengarahan, bimbingan, dan petunjuk-petunjuk bagaimana meningkatkan hasil belajarnya. Sebaliknya siswa yang prestasinya baik dan fluktuasi hasil tesnya menunjukkan grafik yang bagus, maka kepadanya pula diberi pengarahan supaya mempertahankan prestasinya.

III. UPAYA-UPAYA PENINGKATAN MOTIVASI
Untuk menentukan upaya-upaya peningkatan motivasi, indikatornya banyak sekali. Karakteristik siswa dan mata pelajaran sangat menentukan untuk menentukan upay-upaya tersebut. Siswa yang mempunyai motivasi belajar dan berprestasi intrinsik yang kuat berbeda penanganannya dengan siswa yang bermotivasi belajar dan berprestasi ekstrinsiknya yang kuat. Siswa yang bermotivasi atau beraspirasi melanjutkan pendidikan, berbeda dengan siswa beraspirasi mencari pekerjaan setelah tamat SLTP. Begitu pula pendekatan yang digunakan untuk meningkatkan motivasi belar IPA berbeda dengan mata pelajaran Bahasa Inggris, IPS, Bahasa Indonesia, atau Muatan Lokal. Di sisi lain faktor-faktor terjadinya penurunan motivasi belajar dan berprestasi juga turut menentukan pemilihan upaya yang akan dilakukan. Oleh karena itu sangat mustahil dalam tulisan ini untuk menyajikan upaya peningkatan motivasi sesuai dengan karakteristik siswa dan mata pelajaran. Lagi pula (Davies, 1971) mengatakan sering terjadi strategi yang paling baik adalah tanpa menghiraukan ada atau tidak adanya motivasi, akan tetapi memusatkan pada penyampaian materi dengan cara yang begitu rupa sehingga motivasi siswa dapat dimunculkan dan diperkuat selama proses belajar. Faktor-faktor yang dapat meningkatkan hasil belajar di atas juga merupakan upaya-upaya dalam meningkatkan motivasi belajar siswa terutama siswa SLTP Terbuka. Atas dasar itu kami mencoba menyampaikan upaya-upaya peningkatan motivasi, pada situasi pembelajaran secara umum.

a. Pengembangan Bahan Pembelajaran
Pada sistem SLTP dan SMU Terbuka, siswa belajar secara mandiri melalui bahan belajar utama berupa modul cetak yang ditopang oleh berbagai media non cetak. Berbagai macam jenis media tersebut harus menarik dan mudah dipahami siswa, kalau tidak maka motivasi belajar dan motivasi berprestasi siswa akan menurun. Berarti upya peningkatan motivasi belajar dan berprestasi siswa SLTP dan SMU Terbuka dimulai dengan pengembangan bahan belajar mandirinya.

Upaya-upaya dan usaha untuk meningkatkan motivasi belajar siswa melalui pengembanagan bahan belajar sudah dilakukan dengan mengacu kepada teknik-teknik, konsep-konsep atau teori-teori pengembangan dan penulisan modul. Misalnya, menggunakan ilustrasi, gambar, dan grafis, menggunakan bahasa yang sederhana sehingga memudahkan siswa memahaminya, penyajian materi dari yang sederhana ke kompleks, dari yang mudah ke sukar, dari yang konkrit ke yang abstrak, dan penampilan serta perwajahan berwarna.

Penyediaan jenis media yang disesuaikan karakteristik mata pelajaran ini, dimungkinkan guru atau siswa dalam proses pembelajaran dapat memilih jenis media yang sesuai karakteristik dan pola pembelajaran yang diinginkannya, dan memungkinkan pemanfaatannya secara kombinasi. Berarti kehadiran berbagai jenis media, memungkinkan proses pembelajaran sesuai dengan minat, kemampuan, dan kebutuhan siswa. Dengan kata lain kehadiran berbagai jenis media dalam sistem SLTP Terbuka, membuka dan mendorong motivasi siswa untuk melakukan aktivitas belajar dan mecapai keberhasilan dalam belajar. Berarti pemanfaatan media oleh siswa dan guru dalam proses pembelajaran secara maksimal akan memungkinkan peningkatan hasil belajar siswa. Perlu pula diperhatikan dan dicatat oleh Kepala sekolah, Guru Bina, dan Guru Pamong bahwa media atau sumber belajar di samping dapat meningkatkan pengaruh motivasional siswa, “misalnya seorang guru/tokoh masyarakat sebagai sumber belajar dapat bertindak sebagai motivator bagi seorang siswa, namun perlu hati-hati kadang-kadang pada saat yang sama ia justru menghancurkan motivasi siswa yang lain”.

b. Awal Pembelajaran
Di TKB siswa belajar mandiri dan dalam kelompok kecil dibawah bimbingan atau kontrol dari Guru Pamong. Dalam 2 (dua) hari dalam seminggu mereka mengikuti belajar melalui tatap muka di SLTP Induk atau tempat lain, di bawah bimbingan Guru Bina (Guru Mata Pelajaran).

Pada awal pelajaran kelompok di TKB dan belajar melalui tatap muka, Guru Pamong dan Guru Bina, hendaknya memulai pelajaran atau pertemuan dengan

Pertama; Menyapa siswa, misalnya selamat berjumpa, selamat siang/sore dan diikuti dengan mencek kehadiran siswa; Kegiatan ini dimaksudkan untuk memusatkan perhatian siswa pada situasi pembelajaran yang akan di mulai. Dengan demikian baik fisik dan mentalnya terjaga dan siap mengikuti pelajaran. Memusatkan perhatian berarti motivasi siswa sudah mulai muncul;

Kedua; Mengutarakan mata pelajaran, judul, dan nomor modul yang akan dibahas atau didiskusikan, dan diikuti dengan penjelasan singkata materi yang lalu serta kaitannya dengan modul yang didiskusikan. Perhatian siswa terhadap mata pelajaran bersangkutan susdah lebih dipusatkan. Melalu penjelasan hubungan materi yang lalu dengan materi yang dibahas sekarang, berarti guru merangsang siswa untuk memunculkan informasi berupa fakta, konsep, prosedur, dan prinsip yang telah ada dalam ingatan jangka panjangnya (long term memory). Informasi yang telah dipunyai itu dapat mempermudah mempelajari informasi yang baru.

Ketiga; Membentuk kelompok (belajar kelompok di TKB); siswa diatur duduknya dalam kelompok yang dipimpin oleh seorang temannya, dan dijelaskan berapa lama mereka belajar mandiri, diskusi kelompok, dan diskusi dalam kelompok besar seluruh siswa di TKB tersebut. Melalui pengelompokan ini, berdasarkan teori belajar arah diri, siswa dapat berinteraksi antar teman, saling tukar menukar pendapat dan pikiran, dan dapat membahas masalah secara bersama. Melalui kegiatan semacam ini dapat mengembangkan konsep diri dan kemampuan memecahkan masalah bagi siswa. Pada sekolah-sekolah di negara Eropah kegiatan semacam ini ditunjang oleh komputer menggunakan bahasa LOGO dengan program grafik kura-kura (turtle graphics)

Untuk menunjang beberapa upaya tersebut di atas, pada setiap bagian pendahuluan modul, selalu menggunakan bahasa sapaan, kaitan isi modul dengan modul sebelumnya, tujuan, pokok-pokok materi, petunjuk cara mempelajari modul, dan petunjuk mengerjakan tes akhir modul sebagai balikan hasil belajar. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya meningkatkan motivasi belajar siswa waktu belajar mandiri.

c. Saat Proses Pembelajaran
Pertama; Membuat suasana kelas yang mengandung persaingan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan saksama, terarah, dan jelas secara umum kemudian perkelompok (per TKB pada tatap muka). Namun demikian, kurangi persaingan untuk memperoleh ganjaran dan kegiatan yang memberikan ganjaran yang berkaitan dengan akademik.

Kedua; Menciptakan kondisi kelas yang mendukung terjadinya interaksi antar siswa, saling menukar pengalaman dan pengetahuan melalui teknik atau metode diskusi;

Ketiga; Tingkatkan motivasi dan perhatian ke arah siswa yang kelihatan kurang perhatian atau motivasi dengan menggunakan kode gerakkan mata, intonasi suara yang sekali-sekali keras dan bersemangat.

Keempat; Manfaatkan dan gunakan berbagai macam media dan teknik atau metode secara bergantian sesuai dengan spsifikasi materi yang dibahas dan didiskusikan.

d. Akhir Pembelajaran
Pertama; Beriakan balikan (umpan balik) pada saat jawaban pertanyaan oleh siswa, hasil jawaban siswa setiap tes. Dalam memberikan balikan, guru hendaknya memberikan penjelasan jawaban yang benar seharusnya bagaimana, bila jawaban siswa hampir betul atau betul berikan pujian misalnya; bagus sekali, betul sekali dsb. Tetapi bila jawabannya belum betul, janganlah memberikan balikan dengan mengatakan salah, bodoh. Dalam hal ini, alangkah baiknya gunakan bahasa yang menyenangkan, misalnya, jawabanmu belum betul, atau kamu sebenarnya pintar mungkin belum berusaha dengan baik, dan sebagainya.

Kedua; Pada akhir pertemuan atau kegiatan, usahakan materi yang dibahas tadi dibuatkan atau dijelaskan secara singkat rangkumannya dengan tepat, jelas, dan singkat.

Ketiga; Pada akhir kegiatan perlu juga diperingatkan siswa waktu pertemuan lagi, kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan siswa sebelum kegiatan berikutnya, atau memberikan pekerjaan rumah.

Keempat; Pada sat kegiatan berakhir, ucapkan selamat sore atau siang, dan selamat bertemu lagi pada pertemuan yang akan datang.

Selain dari berbagai upaya tersebut di atas, ada pula upaya-upaya lain yang lebih umum dan di luar kegiatan pembelajaran di kelas, seperti berikut.

Pertama; Biasakan memberikan ganjaran berupa hadiah alat tulis, buku pelajaran, atau bea siswa bagi siswa yang masuk kategori 10 besar pada setiap tingkat kelas dan tiap semester.

Kedua; Pada waktu pembagian raport, siswa yang termasuk dalam 10 besar diumumkan di muka orang tua murid, dan dipanggil untuk maju dan berdiri di muka kelas.

Ketiga; Adakan kegiatan olah raga dan kesenian, pertandingan olah raga dan kesenian antar kelas, antar tingkat, dan atar sekolah. Berikan hadiah dan piagam bagi yang berhasil juara, baik perorangan maupun kelompok.

Keempat; Khusus siswa SLTP dan SMUTerbuka, berilah kesempatan mereka untuk mengikuti upacara penaikan dan penurunan bendera, sekali gus sebagai petugasnya. Lebih bagus kegiatan tersebut bergabung dengan siswa-siswa SLTP Induknya.

e. Kehadiran Guru Bina dan Guru
Kehadiran guru bina dan guru pamong dalam pembelajaran tutorial tatap muka dan belajar di TKB akan meningkatkan motivasi belajardan motivasi berprestasi siswa.

Guru mata pelajaran yang bersangkutan di samping membantu siswa memecahkan kesulitan, juga diharapkan meningkatkan motivasi belajar siswa khususnya siswa yang bermotivasi rendah. Kehadiran guru mata pelajaran yang sehari-harinya mengajar dan sebagai guru SLTP reguler (Induk), memunculkan perasaan/keyakinan siswa bahwa mereka betul-betul bersekolah di SLTP Negeri, walaupun rata-rata hanya dua hari dalam seminggu bertemu dengan guru-guru mata pelajaran (guru bina) dan Kepala Sekolahnya. Pertemuan yang demikian, dapat memunculkan dan meningkatkan rasa senang, menambah wawasan, menambah jumlah kawan dari berbagai TKB dan dari SLTP Induk, dan bahkan dapat menghilangkan ketegangan. Kalau demikian kegiatan pembelajaran melalui tatap muka ini dapat meningkatkan motivasi belajar dan berprestasi siswa, khususnya siswa-siswa yang bermotivasi rendah. Hal ini secara tidak langsung akan meningkatkan hasil belajar siswa. Perlu ditambahkan bahwa, penentuan waktu (hari dan jamnya) dalam pelaksanaan pembelajaran melalui tatap muka di SLTP Terbuka di dasarkan waktu luang bagi siswa itu sendiri.

Pada sistem SLTP dan SMU Terbuka, selain ada pengelompokkan pada pembelajaran tatap muka, juga ada kegiatan belajar dalam kelompok kecil dan mandiri di TKB masing-masing. Pada waktu belajar di TKB, siswa dikelompokkan dalam beberapa kelompok kecil yang terdiri dari 4 atau 5 orang siswa. Dalam kelompok kecil ini siswa diberikan kebebasan untuk menentukan waktunya berapa lama mereka belajar mandiri, kemudian berdiskusi untuk memecahkan kesulitan yang dialami setiap siswa, dan merumuskan kesulitan-kesulitan yang akan diajukan untuk didiskusikan seluruh siswa di TKB tersebut. Selama kegiatan belajar mandiri dan diskusi kelompok, guru pamong bersikap proaktif memonitor, memantau, mengarahkan, membantu memecahkan kesulitan bila kebenaran informasinya tidak diragukan. Suasana belajar rileks, tanpa ada tekanan, siswa bebas memilih mata pelajaran yang didiskusikan asal sesuai dengan jadwal yang ada. Kondisi belajar seperti ini memungkinkan gejolak emosi siswa pada taraf yang normal atau moderat sehingga memungkinkan pembangkitan dan peningkatan motivasi siswa. Berdasarkan berbagai sumber, pada saat emosi seseorang berada pada taraf moderat, akan membuka peluang munculnya motivasi termasuk motivasi belajar dan berprestasi.

Dalam kondisi emosi moderat. seseorang dapat melakukan aktivitasnya dengan baik, mampu membangkitan informasi-informasi dalam memorinya, baik memori jangka panjang maupun jangka pendek. Belajar itu sendiri akan berlangsung dengan baik dan efektif bila mampu mengkaitkan dan menghubungkan informasi yang sudah dimiliki dengan informasi-informasi yang baru.


IV. PENUTUP
Isi makalah ini mungkin saja bukan hal yang baru, terutama sekali para pembaca dan peserta latihan yang pernah duduk dibangku pendidikan guru atau pernah mengikuti penataran yang serupa. Kalau demikian kehadiran makalah ini sebagai upaya untuk membangkitkan dan mengaktifkan informasi-informasi yang telah tertahan dalam ingatan jangka panjang, serta dimanfaatkan dalam menjalankan tugas sebagai pengelola pendidikan. Mungkin juga beberapa informasi dalam paper ini ada hal-hal yang baru, sehingga melengkapi pengetahuan dan pengalaman yang pernah dirasakan dan dilaksanakan.

Bagi pembaca yang berstatus sebagai Kepala Sekolah, kami himbau sebarkan pengetahuan dan informasi dalam makalah ini kepada teman-teman sesama Kepala Sekolah, kepada Guru Bina dan Guru Pamong, serta aplikasikan apabila masuk mengajar di kelas. Menyebarkan ilmu dan pengetahuan itu adalah suatu perbuatan yang baik dan mendapat pahala tiada taranya dari Allah Yang Maha Kuasa. Lebih-lebih orang ditulari itu ditularkan lag kepada temannya dan diamalkan dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik dan pengajar.

DAFTAR PUSTAKA
Berliner, David C. and Calfee, Robert C., Hand Book of Educational Psychology, New York, Macmillan library Revarence USA, 1996.
Bloom, Benyamin S., Human Characteristics and School Learning, New York, McGraw-Hill Company, 1976.
Buchler/Snowman, Psychology Applied to Teaching, Boston, Houston Miffin Company, 1986.
Davies, Ivor K., Pengelolaan Belajar, (Penterjemah Sudarsono sudiardjo, Lily Rompas, Koyo Kartasurya), Jakarta, PAU-UT kerjasama dengan CV Rajawali, 1981.
————, Instructional Technique, New York, McGrow-Hill Book Company,1981.
Degang, I. Nyoman S., Ilmu Pengajaran; Taksonomi Variabel, Jakarta Depdikbud Ditjen Dikti, 1989.
Gagne, Robert M. and Briggs, Lislie J., Principle of Instructional Design, Second Edition, New York, Holt Rinchart and Winstone, 1979.
Gerlach Vernon S. and Ely, Donald P., Teaching and Media, A Systematic Approach, New Jersey, Prentice-Hall Inc. Engliwood Cliffa, 1971.
Good, Thomas L. and Brophy, Jere E., Educational Psychology A Realistic Approach, Four Edition, New York & London, Longman, 1990.
Gredler, Margaret E. Bell, Belajar dan Membelajarkan, Penterjemah Munandir, Jakarta, Rajawali Pers, 1986.
McClelland, David C. dkk., The Achievement Motive, New York, Irvington Publishers, 1976.
Pophan, W. James and Baker, Evil L. Teknik Mengajar Secara Sistematik, Penterjemah Amirul Hadi, dkk., Jakarta, Rineka Cipta, 1992.
Reigeluth, Charles M., Instructional Design, Theories and Model An Overview of Their Current Status, London, Lawence Erlbaum Associaties Publisher, 1983.
Steers, Richard M. and Porter, Lyman W., Motivation and Work Behavior, Fift Edition, New York, McGrew-Hill Inc., 1991.
Suparman, Atwi, Desain Pembelajaran, Jakarta Dirjen Dikti, PAU-UT,1991.
Suriasumantri, Jujun S., Berfikir Sistem; Konsep, Penerapan, Teknologi dan Strategi Implementasi, Jakarta, Fakultas Pasca Sarjana IKIP Jakarta (tanpa tahun).
Travers, Robert M.W., Essential of Learning; The New Cognitive Learniong for Students of Education, Fift Edition, USA, Macmillan Publishing Co Inc., 1982.
Winkel, W.S., Psikologi Pengajaran, Jakarta, PT Grasindo, 1987.

ke atas
 
ke daftar isi
 

 

 

 

 

 

 
 


BELAJAR BERBASIS ANEKA SUMBER (BEBAS):
Sebuah Pemikiran tentang Peluang dan Tantangannya*)

Oleh: Mohammad Tahmid **)


Abstrak
Belajar Berbasis Aneka Sumber (BEBAS) merupakan proses belajar alternatif bagi mereka yang tak mampu masuk ke dalam lembaga pendidikan konvensional. Dengan BEBAS seorang anak didik dapat belajar dengan bantuan sumber belajar apa saja, belajar dari siapa saja, belajar kepada siapa saja, belajar tentang apa saja, dan belajar untuk tujuan apa saja. BEBAS dapat berlangsung jika ada inisiator yang berasal dari masyarakat yang peduli kepada pemerataan pendidikan, LSM, organisasi atau bahkan pemerintah . Peran penting yang diharapkan dari pemerintah adalah kebijaksanaan sertifikasi bagi mereka yang dinilai telah mendapatkan keahlian tertentu setelah mengikuti BEBAS. Keuntungan dari BEBAS disamping perluasan kesempatan bagi masyarakat untuk mendapatkan pendidikan yang mereka inginkan juga mengurangi beban pemerintah dalam menyelenggarakan pendidikan nasional.


A. Pendahuluan
Belajar tidak dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan fisik, melainkan non-fisik, yakni rasa ingin tahu dan prasyarat untuk mencapai kemampuan yang lebih tinggi sehingga pada akhirnya mampu pula memecahkan berbagai masalah. Kenyataan hidup sehari-hari dalam meningkatkan kualitas dan bertahan hidup diperlukan berbagai kompetensi sehingga mampu bersaing dengan lainnya. Hal demikian dapat dicapai kalau seseorang mampu belajar dengan baik dan benar. Dengan demikian belajar sudah selayaknya menjadi kebutuhan dasar yang harus dipenuhi bagi seseorang yang ingin mempertahankan, meningkatkan kualitas diri dan kehidupannya serta ingin memenangkan persaingan di tengah arus global.

Belajar Berbasis Aneka Sumber (selanjutnya disingkat dan ditulis dengan huruf kecil “bebas”) memang telah dipakai sebagai pendekatan di lingkungan pendidikan1) konvensional sebagai upaya memperluas sumber belajar. Namun bebas di sini dimaksudkan sebagai proses belajar dari sumber apa saja, tentang apa saja, dan kemudian di sini, mengenai bebas ini juga diperluas dalam pengertian bebas yang sebenarnya, yakni tidak terikat. Jadi bebas dapat dilakukan di mana saja, kapan saja, oleh siapa saja dan bagaimanapun caranya yang tidak terikat oleh format pendidikan formal yang telah diatur pemerintah.

Belajar di lingkungan formal dan non-formal telah dirasakan oleh masyarakat pada umumnya sebagai suatu yang semakin sulit dijangkau dan di sisi lain mereka semakin rnenyadari arti pentingnya. sebagian kecil masyarakat dengan relatif mudah mendapatkan (menikmati) proses pembelajaran yang bermutu tinggi di institusi unggulan sementara jauh lebih banyak mereka yang tidak mampu memperoleh pendidikan (baca: menyekolahkan) anggota keluarganya di institusi pendidikan yang lumayan baik saja. Mahalnya biaya pendidikan (belajar) merupakan salah satu yang mendorong penulis untuk mencoba memaparkan bebas ini sebagai salah satu alternatif pemecahannya. Keuntungan bebas lainnya disamping segi relatif murah biayanya adalah terkait dengan waktu dan keleluasan pebelajar untuk menguasai materil kemampuan tertentu, tanpa terikat oleh berbagai aturan baku yang terkadang bersifat kaku.

Tanpa disadari setiap hari anak-anak maupun orang dewasa telah menerapkan bebas ini. Namun demikian perlu disadari bahwa belajar merupakan suatu proses yang disengaja

Untuk tujuan tertentu dan mengarah pada perubahan yang ralatif menetap. Pada tataran terjadinya proses bebas ini memang sebaiknya pemerintah atau lembaga resmi lainnya tidak ikut campur tangan, namun persoalan pengendalian mutu dan standar hasil belajarnya diperlukan campur tangan pihak-pihak yang lebih berkompeten termasuk dan terutama sertifikasi atau pemberian semacam surat tanda tamat belajar/menguasai kemampuan tertentu. Dalam benak penulis mungkin akan dapat muncul semacam sertifikasi bebas; SD, SLTP, SMU, SMK, D II, D III dan lain-lainnya sebagai tanda bahwa peserta bebas telah memiliki dan bisa dibuktikan mereka mampu dalam hal tertentu yang disyaratkan untuk melaksanakan tugas tertentu. Misal bebas D III Perhotelan, bila peserta bebas entah bagaimanapun caranya telah memiliki kemampuan tertentu sebagai petugas khusus di Hotel.

Siapapun dapat melakukan dan atau ikut serta di dalam pendekatan bebas ini sesuai dengan kemampuan masing-masing. Tentu saja akan disyaratkan umur tertentu apabila dalam pelaksanaannya diharuskan belajar mandiri dan memerlukan persyaratan minimal tertentu. Mengingat masih minimnya kemampuan masyarakat secara umum mengidentifkasi sumber-sumber belajar dari kemampuan tertentu sebagai tujuan belajar yang harus dikuasainya, maka diperlukan paling tidak adanya inisiator maupun lembaga tertentu yang memungkinkan terlaksananya bebas ini sesuai dengan karakteristiknya (yang penulis maksudkan di atas) tanpa mengarah kepada format pendidikan yang telah ada.

lnisiator di sini diharapkan dari orang/lembaga yang sangat peduli kepada pemerataan pendidikan dari kesejahteraan ataupun mungkin adanya campur tangan pemerintah sebagai legitimator terhadap hasil belajar mereka (peserta bebas). Kepedulian dapat diwujudkan antara lain dengan kesediaan membantu proses bebas dalam bentuk bekerjasama dengan para “inisiator”, “organisator”; “koordinator” atau apapun namanya serta masing-masing individu pembelajar sehingga memungkinkan adanya arah yang dituju secara jelas. Hal demikian tentunya akan dimungkinkan lebih cepat terwujud apabila pemerintah mengeluarkan aturan khusus tentang bebas ini sebagai proses pendidikan/pembelajaran alternatif dan inovatif. Dan akhirnya pantaslah untuk direnungkan ungkapan berikut “ Bebas untuk Belajar dan Belajar untuk Bebas “.

B. Bebas di Lembaga Pendidikan Konvensional
Konsep pemakaian sumber belajar di sekolah/institusi pendidikan konvensional memang telah menggunakan pendekatan bebas ini. Namun kenyataannya penggunaan sumber belajar masih didominasi oleh yang sifatnya merancang, belum memanfaatkan yang ada disekelilingnya secara optimal. Keberadaan SLTP dan SMU Terbuka yang dirintis oleh Pustekkom nampaknya cukup mendekati apa yang penulis maksudkan, yakni berusaha menggunakan sumber belajar yang relatif lebih luas yang berada di lingkungan sekitar para siswa.

C. Bebas Non-Format Pendidikan Konvensional
Belajar di lingkungan formal telah banyak mendapat kritik yang tajam berbagai kalangam berkaitan dengan hasil belajarnya maupun pola-pola administratif dan manajerial yang terkadang dirasa kaku dan menghambat kreativitas. Uraian berikut mencoba memaparkan pola lain proses belajar dan pembelajaran yang lebih banyak mendasarkan diri pada pembelajar. Hal demikian akan sejalan dengan apa yang dipandang oleh Teori Belajar Berdasarkan Psikologi Sasial:
Dalam pandangan faham belajar sosial, orang tidak didorong oleh tenaga dari dalam, demikian pun tidak digencet stimulus-stimulus yang berasal dari lingkungan. Alih-alih fungsi psikologi orang itu dijelaskan sebagai fungsi interaksi timbal balik yang terus menerus terjadi antara faktor-faktor penentu pribadi dan lingkungannya. (Bandura, 1977b, hal. -11).2)

Teori belajar sosial Albert Bandura tersebut berusaha menjelaskan asas belajar yang berlaku dalam latar/lingkungan yang wajar. Tidak seperti halnya latar laboratorium, lingkungan sekitar memberikan kesempatan yang luas kepada individu untuk memperoleh keterampilan yang kompleks dan kemampuan melalui pengamatan terhadap tingkah-laku model dan konsekuensi-konsekuensinya.

Menyimak sekilas teori belajar sosial tersebut, selanjutnya dalam tulisan ini penggunaan sumber belajar di dalam aktivitas belajar oleh pembelajar menurut hemat penulis dapat di golongkan ke dalam 3 tingkatan kebebasannya:

1. Bebas mutlak
Urusan belajar dan hal lain yang terkait, merupakan hak asasi manusia sehingga setiap individu atau kelompok orang bebas menentukan apa saja yang terkait dengan belajar termasuk sumber belajarnya. Hal ini dapat dilihat dengan lebih jelas pada orang dewasa lengkap dengan sifat-sifat kedewasaan yang lekat padanya. Mereka memandang dan menyadari benar bahwa belajar adalah kebutuhan individual dan sehagai kecenderungan/kodrat manusia/binatang untuk memahami sesuatu dan bertahan hidup. Dalam hal demikian siapapun kita tak dapat berbuat banyak atas orang lain dalam hat belajarnya, tetapi semua hal yang berkait dengan belajar terpulang pada individu, terutama yang tergolong telah dewasa.

2. Bebas terkendali longgar
Proses belajar dan penggunaan sumber belajar terkendali dalam arti positif oleh para inisiator, organisator, lembaga swadaya masyarakat (LSM) secara longgar demi efektivitas proses belajar. Peran pengendali di sini hanyalah mungkin sebagai perumus tujuan belajar, penyedia pokok-pokok materi dan pengidentifikasi sumber-sumber belajar yang dapat digunakan oleh si belajar dan kamudian hanya menginformasikan (termasuk di mana ada pusat sumber belajar yang bisa dimanfaatkan) hal tersebut kepada pembelajar yang selanjutnya terserah sepenuhnya kepada si belajar. Dengan demikian akan tampak perbedaan model ini dengan format pendidikan formal dan non-formal selama ini. Hal demikian disadari karena pada dasarnya basis belajar ini pada aneka sumber yang harus dicari, dialami, dicoba, dikoreksi sendiri dan dimanfaatkan sendiri oleh si pembelajar. Namun demikian juga masih dimungkinkan para inisiator tersebut menyediakan sumber belajar tertentu untuk tujuan belajar tertentu.

Format seperti inilah yang penulis maksudkan di dalam tulisan ini, sehingga memang di sana-sini terdapat berbagai peluang dan tantangan bagi berbagai pihak mulai dari individu yang ingin belajar menguasai sesuatu sampai lembaga-lembaga yang secara resmi bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan pendidikan/proses pembelajaran.

3. Bebas terkendali ketat
Hal demikian telah dilakukan oleh berbagai institusi pendidikan konvensional yang telah memiliki aturan yang terkadang bersifat kaku dan berskala nasional. Namun demikian nampaknya sekarang ini sedang berlangsung suatu proses penyusunan peraturan pemerintah tergantung pendidikan yang di dalamnya terdapat reorientasi keberadaan pendidikan nasional selama ini, baik terkait dengan persoalan kurikulum, profesionalisme kependidikan dan lain-lain termasuk di dalamnya penggunaan sumber-sumber belajar.

Proses belajar itu dapat dilakukan setiap individu sesuai dengan kemampuan masing-masing. Belajar dalam kehidupan masyarakat sehari-hari paling tidak dapat dipilah-pilah menjadi:
- belajar dengan ...
- belajar dari ...
- belajar kepada ...
- belajar tentang ...
- belajar untuk ...

• Belajar dengan. Menunjukkan bahwa proses belajar itu disertai, didampingi, dengan perantaraan, menggunakan sesuatu yang mendukung terjadinya proses belajar itu sendiri sehingga tercapailah tujuan belajar. Dikaitkan dengan bebas, maka hal ini dapat ditafisirkan pula penggunaaan aneka sumber belajar baik insani maupun non-insani yang telah dirancang maupun yang tinggal memanfaatkan. Namun peran sumber belajar di sini merupakan pendamping, penyemangat ataupun penguat sehingga pebelajar mampu melalukan tugas belajarnya. Misalnya untuk belajar mengendarai sepeda motor seorang anak didampingi oleh kakaknya/orangtuanya, untuk belajar desain grafis pebelajar menggunakan perantaraan komputer.

• Belajar dari. Menunjukkan bahwa di dalam proses belajar terdapat sesuatu yang digali sehingga pebelajar menguasai dan mencapai tujuan belajar. Nuansa ini juga dapat disebut belajar karena yang maksudnya lebih dekat kepada susuatu yang menjadi inspirasi terjadinya belajar. Kaitannya dengan bebas adalah bahwa segala sesuatu dapat menjadi inspirasi terjadinya belajar, sehingga hal tersebut dapat disebut pula sumber belajar. Misalnya; peristiwa hujan dapat kita jadikan sumber belajar. Jadi kita dapat belajar dari hujan, kebakaran, kekeringan, kerusuhan, dll.

• Belajar kepada. Hal ini lebih menunjukkan adanya obyek yang dijadikan narasumber belajar. Narasumber lebih berperan sebagai pengajar yang memiliki kemampuan lebih dan dengan demikian ia dapat memberikan bahan ajar (sesuatu yang dapat dipelajari) melalui dirinya kepada si belajar. Misalnya; belajar kepada Ustadz, Kyai, Guru, Seorang Ahli, dll.

• Belajar tentang. Hal ini menunjukkan adanya spesifikasi materi yang akan dikuasai sehingga proses belajar menjadi terfokus kepada satu atau beberapa hal yang sejenis. Misalnya; belajar tentang matematika, pemograman barbasis komputer, bagaimana cara belajar yang baik, desain interior, sepak bola, dll.

• Belajar untuk. Hal ini menunjukkan adanya tujuan akhir belajar, tujuan di sini lebih merupakan tujuan utama yang harus dilewati melalui pencapaian tujuan-tujuan lain yang menjadi tahapan ke arah tujuan utama. Kata untuk di sini juga bisa dipadankan dengan demi, guna. Misalnya; belajar untuk menjadi seorang sopir yang baik maka seseorang harus pula belajar tentang mobil, jalan raya, aturan lalu lintas dan juga ia harus pula belajar dari/kepada sopir lainnya.

Berdasarkan uraian di atas dapatlah dikaitkan bahwa berbasis dalam bahasan bebas ini dapat meliputi berbagai hal di atas kecuali belajar tentang dan belajar untuk. Karena kata berbasis penulis artikan sebagai “berdasar”, “mendasarkan diri”, “berpijak” kepada segala macam sumber-sumber belajar.

Menurut Association for Educational Communication and Technology (AECT ) sumber belajar sebagaimana dikutip oleh Karti Soeharto, dkk dalam bukunya Teknologi Pembelajaran (1995):

Learning resources (for Educational Technology) all of the resources (data, people, and things) which may be used by the learner in isolation or in combination, usuaily in a formal manner, to facilitate learning; they include messages, people, materials, devices, techniques, and setting. (AFCT, 1977, p.F) 3)

Yang dimaksud dengan sumber (pen: sumber belajar) ialah asal (pen: sesuatu) yang mendukung terjadinya belajar, termasuk sistem pelayanan, bahan pembelajaran dari lingkungan.4)


D. Peluang
Peluang dalam hal ini dimaksudkan sebagai adanya kesempatan baik, yang penulis pandang sebagai sesuatu yang cukup inovatif dan alternatif yang bisa di dapat/terwujud apabila diusahakan ke arah itu dan berhasil melewati tantangan-tantangan tertentu.

Peluang melaksanakan bebas dan memperoleh manfaat dari bebas ini secara garis besar dapat dikelompokkan ke dalam:
1. Individu
2. Keluarga
3. Masyarakat
4. Pemerintah
5. Tempat Kerja
6. Tempat Ibadah
7. Media
8. Sekolah
9. Perguruan Tinggi

Namun demikian, konsisten dengan apa yang penulis maksudkan pada uraian terdahulu yang diharapkan dapat berperan penting dalam pelaksanaan bebas ini adalah individu, keluarga, dan masyarakat lengkap dengan segala potensinya.

Beranjak dari kesempatan yang dimungkinkan oleh keleluasaan penyelenggaraan bebas ini, maka berikut ini terdapat keuntungan yang bisa didapat:
1. Masing-masing individu akan leluasa menentukan tujuan dari topik belajar sendiri, baik menyangkut -pengetahuan, keterampilan dan atau sikap tertentu yang ingin dikuasainya. Kebebasan inipun dapat difaktakan dalam hal waktu penyelesaian belajarnya.
2. Memotivasi masyarakat untuk ikut serta menggerakkan pebelajar ataupun menjadi inisiator pelaksanaannya.
3. Pendanaan relatif lebih rendah daripada yang ada pada lembaga formal karena telah banyak variabel-variabel pembiayaan yang bisa dihemat/dipangkas, antara lain tak perlu gedung sekolah, tak perlu pegawai administrasi yang banyak, tak perlu rnembuat aturan. yang macam-macam, tak perlu gedung pertemuan, dll.
4. Beban pemerintah dalam penyelenggaraair pendidikan menjadi lebih ringan dengan adanya partisipasi aktif masing-masing individu pelajar, masyarakat, para inisiator, organisator, dll.


E. Tantangan
Konsep bebas dalam tulisan ini dalam prakteknya lebih dimungkinkan berhasil apabila terarah pada tingkat SLTP ke atas, karena perlu adanya persyaratan minimal tertentu sehingga belajar mandiri dapat dilaksakan. Sedangkan dalam tingkat SD pendekatan bebas juga akan sangat baik dilakukan untuk merangsang kamandirian dan kreativitas siswa.

Mengingat dengan bebas ini dimungkinkan banyak keuntungan/kelebihan yang dapat diperoleh, tentunya akan sulit terwujud apabila tidak ada peran serta berbagai pihak dalam mewujudkan pelaksanaannya secara rill di masyarakat. Berikut ini akan dicoba paparkan pihak-pihak yang dapat berperan menembus tantangan dimaksud yang tentu saja akan berbeda dengan apa yang oleh sekolah konvensioal pernah lakukan.

Pemerintah. Pemerintah dapat berperan dengan mengeluarkan aturan khusus mengenai mekanisme pelaksanaan bebas termasuk di dalamnya; kurikulum khusus untuk bebas, acuan patokan penguasaan kemampuan, standar minimal, serta sertifikasi atau pemberian semacam surat tanda tamat belajar sehingga hal ini menarik perhatian banyak kalangan untuk ikut serta di dalamnya. Baik individu maupun masyarakat akan tergerak karena terdapat legitimasi/pengakuan bahwa tidak hanya mereka yang menamatkan sekolah di lembaga formal saja yang berhak mendapatkan pekerjaan ataupun menduduki jabatan yang layak. Contoh bila ada seseorang yang memiliki kemampuan tertentu sebanding dengan tamatan SMK (Mis: dulu STM jurusan Otomotif) namun tidak pernah bersekolah di SMK, tentunya mereka akan senang kalau kemampuannya dihargai dengan tamatan SMK.

Selanjutnya dengan adanya ketentuan khusus yang telah dikeluarkan pemerintah, tentunya harus diikuti pula kesadaran berbagai pihak, terutama pihak-pihak yang biasanya mensyaratkan ijasah tertentu untuk bekerja di instansinya dengan merubah paradigma rekruitmen menjadi persyaratan kemampuan minimal tertentu dan bukan ijasah tertentu. Misalnya; seseorang yang bekerja di hotel sebagai ‘house keeping’ yang agak jarang berhubungan dengan orang adalah tamatan D III perhotelan. Mungkin nanti pekerjaan house keeping dapat pula dilakukan oleh seseorang yang hanya memiliki ijasah SD atau SLTP namun ia mampu melakukan hal sebagaimana D III perhotelah tersebut. Kenapa tidak? Yang digaji itu pekerjaannya atau ijasahnya dan apakah ijasah sudah pasti menjamin keterampilan riil yang diperlukan?

Persyaratan peserta dibuat seringan dan semudah mungkin dipenuhi; misalnya telah miliki ijasah SD atau bisa membaca dan menulis saja. Umur pesertapun tidak dibatasi, mengingat hak belajar dan berkemampuan adalah hak setiap orang.

Individu. Setelah tahu kurikulum dan tujuan belajar, peserta bebas selanjutnya akan mandiri mencari sumber belajarnya dan berusaha dengan berbagai cara menguasainya. Dituntut disiplin, kemandirian dan kemampuan untuk maju yang tinggi dari para peserta bebas beserta kelompok-kelompok belajarnya. Memang dimungkinkan peserta bebas bisa semaunya sendiri dan tak terkontrol dalam hal belajarnya. Hal demikian menurut hemat penulis justru merupakan tantangan kemadirian yang harus ditanamkan sehingga dalam sikapnya mereka memiliki kedewasaan dan kesadaran penuh.

Dorongan masyarakat orangtua juga tetap dimungkinkan. Kepentingan belajar sudah seharusnya melekat pada pebelajar tanpa adanya campur tangan pihak lain terutama pemerintah sehingga diharapkan akan mendewasakan mereka. Dengan banyaknya contoh temannya yang berhasil, maka akan lebih memacu, merangsang dan mendorong, memotivasi mereka untuk mengikuti jejak teman-temannya.

Inisiator. Inisiator dapat dilakukan pada prinsipnya siapa saja yang peduli akan pemerataan pembelajaran baik berupa individu, tokoh masyarakat, organisasi masyarakat, institusi pendidikan, tempat-tempat kerja, tempat-tempat ibadah, pemerintah, dll.

Para tokoh masyarakat, Ormas, LSM dan lain-lain dapat berperan memantau/menyemangati para peserta agar dengan sungguh-sungguh “berproses” kepada tujuan belajarnya. Masyarakat maupun lembaga-lembaga yang memiliki kompetensi terkait diharapkan membantu mengidentifikasi, bahkan bila mungkin, menyediakan sumber-sumber belajar yang diperlukan. Institusi pendidikan dan lembaga lain yang berkompeten hendaknya menyediakan sumber belajar terbuka (open learning resources) yang akan bisa dimanfaatkan oleh peserta bebas.

Mengingat sebagian besar masyarakat telah terlalu banyak yang terbiasa dengan bersekolah secara konvensional, kemampuan untuk belajar mandiri akan tergantung dengan pola bebas ini. Dengan demikian perlu adanya bahan belajar mandiri (BBM) karena kurang ada kemampuan otodidak dan tidak yakin akan berhasil, selalu ingin dibimbing, diarahkan, diberitahu dan lain-lain. Hal ini juga merupakan tantangan para inisiator maupun pemerintah untuk membantu lebih banyak tersedia bbm.


F. Pengendalian Mutu Bebas
Pengendalian mutu dapat dengan lebih mudah dilakukan pada materi-materi tertentu yang lebih terkait dengan perfarmunce ability daripada kemampuan konseptual. Pengendalian ini dimaksudkan agar terdapat standar minimal yang disesuaikan dengan kondisi si pelajar dan lingkungannya. Dalam dunia pendidikan formal hal ini dikenal dengan standar acuan patokan yakni level kemampuan tertentu yang menjadi rujukan pengusaan kemampuan peserta belajar.

Pengendalian ini dapat diperankan oleh lembaga-lembaga pendidikan konvensional yang ditunjuk yang dalam prakteknya hanya memfasilitasi terlaksananya ujian/tes penguasaan materi peserta bebas. Peran ini juga dapat dimainkan oleh segenap komponen bangsa yang potensial, institusi swasta, maupun LSM yang memiliki kompeteltsi yang relevan sebagai bentuk partisipasi aktif masyarakat. Adapun sasaran pengendalian mutu adalah kompetensi para peserta bebas dalam prosesnya menuju tujuan akhir belajarnya.


G. Mekanisme Bebas
Mekanisme pelaksanaan bebas yang penulis maksudkan secara sederhana dapat digambarkan dengan mengacu pada prinsip belajar dan kepentingan si belajar.

Para inisiator memberitahukan kurikulum berikut dengan sumber belajar standar buku-bukunya. Selanjutnya peserta bebas mencari tambahan referensi sendiri. Bila peserta telah merasa menguasai materi mereka dapat mengajukan ujian kepada inisiator.

Berikut ini digambarkan struktur subordinat dalam pendekatan yang berorientasi pada siswa/pembelajar5).

Gambar tersebut di atas merupakan pendekatan kepada siswa yang dilaksanakan di institusi pendidikan konvensional, sehingga beban lembaga penyelenggaran menjadi berat dan dibalik itu kebebasan siswa dirasa kurang.

Berikut ini bandingkan dengan pendekatan bebas yang penulis maksudkan dengan mengadaptasi bagan di atas. Dalam bagan berikut siswa/pebelajar masih menjadi pusat perhatian, namun kemandirian dan kedewasaan mereka sangat ditantang yang tentu saja peran orang tua maupu masyarakat sebaiknya menyertai proses belajar mereka.

Pendekatan Bebas yang penulis maksudkan dapat digambarkan sbb:

H. Bebas dalam Pandangan Islam
Menurut Agama Islam, ayat pertama dalam Al-Qur’an adalah IQRO’ yang berarti bacalah. Menyimak ayat pertama surat Al-Alaq ini (iqro’bismirobbika alladzi kholaq: bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan) sebenarnya dalam pandangan Al-Qur’an sejak diturunkan ayat tersebut umat Islam khususnya telah diperintahkan untuk “membaca’’. Tentu saja membaca dalam hal ini tidak hanya diartikan sebagaimana membaca tulisan di dalam buku, kitab, dan lain-lainnya, tetapi ia mengandung arti yang lebih luas dari itu. Menurut hemat penulis membaca dapat diartikan selain membaca dalam arti sesungguhnya tersebut adalah juga sebagai mengamati, menganalisa, mengambil pelajaran hikmah, dari lingkungan sekitar kita, diri kita sendiri, peristiwa, keteladanan, aktivitas sosial, dll. Lebih lanjut dalam surat Al-Alaq ayat lima (allamal insaanna maa lam ya’lam: Dia (pen: Allah) mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Bila dikaitkan dengan bebas, maka Al-Qur’an pun sejak ayat pertamanya telah menunjuk dan menginspirasikan pada kita untuk membaca (baca:belajar) dari berbagai sumber, walaupun tidak dijelaskan secara eksplisit di sana. Adapun ayat lima lebih eksplisit disinggung bahwa Allah (Tuhan) adalah sumber ilmu.

Dalam hal penafsiran terhadap ayat tersebut, para ulama rupanya telah sepakat bahwa iqro dapat dibagi/dijabarkan dalam tiga dimensi:
- Membaca diri sendiri (iqro’ bin-Nafs)
- Membaca alam semesta/lingkungan (iqro’ maa fi Samawati wal Ard)
- Membaca kitab (iqro’ bil Kutub)

Dengan demikian jelaslah bahwa sebenarnya bukan hanya konsep modern sekarang saja yang menyatakan bahwa belajar itu dapat dan sebaiknya Harus berbasis segala sumber yang memungkinkan. Bahkan telah diakui dan terbukti oleh berbagai kalangan terutama para Ilmuwan dan umat Islam sendiri bahwa .Al-Qur’an adalah sumber ilmu pengetahuan. Di kalangan umat Islam telah sangat populer adanya ajaran bahwa; apabila kulian ingin memperoleh kebaikan dengan ilmu dan apabila kalian ingin kebaikan pada keduanya hendaklah dengan ilmu pula. Maka dari itu jelaslah khususnya bagi umat Islam, Al-Qur’an bukan sekedar sumber belajar, tetapi pedoman/tuntunan hidup. Demikian pula tentunya umat yang beragama selain Islam menyakini bahwa kitab sucinya dapat merupakan sumber belajar dan pedoman hidup mereka.

I. Penutup
Inilah sebuah pemikiran dan apabila diperkuat dengan pemikiran-pemikiran lain tentu akan lebih baik dan berpengharapan. Dan bahkan bila muncul pemikiran yang berbeda tentu hal ini juga sebuah pemikiran yang bila digambarkan sebuah pemikiran dari masing-masing kita, yang peduli tentunya, akan menjadi kumpulan pemikiran yang luar biasa yang diharapkan menjadi salah satu solusi krisis multi dimensi masa kini. Penulis menyadari di sana sini terdapat kekurangan, baik kurang operasinal, terlalu teoritis, tidak jelas maksudnya dan lain-lain. Namun paling tidak, penulis harapkan paper ini menggugah dan merangsang pemikiran kita akan nasib anak bangsa yang kurang beruntung untuk dapat berkemampuan, berketerampilan, bersikap sebagaimana mereka yang lebih dulu menikmatinya pembelajaran yang baik.

ke atas  
ke daftar isi
 

 

 

 

 

 

 

   
 


GURU DAN MEDIA PEMBELAJARAN
Oleh: Ade Koesnandar*)


Abstrak
Sekurang-kurangnya ada enam alasan mengapa sampai saat ini masih ada sejumlah guru yang enggan menggunakan media dalam pembelajaran. Keenam alasan tersebut adalah sebagai berikut; Pertama, menggunakan media itu repot, kedua, media itu canggih dan mahal, ketiga, tidak bisa menggunakannya, keempat, media itu hiburan sedangkan belajar itu serius, kelima, tidak tersedia media di sekolah, keenam, kebiasaan menikmati bicara. Untuk mengatasi semua alasan tersebut hanya sedikit yang diperlukan, yaitu perubahan sikap.


GURU DAN MEDIA
Dahulu ada anggapan bahwa guru adalah orang yang paling tahu. Paradigma itu kemudian berkembang menjadi guru lebih dahulu tahu. Namun sekarang bukan saja pengetahuan guru bisa sama dengan murid, bahkan murid bisa lebih dulu tahu dari gurunya. Itu semua dapat terjadi akibat perkembangan media informasi di sekitar kita. Pada saat ini guru bukan lagi satu-satunya sumber belajar. Banyak contoh, di mana siswa dapat lebih dahulu mengakses informasi dari media masa seperti surat kabar, televisi, bahkan internet. Bagaimana guru menyikapi perkembangan ini? Ada tiga kelompok guru dalam menyikapi hal ini, yaitu tidak peduli, menunggu petunjuk, atau cepat menyesuaikan diri.

Kelompok pertama yaitu mereka yang tidak peduli. Seorang guru yang mempunyai rasa percaya diri berlebihan (over confidence) barangkali akan berpegang kepada anggapan bahwa sampai kapanpun posisi guru tidak akan tergantikan. Dalam setiap proses pembelajaran tetap diperlukan sentuhan manusiawi. Teknologi tidak bisa menggantikan manusia. Bagaimanapun teknologi berkembang, guru adalah guru, harus digugu dan ditiru. Benar bahwa media tidak dapat menggantikan guru, namun sikap tidak peduli terhadap perkembangan, bukanlah sikap yang tepat. Walau bagaimana, lingkungan kita terus berkembang, tuntutan masyarakat terhadap kualitas guru semakin meningkat. Kita tidak bisa tak peduli.

Kelompok kedua adalah yang menunggu petunjuk. Kelompok inilah yang paling banyak ditemukan. Mungkin ini akibat dari kebijakan selama ini, di mana guru dalam system pendidikan nasional hanya dianggap sebagai “tukang” melaksanakan kurikulum yang demikian rinci dan kaku. Kurikulum yang sangat lengkap dengan berbagai petunjuk pelaksanaannya, sehingga guru tinggal melaksanakan, tanpa boleh menyimpang dari pedoman baku.

Sejalan dengan perubahan kurikulum dan otonomi pendidikan, bukan lagi masanya bagi guru untuk selalu menunggu petunjuk. Guru adalah tenaga profesional, bukan tukang. Oleh karena itu, sikap yang tepat untuk kita adalah cepat menyesuaikan diri. Guru perlu segera mereposisi perannya. Pada saat ini guru tidak lagi harus menjadi orang yang paling tahu di kelas. Namun ia harus mampu menjadi fasilitator belajar. Ada banyak sumber belajar yang tersedia di lingkungan kita, apakah sumber belajar yang dirancang untuk belajar ataukah yang tidak dirancang namun dapat dimanfaatkan untuk belajar. Guru yang baik akan merasa senang kalau muridnya lebih pandai dari dirinya.


MENGAPA PERLU MEDIA?
Pernahkah anda menghadapi kesulitan dalam menjelaskan suatu meteri pelajaran kepada murid anda? Misalnya, anda ingin menjelaskan tentang seekor binatang yang disebut gajah kepada siswa SD kelas awal. Atau anda ingin menjelaskan tentang kereta api kepada murid anda yang berada di Kalimantan, Irian, atau di tempat lain yang tidak ada kereta api. Atau anda ingin menjelaskan tentang apa itu pasar terapung. Ada beberapa cara yang mungkin anda lakukan.

- Cara pertama, anda akan bercerita tentang gajah, kereta api, atau pasar terapung. Anda bisa bercerita mungkin karena pengalaman, membaca buku, cerita orang lain, atau pernah melihat gambar ketiga objek itu. Apabila murid anda tersebut sama sekali belum tahu, belum pernah melihat dari televisi atau gambar di buku misalnya, maka betapa sulitnya anda menjelas hanya dengan kata-kata tentang objek tersebut. Kalau anda seorang yang ahli bercerita, tentu cerita anda akan sangat menarik bagi murid-murid. Namun tidak semua orang diberikan karunia kepandaian bercerita. Penjelasan dengan kata-kata mungkin akan menghabiskan waktu yang lama, pemahaman murid juga berbeda sesuai dengan pengetahuan mereka sebelumnya, bahkan bukan tidak mungkin akan menimbulkan kesalahan persepsi.

- Cara kedua, anda membawa murid studi wisata melihat objek itu. Cara ini merupakan yang paling efektif dibandingkan dengan cara lainnya. Namun berapa biaya yang harus ditanggung, dan berapa lama waktu diperlukan? Cara ini walaupun efektif tapi tidak efisien. Tidak mungkin untuk belajar semua orang harus mengalami segala sesuatu.

- Cara ketiga, anda membawa gambar, foto, film, video tentang objek tersebut. Cara ini akan sangat membantu anda dalam memberikan penjelasan. Selain menghemat kata-kata, menghemat waktu, penjelasan andapun akan lebih mudah dimengerti oleh murid, menarik, membangkitkan motivasi belajar, menghilangkan kesalahan pemahaman, serta informasi yang anda sampaikan menjadi konsisten.

Ketiga cara di atas dapat kita sebutkan cara pertama sebagai informasi verbal, cara kedua berupa pengalaman nyata, sedangkan cara ketiga informasi melalui media. Di antara ketiga cara tersebut, cara ketiga adalah cara yang paling bijaksana dilakukan. Media kita perlukan agar pembelajaran lebih efektif dan efisien.

MENGAPA GURU (TIDAK) MENGGUNAKAN MEDIA?
Masalahnya, mengapa sampai saat ini masih ada guru yang enggan menggunakan media dalam mengajar? Berdasarkan pengalaman dan diskusi dalam berbagai kesempatan dengan para guru, sekurang-kurangnya ada enam penyebab guru tidak menggunakan media, yaitu;

- Pertama, menggunakan media itu repot.
Mengajar dengan menggunakan media perlu persiapan. Apalagi kalau media itu semacam OHP atau video. Perlu listrik lagi. Guru sudah repot dengan menulis persiapan mengajar. Jadwal padat, urusan di rumah dan lain-lain. Boro-boro sempat memikirkan media. Demikian kurang lebih alasan yang sering dikemukakan para guru. Padahal kalau sedikit saja mau berpikir dari aspek lain, bahwa dengan media pembelajaran akan lebih efektif, maka alasan repot itu akan hilang. Pikirkanlah bahwa dengan sedikit repot, tapi mendapatkan hasil optimal. Media juga relatif awet, sekali menyiapkan dapat dipakai beberapa kali sajian. Selanjutnya tidak repot lagi.

- Kedua, media itu canggih dan mahal.
Tidak selalu media itu harus canggih dan mahal. Nilai penting dari sebuah media bukan terletak pada kecanggihannya (apalagi harganya yang mahal) namun terletak pada efektivitas dan efisiensinya dalam membantu proses pembelajaran. Banyak media sederhana yang dapat dikembangkan sendiri oleh guru dengan harga murah. Kalaupun dibutuhkan media canggih semacam audio visual atau multimedia, itu cost-nya akan menjadi murah apabila dapat digunakan oleh lebih banyak siswa.

- Ketiga, tidak bisa.
Demam teknologi ternyata menyerang sebagian dari guru kita. Ada beberapa guru yang “takut” dengan peralatan elektronik, takut kesetrum, takut salah pijit. Alasan ini menjadi lebih parah kalau ditambah dengan takut rusak, sehingga media audio visual sejak beli baru tetap tersimpan rapih di ruang kepala sekolah. Sebenarnya, dengan sedikit latihan dan mengubah sikap bahwa media itu mudah dan menyenangkan, maka segala sesuatunya akan berubah.

- Keempat, media itu hiburan sedangkan belajar itu serius.
Alasan ini jarang ditemui, namun ada. Menurut pendapat orang-orang terdahulu belajar itu sesuatu yang serius. Belajar harus mengerutkan dahi. Media itu identik dengan hiburan. Hiburan adalah hal yang berbeda dengan belajar. Tidak mungkin belajar sambil santai. Ini memang pendapat orang-orang jaman dulu. Paradigma belajar kini sudah berubah. Kalau bisa dilakukan dengan menyenangkan, mengapa harus dengan menderita. Kalau bisa dilakukan dengan mudah, mengapa harus menyusahkan diri?


- Kelima, tidak tersedia.
Tidak tersedia media di sekolah, mungkin ini adalah alasan yang masuk akal. Tapi seorang guru tidak boleh menyerah begitu saja. Ia adalah seorang profesional yang harus penuh inisiatif. Seperti telah disebutkan di atas, media tidak harus selalu canggih, namun dapat juga dikembangkan sendiri oleh guru. Namun demikian, dalam hal ini pimpinan sekolah juga hendaklah cepat tanggap. Jangan biarkan suasana kelas itu gersang, hanya ada papan tulis dan kapur.

- Keenam, kebiasaan menikmati bicara.
Berbicara itu memang nikmat. Ini kebiasaan yang sulit diubah. Seorang guru cenderung mengikuti cara gurunya dahulu. Mengajar dengan mengandalkan verbal lebih mudah, tidak memerlukan persiapan yang banyak, jadi lebih enak untuk guru. Namun yang harus dipertimbangkan dalam proses pembelajaran adalah kepentingan murid yang belajar, bukan kepuasan guru semata.


APA PERTIMBANGAN DALAM MEMILIH MEDIA PEMBELAJARAN?
Ada sejumlah pertimbangan dalam memilih media pembelajaran yang tepat. Untuk lebih mudah memngingatnya, pertimbangan tersebut dapat kita rumuskan dalam satu kata ACTION, yaitu akronim dari; access, cost, technology, interactivity, organization, dan novelty.

- Access.
Kemudahan akses menjadi pertimbangan pertama dalam memilih media. Apakah media yang kita perlukan itu tersedia, mudah, dan dapat dimanfaatkan oleh murid? Misalnya, kita ingin menggunakan media internet, perlu dipertimbangkan terlebih dahulu apakah ada saluran untuk koneksi ke internet? Akses juga menyangkut aspek kebijakan, misalnya apakah murid diijinkan untuk menggunakannya? Komputer yang terhubung ke internet jangan hanya digunakan untuk kepala sekolah, tapi juga guru, dan yang lebih penting untuk murid. Murid harus memperoleh akses

- Cost.
Biaya juga harus dipertimbangkan. Banyak jenis media yang dapat menjadi pilihan kita. Media canggih biasanya mahal. Namun, mahalnya biaya itu harus kita hitung dengan aspek menfaatnya. Semakin banyak yang menggunakan, maka unit cost dari sebuah media akan semakin menurun.

- Technology.
Mungkin saja kita tertarik kepada satu media tertentu. Tapi kita perlu perhatikan apakah teknologinya tersedia dan mudah menggunakannya? Katakanlah kita ingin menggunakan media audio visual di kelas. Perlu kita pertimbangkan, apakah ada listrik, voltase listrik cukup dan sesuai?

- Interactivity.
Media yang baik adalah yang dapat memunculkan komunikasi dua arah atau interaktivitas. Setiap kegiatan pembelajaran yang anda kembangkan tentu saja memerlukan media yang sesuai dengan tujuan pembelajaran tersebut.

- Organization.
Pertimbangan yang juga penting adalah dukungan organisasi. Misalnya, apakah pimpinan sekolah atau yayasan mendukung? Bagaimana pengorganisasiannya. Apakah di sekolah ini tersedia satu unit yang disebut pusat sumber belajar?

- Novelty.
Kebaruan dari media yang anda pilih juga harus menjadi pertimbangan. Media yang lebih baru biasanya lebih baik dan lebih menarik bagi siswa.


PENUTUP
Tidak diragukan lagi kita semua dapat sepakat bahwa media itu perlu dalam pembelajaran. Kalau sampai hari ini masih ada yang belum menggunakan media, itu hanya perlu sedikit perubahan sikap. Dalam memilih media, perlu disesuaikan dengan kebutuhan, situasi dan kondisi masing-masing.


DAFTAR PUSTAKA
De Porter, Bobbi & Mike Hernacki, Quantum Learning, Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan, KAIFA Bandung, 1999.
Kemp, Jerrold E, Designing effective Instruction, MacMillan Publisher, New York, 1994.
Molenda, Heinich Russell, Instructional Media and The New Technology of Instruction, John Wiley & Son, Canada, 1982.
Sadiman Arief, Media Pendidikan, Pengertian Pengembangan dan Pemanfaatan, Rajawali , Jakarta, 1990.
Wen, Sayling, Future of The Media, Memahami Zaman Teknologi Informasi, Lucky Publisher, Batam Centre, 2003.

ke atas  
ke daftar isi
 

 

 

 

 

 

 

 

   
 

SISTEM BELAJAR MANDIRI:
Dapatkah Diterapkan dalam Pola Pendidikan Konvensional?
Oleh: Uwes A. Chaeruman*)

Abstrak
Sistem belajar mandiri adalah cara belajar yang lebih menitikberatkan pada peran otonomi belajar kepada pebelajar. Dalam pendidikan dengan sistem belajar mandiri, pebelajar diberikan kemandirian (baik secara individu atau kelompok) dalam menentukan 1) tujuan belajarnya (apa yang harus dicapai); 2) apa yang harus dipelajari dan darimana sumbernya; 3) bagaimana mencapainya (strategi belajar); dan 4) kapan serta bagaimana keberhasilan belajarnya diukur (evaluasi). Belajar mandiri juga dapat dipandang sebagai metode (proses) maupun tujuan (produk). Sebagai proses, belajar mandiri dijadikan sebagai metode/cara dalam sistem pembelajaran tertentu. Sedangkan sebagai produk, mengandung arti bahwa suatu sistem pembelajaran dengan berbagai strateginya ditujukan untuk menghasilkan pebelajar mandiri. Sebenarnya pendidikan dengan sistem belajar mandiripun, secara tidak langsung akan membantu dan mengembangkan kecakapan belajar mandiri. Sehingga, pendidikan dengan sistem belajar mandiri dapat menghasilkan pebelajar mandiri. Pada dasarnya, sistem belajar mandiri bukan hanya milik pendidikan jarak jauh. Tapi, dapat diterapkan dalam semua pola pendidikan, termasuk dalam pola pendidikan konvensional. Dalam rangka membentuk manusia sebagai pebelajar mandiri yang dibutuhkan di abad 21, maka penerapan sistem belajar mandiri atau metode lain yang dapat membentuk kemampuan belajar mandiri perlu digalakan dalam semua pola pendidikan.


PENDAHULUAN
Sampai saat ini, belajar mandiri dikenal sebagai salah satu sistem pembelajaran yang diterapkan dalam pendidikan terbuka atau jarak jauh. Tidak semua orang memahami dengan baik konsep belajar mandiri, bahkan akademisi. Berdasarkan pengalaman penulis, di kampus, beberapa akademisi (mahasiswa) masih banyak yang belum memahami betul tentang konsep belajar mandiri atau istilah terkait lain seperti belajar individual, belajar sendiri, belajar terbuka atau jarak jauh, dll. Ada beberapa pertanyaan fundamental yang sering muncul di kalangan akademisi: 1) apakah sebenarnya yang dimaksud dengan belajar mandiri?; 2) mengapa belajar mandiri diterapkan untuk pendidikan terbuka atau jarak jauh?; 3) apakah hanya dapat diterapkan dalam pendidikan terbuka dan jarak jauh?; 4) dapatkah diterapkan dalam pendidikan konvensional?; 5) jika jawabannya ya, mengapa dan bagaimana?

Dalam makalah ini, penulis ingin berbagi gagasan tentang konsep belajar mandiri dan aplikasinya dalam pendidikan, bukan hanya untuk pendidikan jarak jauh. Pada dasarnya, sistem belajar mandiri dapat diterapkan dalam semua pola pendidikan, baik konvensional maupun non-konvensional (seperti pendidikan terbuka dan jarak jauh). Disamping itu, penulis juga ingin berbagi pengalaman tentang penerapan belajar mandiri dalam pendidikan konvensional. Dengan harapan gagasan yang disampaikan dalam makalah singkat ini dapat memperluas wawasan akademisi dan professional lain dalam bidang pendidikan tentang belajar mandiri dan penerapannya. Penulis juga ingin berbagi ide bahwa belajar mandiri dapat dipandang sebagai proses (metode) dan produk (tujuan). Penulis ingin mengajak pembaca untuk memikirkan ulang pernyataan kedua. Pebelajar mandiri sebagai produk dari suatu institusi pendidikan sangatlah penting dan dibutuhkan dalam abad 21 ini.


KONSEPSI BELAJAR MANDIRI
Ada beberapa istilah yang mengacu pada pengertian yang sama tentang belajar mandiri. Istilah-istilah tersebut antara lain adalah 1) independent learning, 2) sel-directed learning, 3) autonomous learning.1) Wedemeyer (1973) menjelaskan bahwa belajar mandiri adalah cara belajar yang memberikan derajat kebebasan, tanggung jawab dan kewenangan yang lebih besar kepada pebelajar dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan belajarnya. Pebelajar mendapatkan bantuan bimbingan dari guru atau orang lain tapi bukan bearti harus bergantung kepada mereka.2)

Rowntree (1992), mengutip pernyataan Lewis dan Spenser (1986) menjelaskan bahwa ciri utama pendidikan terbuka yang menerapkan sistem belajar mandiri adalah adanya komitmen untuk membantu pebelajar memperoleh kemandirian dalam menentukan keputusan sendiri tentang 1) tujuan atau hasil belajar yang ingin dicapainya; 2) mata ajar, tema, topic atau issu yang akan ia pelajari; 3) sumber-sumber belajar dan metode yang akan digunakan; dan 4) kapan, bagaimana serta dalam hal apa keberhasilan belajarnya akan diuji (dinilai).3) Pengertian senada juga dijelaskan oleh Knowles (1975), belajar mandiri adalah suatu proses dimana individu mengambil inisiatif dengan atau tanpa bantuan orang lain untuk 1) mendiagnosa kebutuhan belajarnya sendiri; 2) merumuskan/menentukan tujuan belajarnya sendiri; 3) mengidentifikasi sumber-sumber belajar; 4) memilih dan melaksanakan strategi belajarnya; dan 4) mengevaluasi hasil belajarnya sendiri.4)

Dari beberapa pendapat ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa dalam pendidikan dengan sistem belajar mandiri pebelajar diberikan kemandirian (baik secara individu atau kelompok) dalam menentukan 1) tujuan belajarnya (apa yang harus dicapai); 2) apa saja yang harus dipelajari dan dari mana sumber belajarnya (materi dan sumber belajar); 3) bagaimana mencapainya (strategi belajar); dan 4) kapan serta bagaimana keberhasilan belajarnya diukur (evaluasi).


KARAKTERISTIK BELAJAR MANDIRI
Belajar mandiri juga tidak dapat dipandang sebagai sesuatu yang diskrit, tapi merupakan suatu kontinum. Inti dari konsep belajar mandiri terletak pada otonomi belajar. Artinya, semakin besar derajat otonomi/kemandirian (peran kendali, inisiatif, atau pengambilan keputusan) diberikan oleh suatu lembaga pendidikan (guru/dosen) kepada pebelajar dalam menentukan keempat komponen diatas, maka semakin tinggi (murni) derajat sistem belajar mandiri yang diberikan oleh suatu lembaga pendidikan tersebut. Moore (1977) seperti dikutip oleh Keegan (1990) menyatakan bahwa derajat kemandirian belajar yang diberikan kepada pebelajar dapat dilihat dari tiga asoek 1) kemandirian dalam menentukan tujuan: apakah penentuan tujuan belajar ditentukan oleh guru atau pebelajar? 2) kemandirian dalam menentukan metode belajar: apakah pemilihan dan penggunaan sumber belajar dan media lain keputusannya dilakukan oleh guru atau pebelajar?; 3) kemandirian dalam menentukan evaluasi: apakah keputusan tentang metode evaluasi serta criteria yang digunakan ditentukan guru atau pebelajar? 5)

Moore juga memberikan contoh derajat kemandirian belajar yang diterapkan dalam suatu pembelajaran tertentu sebagai berikut:

Contoh Penentuan Penentuan Evaluasi
Tujuan Strategi

1. Privat O O O
2. University of London External
Degree O O NO
3. Belajar Keterampilan Olah Raga O NO O
4. Belajar Mengemudi Kendaraan O NO NO
5. Learner Control Course and
Evaluation NO O O
6. Kebanyakan Kursus/Kuliah
dengan Belajar Mandiri NO O NO
7. Independent Study for Credit N N N

Diadaptasi dari Moore (1977)

Keterangan: O = Otonom (ditentukan oleh pebelajar)
NO = Non-otonom (tidak ditentukan oleh pebelajar)

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa privat merupakan salah satu contoh suatu pembelajaran yang benar-benar menerapkan sistem belajar mandiri murni. Sedangkan belajar mandiri untuk mencapai suatu kredit adalah contoh pembelajaran yang benar-benar tidak menerapkan sistem belajar mandiri.


BELAJAR MANDIRI SEBAGAI METODE VS BELAJAR MANDIRI SEBAGAI TUJUAN
Candy (1975), menyatakan bahwa belajar mandiri dapat dipandang sebagai proses atau produk. Artinya belajar mandiri dapat dipandang sebagai metode atau tujuan. Belajar mandiri sebagai proses (metode) mengandung makna bahwa belajar mandiri dijadikan sebagai cara untuk mencapai tujuan pendidikan dimana pebelajar diberikan kemandirian yang relatif lebih besar dalam menentukan ketiga aspek seperti dijelaskan Moore diatas. Belajar mandiri sebagai produk (tujuan) mengandung makna bahwa setelah mengikuti pembelajaran tertentu pebelajar diharapkan menjadi seorang pebelajar mandiri (independent learner).6)

Dalam konteks yang kedua ini, belajar mandiri dianggap sebagai keterampilan hidup yang harus dikuasai oleh setiap orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dunia industri sangat membutuhkan professional bisnis yang memiliki kecakapan belajar mandiri. Karena dalam konteks bisnis, setiap individu dituntut untuk terus belajar sepanjang karirnya.7) Down (1994) dan Mullen (1997), dari hasil penelitiannya menyatakan bahwa setiap organisasi bisnis mengharapkan lulusan perguruan tinggi yang memiliki kemampuan dalam memecahkan masalah, beradaptasi dengan perubahan-perubahan (belajar terus menerus) dan berkolaborasi dengan orang lain.8) Lebih jauh, Hughes (2000) menyatakan bahwa kemampuan untuk belajar dan mengaplikasikannya secara mandiri seharusnya menjadi karajteristik yang membedakan antara mahasiswa baru dan mahasiswa lama.9) Issu ini telah menjadi sedemikian pentingnya bagi isntitusi pendidikan di beberapa negara maju seperti Penn’ State University10), Cuya Hoga Community College11), Open University of Hongkong12) dan lain-lain.

Dari beberapa keterangan diatas jelas menunjukkan bahwa belajar mandiri tidak hanya menjadi metode, tapi lebih jauh merupakan tujuan. Pebelajar mandiri telah menjadi produk yang diharapkan oleh setiap institusi pendidikan, khususnya perguruan tinggi karena pebelajar mandiri juga merupakan kebutuhan dunia kerja.

Belajar Mandiri: antara Pendidikan Jarak Jauh dan Pola Konvensional
Dengan melihat konsepsi dan karakteristik belajar mandiri diatas, maka timbul pertanyaan, “Apakah belajar mandiri hanya dapat diterapkan dalam pendidikan jarak jauh?” Mengapa pendidikan jarak jauh menggunakan sistem belajar mandiri? Apakah sistem belajar mandiri dapat diterapkan dalam pola konvensional?

Jawabnya, belajar mandiri dapat diterapkan dalam pendidikan jarak jauh maupun pola pendidikan konvensional. Pada prinsipnya, sejauh suatu sistem pembelajaran memberikan otonomi/kemandirian yang lebih besar kepada pebelajar untuk mengendalikan belajarnya maka dapat dikatakan bahwa sistem pembelajaran tersebut menerapkan sistem belajar mandiri. Knowless mengatakan bahwa beda antara pembelajaran yang menggunakan sistem belajar mandiri dengan yang tidak dapat dilihat dari: 1) apakah pembelajaran yang digunakan lebih berpusat pada pebelajar (student centered) atau tidak; 2) apakah pembelajaran yang digunakan lebih bersifat dari bawah ke atas (bottom-up) atau tidak; dan 3) apakah pembelajaran yang digunakan lebih banyak dikendalikan oleh pebelajar (student-directed) atau guru.

Dalam pendidikan konvensional, menurut pengalaman penulis, lebih banyak masih bersifat “teacher-centered” atau “teacher-directed”. Padahal, seiring dengan perkembangan teori belajar, khususnya konstruktifisme, hal itu tidak perlu terjadi lagi. Bahkan, tidak hanya dalam pendidikan orang dewasa, tapi dalam pendidikan anakpun (preschool education) sudah semestinya menggunakan pendekatan student center atau student directed learning.

Sebagai kesimpulan, mengingat: 1) telah terjadinya pergeseran paradigma pendidikan dari “teacher-centered” ke “student-centered”; dan 2) pentingnya pebelajar mandiri sebagai produk institusi pendidikan, maka sistem belajar mandiri sangat memungkinkan diterapkan di berbagai pola pendidikan. Tidak hanya terbatas pada pendidikan jarak jauh. Pendidikan jarak jauh memiliki karakteristik utama terpisahnya antara pebelajar dan guru atau tutor. Oleh karena itu, sebagai konsekuensi logis dari karakteristik tersebut maka pendidikan jarak jauh menerapkan sistem belajar mandiri.


KONSEKUENSI PENERAPAN SISTEM BELAJAR MANDIRI
Namun demikian, penerapan sistem belajar mandiri memiliki konsekuensi yang berbeda. Para Ahli menyarankan beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menerapkan sistem belajar mandiri baik dalam pendidikan jarak jauh maupun dalam pola pendidikan konvensional. Hal-hal tersebut adalah kita harus menyadari bahwa peristiwa belajar yang optimal terjadi dalam kondisi-kondisi tertentu. Race (1994)13), mengidentifikasi bahwa peristiwa belajar yang optimal terjadi apabila:
• Pebelajar merasa menginginkan untuk belajar (want to learn).
• Belajar dengan melakukan (learning by doing) melalui praktek, trial and error dan lain-lain.
• Belajar dari umpan balik (learning from feedback), baik dari orang lain (tutor, guru, teman) atau diri sendiri (seeing the result).
• Mendalami sendiri (digesting), artinya membuat apa yang telah mereka pelajari masuk akal dan dapat dirasakan sendiri aplikasinya bagi kehdiupannya.
• Sesuai dengan situasi dan kondisinya (at their own pace).
• Pada saat dan tempat yang mereka pilih sendiri (at their own pace).
• Pebelajar mengendalikan sendiri belajarnya (feel in control of their learning)
• Sering bersama dengan kolega (often with other people around, especially fellow-learners).

Beberapa pernyataan diatas menunjukkan bahwa secara umum peristiwa belajar terjadi secara independent (mandiri). Disamping itu, persitiwa belajar terjadi apabila ditunjang oleh sumber belajar (resource-based learning). Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa, “most learning is indendent and resources-based”.

Apa implikasinya dalam pendidikan dengan menerapkan system belajar mandiri? Race (1994)14), menyatakan bahwa implikasi utamanya adalah perlunya mengoptimalkan sumber belajar dengan tetap memberikan peluang otonomi yang lebih besar kepada pebelajar dalam mengendalikan belajarnya. Bentuk-bentuk sumber belajar yang perlu dioptimalkan tersebut meliputi:
• Sumber belajar berupa orang (human resources); seperti tutor, guru, atau teman sejawat. Dalam menerapkan system belajar mandiri, peran guru/tutor bergeser dari pemberi informasi menjadi fasilitator dengan cara:
- Menyediakan berbagai sumber belajar yang dibutuhkan pebelajar;
- Merangsang gairah/selera/kemauan pebelajar untuk belajar.
- Memberi peluang kepada pebelajar untuk menguji atau mempraktekkan belajarnya;
- Memberikan umpan balik tentang perkembangan belajarnya; dan
- Membantu pebelajar bahwa apa yang telah dipelajarinya masuk akal dan berguna dalam kehidupannya (kontekstual).

Sementara itu, teman sejawat diberdayakan sebagai mitra belajar dengan cara memberikan peluang keapda mereka untuk:
- Belajar dari kesalahan satu sama lain;
- Saling membantu menyamakan perspektif dari apa yang telah dipelajari;
- Membantu satu sama lain mencari/bertuka/memberi sumber belajar yang terbaik; dan
- Mendiskusikan ide-ide atau konsep-konsep sulit bersama.

• Sumber Belajar berupa Informasi (Information-Type Resources); Secara histories, jenis sumber belajar berupa informasi biasanya ditulis/disimpan diatas kertas (paper-based) seperti buku, modul, jurnal, artikel, handout atau catatan, buku panduan, buku tugas, dll. Jenis sumber informasi seperti ini adalah yang paling umum digunakan dan paling mudah dikembangkan. Jenis sumber informasi lain, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi antara lain adalah paket belajar berbantuan computer (seperti CD ROM interaktif dan hypermedia), media komunikasi berbasiskan komputer (seperti computer conferencing, e-mail, online database, dan internet), atau media belajar lain seperti program video, program audio, practical kits dan lain-lain. Jenis yanag kedua ini kebanyakan memerlukan bantuan elektronik dan komputer (electronic and computer-based).

Bagaimana cara mengoptimalkan kedua sumber belajar tersebut? Phill Race (1994) menyarankan beberapa hal sebagai berikut:
- Motivasi untuk belajar sangat penting bagi pebelajar sehingga mereka mempunyai tanggung jawab untuk belajar secara mandiri. Oleh karenanya, semua sumber belajar (orang maupun non-orang) harus dirancang/direncanakan dan dikembangkan sedemikian rupa sehingga benar-benar atraktif agar dapat merangsang gairah/minat mereka untuk belajar/mempelajarinya.
- Belajar mandiri tergantung pada belajar sambil melakukan (learning by doing). Jangan biarkan pebelajar hanya mempelajari bahan belajar tanpa diberikan peluang untuk mempraktekkannya. Sumber belajar yang efektif adalah sumber belajar yang memberikan peluang kepada pebelajar memilih dan menentukan sendiri tugasnya dan mempraktekkannya.
- Pebelajar memerlukan umpan balik tentang perkembangan belajarnya. Sumber belajar (orang maupun non-orang) harus memungkinkan adanya pemberian umpan balik sebagai respon terhadap kegiatan belajar yang telah mereka lakukan.
- Pebelajar harus merasa bahwa apa yang dipelajarinya itu berarti bagi dirinya. Oleh karena itu mereka, harus memperoleh arti/makna tersebut dari latihan yang mereka lakukan, umpan balik yang mereka terima dan atau dari kegiatan melakukan tugas/praktek bersama kelompok (teman sejawat).


SISTEM BELAJAR MANDIRI DALAM POLA PENDIDIKAN KONVENSIONAL: CONTOH KASUS
Penulis telah mencoba menerapkan sistem belajar mandiri dalam beberapa mata kuliah yang penulis ampu. Salah satunya adalah dalam mata kuliah Pengenalan Komputer untuk mahasiswa S1 Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan. Dalam mata kuliah ini, mahasiswa diharapkan dapat menguasai minimal tiga program aplikasi komputer, yaitu MS Word, MSExcel dan MSPowerPoint. Sistem belajar mandiri ini dilakukan tiak semata-mata sebagai metode, tapi penulis mencoba melalui segala ktifitas yang dilakukan didalamnya berharap agar para mahasiswa tersebut secara tidak dapat mengembangkan keterampilan belajar mandiri.

Penulis sebagai dosen untuk mata kuliah tersebut berupaya memfasiltasinay dengan berbagai langkah sebagai berikut:
1. Pembahasan kontrak kuliah dengan cara membangun visi bersama (shared vision); pada awal perkuliahan, penulis menggambarkan secara umum mata kuliah Pengenalan Komputer kepada mahasiswa. Setelah itu, para mahasiswa, satu persatu diminta untuk menuliskan harapan masing-masing yang ingin dicapai diakhir mata kuliah. Dari 20 mahasiswa, dipilih satu harapan yang dianggap oleh semuanya sebagai harapan (visi) yang paling ideal. Visi bersama ini dijadikan sebagai tujuan umum pembelajaran oleh penulis. Setelah itu penulis, meminta mahasiswa untuk mengidentifikasi kompetensi-komptensi khsusu apa sajakah yang harus dikuasai agar tujuan umum (visi) tersebut tercapai. Dari hasil diskusi tersebut diperoleh beberapa tujuan pembelajaran khusus. Untuk membahas dua topik ini, memakan dua jam pelajaran atau 90 menit.

2. Pembahasan Strategi Belajar; Pada pertemuan berikutnya, baru membahas strategi belajar. Dalam hal ini penulis menjelaskan bahwa mahasiswa boleh belajar mulai dari mana saja (apakah mau belajar MSWord dulu, MS excel dulu atau MS Powerpoint dulu) dan boleh mengusulkan ujian kapan saja mereka siap. Dalam belajar mereka akan dibekali modul atau buku lain yang relevan dan aplikasi komputer itu sendiri sebagai sumber belajar non orang dan teman sejawat serta dosen sebagai sumber belajar orang. Dengan demikian, setiap kali pertemuan kuliah, mereka harus datang dengan tujuan dan ide (apa yang mau mereka pelajari, apa yang mau mereka tanyakan, apa yang mau mereka lakukan).

3. Pembahasan Sistem Evaluasi; masih pada pertemuan yang sama, disampaikan kepada mahasiswa bahwa evaluasi dilakukan melalui: 1) sistem portfolio (mereka harus membuat refleksi belajar harian, evaluasi diri, evaluasi dari dua atau tiga orang teman lainnya, dan mereka harus menunjukkan tiga karya yang mereka anggap terbaik untuk dinilai; 2) Mid Test (test buatan dosen) dan 3) Ujian Akhir (dimana ia boleh mengusulkan kapan saja mereka siap dengan soal yang dibuat oleh mereka sendiri). Namun demikian dalam ujian akhir, mahasiswa diajak untuk berdiskusi menyusun kriteria penilaian ujian akhir termasuk bobotnya.

4. Pelaksanaan; dalam pelaksanaan tugas penulis sebagai fasilitator hanya berkeliling membimbing dan mengarahkan mereka.

Percobaan untuk mata kuliah dengan sistem belajar mandiri ini memberikan dampak yang luar biasa tidak hanya untuk hasil belajar tapi juga motivasi, gairah dan kepuasan belajar mahasiswa. Memnagajtrkan MSWord yang biasanya memakan waktu 8 kali pertemuan lebih dengan pola konvensional, dengan metode ini hanya memakan waktu 3-4 kali pertemuan. Disamping itu, dalam ujian kahir, mahasiswa beanr-benar menunjukkan produk terbaiknya untuk mengejar kriteria yang telah mereka susun bersama.

Namun demikian, metode ini, untuk mata kuliah yang sama, tidak berhasil bagi mahasiswa kelas alih program. Mereka masih memiliki tipe “dependent learner” sehingga harus dibimbing langkah per langkah secara bersama. Satu semester tidak cukup untuk mengajarkan MSWord. Hal ini mungkin lebih banyak disebabkan karena faktor: 1) kefamiliaran dengan komputer; 2) umur; 3) orientasi; 4) motivasi belajar dan lain-lain.

KESIMPULAN
Sistem belajar mandiri adalah cara belajar yang lebih menitik beratkan peran otonomi belajar kepada pebelajar. Dalam pendidikan dengan sistem belajar mandiri pebelajar diberikan kemandirian (baik secara individu atau kelompok) dalam menentukan 1) tujuan belajarnya (apa yang harus dicapai); 2) apa saja yang harus dipelajari dan dari mana sumber belajarnya (materi & sumber belajar); 3) bagaimana mencapainya (strategi belajar); dan 4) kapan serta bagaimana keberhasilan belajarnya diukur (evaluasi).

Belajar mandiri juga dapat dipandang sebagai proses (metode) maupun produk (tujuan). Sebagai proses, belajar mandiri dijadikan sebagai metode dalam sistem pembelajaran tertentu. Sedangkan sebagai produk mengandung arti bahwa suatu sistem pembelajaran dengan berbagai strateginya ditujukan menghasilkan pebelajar mandiri. Sebenarnya, pendidikan dengan sistem belajar mandiripun, secara tidak langsung akan membentu dan mengembangkan keterampilan belajar mandiri. Sehingga produknya adalah pebelajar mandiri.

Belajar mandiri tidak hanya dapat diterapkan dalam pendidikan jarak jauh. Tapi, dapat diterapkan dalam semua pola pendidikan sejauh otonomi belajar lebih besar diberikan kepada pebelajar. Dengan kata lain, sejauh suatu sistem pembelajaran lebih bersifat “student-centerd” atau “student-directed”. Namun demikian, dalam penerapannya terdapat beberapah konsekuensi yang harus dipertimbangkan agar berhasil secara optimal. Salah satunya adalah dengan mengoptimalkan atau memberdayakan segala sumber belajar baik yang berupa orang maupun non-orang. Semuanya itu harus dirancang dan dikembangkan sedemikian rupa agar sesuai dengan kebutuhan belajar mandiri.


DAFTAR PUSTAKA
Candy, Philip C., “Independent Learning: Some Ideas from Literature”, (http://www.brookes.ac.uk /services/ocsd/2_learntch/independent.html)
Cuya Hoga Community College, http://www.dle.tre-c.cc.ch.us/docs/l.html
Hughes, Peter, “Developing Independent Learning Skills”, http://www.herts.ac.uk./envstrat/HLP/ dowconfproc/proc2/hughes%20.htm. h. 7.
Irene, S. C. Siauw, Fostering Self-Directed Learning Readiness by Way of PBL Intervention in Bussiness Education”, Open University of Hongkong, http://www.TPK.edu.sg/pblconference/full/irene%20 siauw.pdf. h. 1
Keegan, Desmond, “Foundation of Distance Education”, (London: Routledge, 1990), h. 54.
Knowless, Malcolm S., “Self-Directed Learning: A Guide for Learners and Teachers” Rowntree, Derek, “Exploring Open and Distance Learning” (London: Kogan Page Limited, 1992) h. 61
Open University of Hongkong, http://www.TPK.edu.sg
Penn’ State University, “Independent Learning Student Guide”, http://www.utreach.pse.edu/DE/ie.html
Race, Phill (1994), A Fresh Look at Independent Learning, http://www.phil-race.net/a fresh look at independent learning.html.

ke atas
 
ke daftar isi
 

 

 

 

 

 

 

   
 

Menata Ulang Proses Pembelajaran
di Perguruan Tinggi *)

Oleh: Once Kurniawan**)


Abstrak
Banyak alasan yang dapat diketengahkan agar kita selalu bebenah diri dalam dunia pendidikan nasional, mulai dari pengelolaan lembaga pendidikan, proses pembelajaran, kompetensi dan kemampuan dosen sampai kepada kompetensi lulusan. Tanpa survei dan dukungan data sekalipun kita dapat mengatakan bahwa pendidikan nasional Indonesia saat ini tertinggal dengan pendidikan di manca negara. Tulisan-tulisan yang dimuat di media masa, akhir-akhir ini semuanya bernada sama yaitu ingin melakukan pembenahan pendidikan nasional. Hal ini sangat positif dan harus disambut baik, guna melakukan pembenahan, peningkatan dan penyempurnaan secara menerus.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan perkembangan TI berperan besar untuk mendorong agar selalu dilakukan pembenahan dalam bidang pendidikan. Banyak agenda yang harus dibenahi; salah satunya yaitu proses pembelajaran di perguruan tinggi. Banyak lulusan perguruan tinggi dengan kadar pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki tidak siap untuk bekerja maupun melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. Konsep link and match yang pernah dikembangkan, tidak banyak memberikan hasil yang mengembirakan atau tidak dapat dikatakan sukses sehingga saat ini hanya tinggal kenangan.

Kendatipun tidak mudah dan masih memerlukan waktu panjang dalam pengembangan namun pembenahan proses pembelajaran harus dilakukan. Perlu ada penataan ulang proses pembelajaran di perguruan tinggi. Penataan proses pembelajaran tidak semata hanya meliputi proses itu sendiri, namun harus dilakukan secara menyeluruh dan lengkap. Ada empat aspek yang harus disiapkan dalam menata ulang proses pembelajaran di perguruan tinggi, yaitu: (1) Mengubah paradigma masyarakat perguruan tinggi tentang proses pembelajaran (2) Mempersiapkan sumber daya dalam proses pembelajaran yang terdiri dari dosen, sarana pembelajaran dan sarana komunikasi dan TI, (3) Mempersiapkan content pembelajaran, sumber belajar yang menyangkut kurikulum, bahan ajar yang dilengkapi dengan multi media dan berbasis TI (4) Proses pembelajaran itu sendiri.
Makalah ini mencoba memaparkan penataan ulang proses pembelajaran yang dilakukan melalui empat aspek tsb. dengan segala aspek dan permasalahannya. Permasalahan dalam proses penataan tsb menjadi ide untuk dapat dikembangkan sebagai model-model riset sehingga diagnosa yang diduga untuk mencari jalan keluar dan solusi dari permasalahan tsb. dapat dicapai sesuai dan tepat sasaran.

PENDAHULUAN
Banyak alasan yang dapat diketengahkan agar kita selalu bebenah diri dalam dunia pendidikan nasional, mulai dari pengelolaan lembaga pendidikan, proses pembelajaran, kompetensi dan kemampuan dosen sampai kepada evaluasi dan kompetensi lulusan. Kalau ingin ditelah satu persatu maka agenda pembenahan sangat banyak dan membutuhkan waktu panjang, pembenahan dilakukan sejak pendidikan awal bagi seorang anak sampai kepada pendidikan di tingkat perguruan tinggi. Perguruan tinggi yang menyelenggaran pendidikan diploma-3 dan strata-1 merupakan pintu terakhir bagi seorang mahasiswa sebelum terjun ke dunia usaha, harus ditangani secara baik dalam proses pembelajaran, sehingga lulusan perguruan tinggi benar-benar siap terjun dalam dunia usaha, atau masih ingin melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi

Masih banyak masalah yang harus dibenahi dan ditata ulang, baik dalam tata kelola, kurikulum, kompetensi dasen, sarana dan prasarana, sampai kepada metode pembelajaran. Salah satu masalah pendidikan yang menarik yaitu proses pembelajaran di perguruan tinggi. Banyak kritik dan masukan baik lewat diskusi dan perdebatan di media elektronik maupun tulisan di media cetak membahas proses pembelajaran. Munculnya teori-teori untuk mengubah proses pembelajaran yang menempatkan mahasiswa agar lebih aktif; antara lain Fraire dengan teori pendidikan pembebasan, Bruffe mengemukakan Collaborative learning, teori Cosntructivist oleh Brooks and Brooks, Culture Perspective oleh Zhoads and Black [Zamroni, 156] . Semua teori tersebut bertujuan untuk mengubah proses pembelajaran yang bersifat monolog menjadi proses pembelajran yang febih memacu para coahasiswa menjadi pelaku aktif. Semua teori ini merupakan usaha dan rasa ketidak-puasan tevhadap proses pembelajaran secara monolog. Perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan tekrrolagi khususnya TI yang dapat dengan mudah menyediakan dan melengkapi sumber dan Giat belajar merupakan salah satu faktor utama yang sangat mempengaruhi bahkan menjadi pemicu utama dan sejalan dengan teori-teori di atas dalam mengubah kebiasaan dan budaya belajar.

Menurut survei yang dilakukan oleh Task Force Information Systems Curriculum ACM bahwa terjadi gap antara kompetensi lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan kemampuan tenaga kerja di dunia usaha. Hal ini dapat dipahami mengingat apa yang disiapkan dan dilakukan oleh para mahasiswa di perguruan tinggi berbeda dengan kebutuhan kemampuan tenaga kerja di dunia usaha. Pada perguruan tinggi, mahasiswa melakukan kegiatan learning/teaching, practicum, content mastery, systemic know mastery, tools and reference needed, portofolio. Sedangkan dalam dunia usaha/industri yang dibutuhkan kemampuan tenaga kerja yang melakukan communication skills, team building, systemic thinking, professionalism, quality, role of enterprise. Di sisi lain pergeseran paradigma dan apresiasi terhadap ilmu pengetahuan menempatkan sumber daya manusia yang berkualitas (knowledge worker) sebagai asset utama dan kunci penting dalam perusahaan mendorong perubahan besar dalam sikap dan kebiasaan belajar bagi pelaku belajar yang harus secara lebih aktif dengan cara beiajar learning how to learn. Dari semua paparan di atas apa yang harus ditakukan dalam proses pembelajaran? Yang jelas proses pembeiajaran saat ini masih berjalan secara monolog tidak sesuai dengan perkembangan jaman dan harus ditinggalkan.


SISTEM PEMBELAJARAN DI PERGURUAN TINGGI
Perkembangan dan perubahan dalam berbagai aspek kehidupan; perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kelihatannya tidak banyak menyentuh dan berpengaruh terhadap proses pembelajaran di perguruan tinggi Indonesia. Gaya pembelajaran searah yang merupakan legacy masih tetap digunakan sampai saat ini. Dosen sebagai faktor utama dan “pemain kunci” dalam proses pembelajaran, sedangkan mahasiswa sangat pasif dan hanya sebagai “penoton” dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran saat ini dilakukan secara monolog yang menempatkan mahasiswa sebagai objek daiam pembelajaran itu sendiri, sedangkan dosen sebagai pelaku atau subjek utama mendapat banyak kritik, sudah usang dan tidak sesuai dengan perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.Mahasiswa cenderung hanya belajar apabila ada ulangan, tes dan atau ujian. Ilmu pengetahuan yang disampaikan oleh dosen tidak terinternalisasi dalam diri mahasiswa. Pengetahuan yang dimiiiki sangat dangkai karena hanya bersifat hafalan. Hal ini terjadi karena proses belajar dan mengajar ditempatkan dalam proses yang terpisah satu dengan lainnya, yang sebenarnya harus terjadi interaksi yang mempertemukan dosen dan mahasiswa dalam suatu diskusi yang intens dan dialog yang dinamis.

Banyak faktor yang menyebabkan proses pembelajaran itu tidak banyak berubah antara lain, paradigma dosen dan mahasiswa tentang proses pembelajaran, budaya mengajar dan kemampuan dosen, gaya belajar mahasiswa, kurikulum, ketersediaan dan kelengkapan sumber dan alat belajar yang masih menempatkan mahasiswa sebagai objek dalam pendidikan menjadi lengkap dan sempurna bahwa proses pembelajaran tetap berjalan di tempat. Untuk memahami lebih rinci perlu dilihat secara jeli tentang aspek dalam suatu. system pembelajaran yang dapat dilihat pada gambar-1. Ada empat aspek yang juga turut berpengaruh terhadap proses pembelajaran dalam lembaga pendidikan yaitu sosial, ekonomi, budaya dan teknologi. Keempat aspek ini dikatakan pengaruh lingkungan jauh; kendatipun tidak langsung terasa dalam suatu proses pembeiajaran namun cukup berperan dan berpengaruh terhadap proses pembelajaran.

Perubahan struktur sosial, ekonomi, budaya, dan teknologi suatu bangsa mempengaruhl proses pendidikan bangsa tersebut. Dua aspek yang lebih dekat dengan proses pendidikan yaitu budaya dan teknologi. Budaya “memainkan” peran yang sangat besar dalam perilaku manusia dan paling lambat untuk berubah namun teknologi cepat berkembang dan berubah yang secara perlahan dapat juda menggeser perubahan budaya suatu bangsa.

Gambar-1. Model Sistem Pembelajaran

Faktor yang secara langsung berpengaruh terhadap proses pendidikan dan pembelajaran yaitu:
1. Dosen atau Pengajar
Peran dosen dalam pendidikan sangat penting. Dalam budaya bangsa yang paternalistik para mahsiswa masih sangat patuh kepada dosennya. Pemegang tampuk pimpinan yang sangat berpengaruh terhadap mahasiswa dalam pembelajaran yaitu dosen. Gaya, kebiasaan, disiplin, kemampuan dan kompetensi dosen daiam proses pembelajaran sangat menentukan hasil dari proses pembelajaran itu sendiri. Memang tanpa dukungan data, namun dapat dikatakan bahwa kemampuan dan kompetensi dosen di Indonesia masih harus dipertanyakan. Hal ini disebabkan oleh demand and supply, di mana masih sangat kurang dosen sedangkan kebutuhan akan tenaga dosen sangat banyak. Kelangkaan ini yang menyebabkan kemampuan dosen yang kurang memadai. Seorang lulusan dengan predikat jenjang strata-3, strata-2, dan bahkan strata-1, bisa langsung menjadi dosen yang mana hanya berbekal kepada ilmu yang dikuasai, tanpa dukungan teaching methodology dan kompetensi lainnya.

2. Mahasiswa
Dapat dikatakan bahwa rata-rata kemampuan mahasiswa yang memiliki kemampuan akademik baik kebanyakan terdapat pada perguruan tinggi negeri, hal ini karena seleksi masuk jauh lebih ketat, peminat banyak sedangkan jumlah penerimaan sedikit. Tidak dapat dipungkiri bahwa pada perguruen tinggi swasta pun dapat dijumpai kemampuan mahasiswa yang baik, namun kalau mau jujur secara nasional, rata-rata kemampuan mahasiswa masih dikatakan rendah. Bila diamati secara cermat bukan kemampuan mahasiswanya yang rendah tetapi kemampuan belajarnya yang rendah, learning habit belum terbentuk dengan baik. Kebanyakan para mahasiswa sangat pasif dalam proses pembelajaran. Memang tidak dapat disalahkan karena gaya pengajaran dan pembelajaran sejak sekolah dasar sampai kepada perguruan tinggi secara monolog yang menempatkan para siswa dan mahasiswa sebagai objek datam pembelajaran.

3. Sumber Belajar
Ketersediaan dan kelengkapan sumber belajar menjadi salah satu faktor yang menyebabkan proses pembelajaran menjadi tidak menarik. Seorang siswa atau mahasiswa hanya tergantung kepada guru atau dosen yang telah memiliki sumber belajar tersebut. Pada perguruan tinggi di daerah yang sangat langka dengan kelengkapan buku menjadi masalah besar. Mahasiswa cenderung pasif dan menunggu ilmu dari dosen, yang sebenarnya bisa lebih aktif dapat mencari dan mempelajari sendiri tanpa bantuan dosennya.

4. Alat Belajar
Sama dengan sumber belajar, kelangkaan dan ketidak tersediaannya alat belajar menyebabkan proses pembelajaran menjadi tidak menarik. Para mahasiswa sangat kurang, bahkan tidak rriemiliki kesempatan untuk menggunakan alat beiajar dengan baik. Aspek psychomotor tidak dipacu untuk mengekpresikan pengetahuan yang dimiliki. Hal ini menyebabkan kemampuan pemahaman dan penguasaan flmu pengetahuan dan keterampilan menjadi sangat rendah dan dangkal. Ketiadaan dan kekurangan alat belajar menyebakan para mahasiswa cenderung pasif dan hanya menerima dari dosen melalui penyampai secara teori.

5. Kurikulum dan Acara Perkuliahan
Terlalu banyak orang meributkan kurikulum yang saat ini lagi gencar dibicarakan dan disiskusikan. Dengan dikeluarkan SK Mendiknas No. 323/U/2000, dan No. 045/U/2002, merupakan langka maju dalam penataan kurikulum, namun masih banyak perguruan tinggi yang kebingungan, karena terlalu lama diatur selama ini, bila dilepas dan diberikan kebebasan masih ingin tetap diatur, sehingga selalu meminta acuan ‘karena kurang mampu mengembangkan sendiri. Di sisi lain yang tidak kalah pentingnya yaitu satuan acara perkuliahan. Dapat dikatakan yang menjadi acuan dari satuan acara perkuliahan yaitu hanya materi dan pokok bahasan, sedangkan mekanisme pembelajaran tidak diperhatikan dan dianggap tidak penting sehingga semua pembelajaran dianggap hanya dengan penyampaian material kuliah: Proses pembelajaran menjadi tidak menarik dan sangat membosankan, mahasiswa cenderung menghafal.

6. Peraturan Pemerintah dan Peraturan Institusi
Dengan terbitnya SK Mendiknas No. 184/U/2001 merupakan hawa segar bagi perguruan tinggi dalam mengatur proses pendidikan di masing-masing lembaga. Nafas SK. tersebut memberikan kebebasan kepada perguruan tinggi namun harus bertanggung jawab kepada masyarakat dan penyelenggaraan pendidikan itu sendiri. Selama ini peraturan pemerintah dan institusi tidak banyak mendukung proses pembelajaran yang dinamis, sehingga para mahasiswa dan institusi hanya menyelenggarakan pendidikan yang bersifat statis, hanya mengikuti peraturan dan rambu-rambu yang ditetapkan.


MENATA ULANG PROSES PEMBELAJARAN
Dari semua aspek yang telah: dijelaskan di atas perlu ada konsep dan ide untuk merombak proses pembelajaran tersebut dan menata ulang ke arah pembelajaran yang lebih dinamis; yang menempatkan para mahasiswa sebagai pelaku pembelajaran. Perlu dilakukan penelitian dalam kajian yang lebih mendalam apa yang harus dilakukan untuk merombak proses pembelajaran itu sendiri, dan bagaimana seharusnya mekanisme pembelajaran. Suatu dugaan dan hipotesis yang dapat dijadikan rekomendasi untuk menjawab sernua permasalahan di atas yaitu melakukan pola pembelajaran student centred learning, di mana mahasiswa diberikan peran secara aktif dalam pembelajaran, dengan membetuk study group untuk banyak melakukan kolaborasi, banyak mengerjakan tugas dan proyek serta penelitian, melakukan presentasi, dan disiplin yang didukung dengan moral dan ethic yang baik. Penggunaan TI dengan pola pembelajaran jarak jauh melalui internet merupakan salah satu cara mendorong para mahasiswa agar aktif dalam proses pembelajaran. Semua kegiatan pembelajaran di atas membawa mahasiswa memiliki gaya belajar learning how to learn .

Dari pengamatan dan kajian secara kualitatif tindakan untuk melakukan pembenahan proses pembelajaran dapat dilakukan melaiui empat aspek yang saling mendukung. Keempat aspek tersebut terlihat dalam dalam gambar-2 di bawah ini.


Gambar-2.
Model Penataan Proses Pembelajaran

Menata ulang proses pembelajaran dilakukan melalui empat aspek secara sistematik dan terencana sehingga dapat mencapai tujuan dan hasilkan yang baik. Aspek perubahan tersebut sesuai dengan gambar di atas dapat dijelaskan di bawah ini:
1. Mengubah paradigma masyarakat perguruan tinggi tentang proses pembelajaran.
Masyarakat perguruan tinggi yang terdiri dari pengelola pendidikan, dosen, mahasiswa, dan karyawan harus diberikan pengertian dan makna secara mendalam tentang proses pendidikan dan pembelajaran. Pemahaman tentang pembelajaran bukan berarti bahwa mahasiswa sebagai objek dalam proses pembelajaran yang hanya pasif menerima dan “menelan” semua informasi yang diberikan oleh dosen, namun mahasiswa sebagai subjek pelaku pembelajaran. Mahasiswa dapat mempelajari sendiri tanpa bantuan dari para dosennya. Budaya teacher teaching harus diubah dan diganti dengan student learning atau teacher cer.ter diganti dengan student activity. Mahasiswa harus aktif dalam proses pembelajaran sehingga proses pembelajaran menjadi suatu aktifitas yang menarik, dan harus dicari oleh mahasiswa. Di sisi lain dosen juga. harus memahami dengan baik tentang mekanisme proses pembelajaran yang menempatkan mahasiswa sebagai pelaku belajar. Dosen harus mengetahui bahwa dalam proses pembelajaran, dosen tidak mengajari tetapi kehadiran dosen menyebabkan mahasiswa belajar. Ada empat fungsi dari dosen yang harus diperankan secara sempurna dan merata, yaitu:
a. dosen sebagai creator, menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif antara dosen dan mahasiswa dan mahasiswa dengan mahasiswa lain.
b. dosen sebagai motivator yang membangkitkan motivasi dari para mahasiswa agar lebih aktif dan giat dalam belajar.
c. dosen sebagai moderator dan fasilitator dalam proses pembelajaran, dan mahasiswa yang aktif sebagai pelaku belajar.
d. dosen sebaaai leader dan resources datam memimpin proses pembelajaran, di samping memimpin juga sebagai tempat bertanya dari para mahasiswanya. Dengan peran dosen seperti ini akan mendorong mahasiswa lebih aktif dalam proses pembelajaran. Keaktifan mahasiswa tersebut akan menaikan mutu pendidikan dan penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan. Mahasiswa diajak dan ditekankan kepada learning how to learn. Pemahaman ini akan sangat mendorong para mahasiswa terus mencari ilmu pengetahuan sehingga dapat terbentuk long life learning,

2. Mempersiapkan Sumber Daya
Perguruan tinggi harus membenahi manajemennya, yang terdiri dari proses, sumber daya dan content. Perguruan tinggi harus membenahi semua proses dalam pengelolaan perkuliahan yang menyangkut semua prosedur. Untuk mendukung semua proses pengelolaan secara baik dengan menggunankan TI. Banyak proses yang harus dikelola dengan balk namun yang berkaitan dengan sumber daya yang harus disiapkan dan berhubungan erat dengan proses pembelajaran yaitu:
a. Pembinaan dan pengembangan kemampuan dosen
b. Persiapan sarana dan prasarana pembelajaran
c. Komunikasi dan TI berbasis web yang mendukung proses pembelajaran

Untuk mewujudkan proses pembelajaran secara baik di samping memiliki biro, upt, unit kegiatan lain yang telah ada, harus dibentuk pula
a. unit kerja yang berfungsi melakukan pembinaan dan pengembanan kemampuan dosen dalam teaching methodology, bidang keilmuan, penefitian dan penulisan jurnal, TI, manajemen dan pengembangan diri serta pembentukan karakter.
b. unit kerja yang berfungsi untuk membuat dan mengembangkan bahan ajar secara manual maupun dalam bentuk multi media (berbasis TI).
c. unit kegiatan yang berfungsi untuk mengelola dan bertanggung jawab penuh masalah teknofogi komunikasi dan TI yang mendukung proses pembelajaran.

Pembinaan dan pengembangan kemampuan dosen menjadi prioritas utama dalam menata proses pembelajaran di samping itu juga sebagai perwujudan dari learning organization bagi perguruan tinggi. Kemampuan dan kompetensi dosen harus dikembangkan dan ditingkatkan. Perguruan tinggi harus bisa melakukan survei dan penelitian kompetensi dan kemampuan para dosennya. Sehingga perguruan tinggi mengetahui secara jelas dan terarah jenis pelatihan dan pengembangan yang harus dilakukan oleh para dosennya.

Di sisi lain manajemen perguruan tinggi saat ini harus bisa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, perkembangan ekonomi dan teknologi. Di samping tata kelola dan penyelenggaraan harus bagus, perguruan tinggi layaknya menyediakan sarana dan prasarana yang memadai. Para mahasiswa dapat menggunakan semua sarana dan prasana berupa laboratorium, studio, bengkel, perpustakaan, sarana komunikasi dalam proses pembelajaran yang didukung oleh TI berbasis web, dan sarana penyediaan bahan ajar. Ketersediaan dan kelengkapan prasarana dan sarana sangat memicu dan memacu serta mendorong para mahasiswa lebih aktif dalam proses pembelajaran.

Para mahasiswa dapat dengan mudah mengakses semua bahan ajar dan bisa melakukan pembelajaran secara off campus, yang bebas dari waktu, ruang dan jarak. Penggunaan TI tidak hanya mendukung proses administrasi tetapi sampai kepada proses pembelajaran melalui media elektronik. Pertemuan antara mahasiswa dan dosen bisa melalui media maya dengan bantuan TI. Ketersediaan bahan ajar, ruang untuk berdiskusi antar mahasiswa dan dengan dosen, mengerjakan tugas dan menyampaikan tugas kepada dosen semuanya dilakukan melalui media elektronik. Para mahasiswa dan dosen tidak perlu harus bertatap muka dalam suatu tempat dan waktu yang sama namun bisa mengambit tempat yang sangat tersebar dan juga mungkin dengan waktu yang berbeda. Kegiatan ini tidak lagi dibatasi oleh ruang, waktu dan jarak yang mana sangat mendorong agar para mahasiswa memiliki kesadaran penuh akan komitmen dan tanggung jawabnya sebagai manusia pembelajar. Perubahan gaya belajar seperti ini merubah paradigma, kebiasaan dan budaya belajar, serta mendorong kemajuan dalam pendidikan di Indonesia. Dengan demikian mahasiswa tidak lagi hanya menerima, pengetahuan semata namun menjadi inisiator dalam menyampaikan pengetahuan kepada para mahasiswa lain dan dosennya.

3. Mempersiapkan Content Pembelajaran
Sejalan dengan penyiapan sarana komunikasi pembelajaran harus dilakukan yaitu penyediaan content pembela,jaran secara baik. Penyiapan contentterdiri dari :
A. Penyusunan Kurikulum
b. Penyusunan bahan ajar
c. Penyusunan satuan acara perkuliahan Kurikulum

Kurikulum yang digunakan hampir semua perguruan tinggi di Indonesia rata-rata “sangat melebar dan tidak dalam”. Mata kuliah yang diajarkan terlalu banyak, mungkin rata-rata mencapai 50 - 60 mata kuliah dengan jumlah 110 sks untuk diploma-3 dan 144 sks untuk strata-1. Perlu ada kajian yang mendalam terhadap jumlah mata kuliah yang demikan banyak. Alangkah baiknya apabila dengan jumlah sks yang sama namun memiliki jurolah mata kuliah yang lebih sedikit, sehingga para mahasiswa memiliki kedalaman ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari. Kukikulum harus berbasis kepada kompetensi ilmu pengetahuannya yang focus and deep. Turunkan jumlah mata kuliah sesuai dengan kompetensi lulusan prodinya, tawarkan peminatan yang fokus sesuai dengan kompetensinya.

Bahan Ajar
Untuk membuat para mahasiswa cepat memahami pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari perlu disiapkan bahan ajar secara multi media. Penyediaan bahan ajar yang sangat lengkap dan mudah diperoleh serta penggunaan alat peraga yang dilengkapi dengan gambar yang menarik, gerak, bunyi, simulasi dan dipandu oleh instruktur secara rnaya serta dapat dilakukan berulang-ulang (replay) membuat para mahasiswa akan betah dan mudah mencerna pengetahuandengan baik. Penggunaan TI dalam bahan ajar mencakup tiga cara belajar yaitu auditorial, visual dan kinestetik. Ketiga cara belajar ini diperankan sangat baik oleh TI dengan sangat baik, di mana pelaku belajar dapat mendengar, membaca, dan juga memperagakan walaupun dalam mayantara, namun dapat membentuk pengetahuan pelaku pelajar.

Satuan Acara Perkuliahan
Satuan Acara Perkuliahan yang disusun saat ini sudah baik namun kurang menekankan kepada learning outcomes dan mekanisme pembelajaran. SAP lebih menekankan kepada materi dan pokok bahasan, sehingga perkuliahan selama ini hanya menekankan kepada materi kuliah dan tidak kepada mekanisme pembeiajaran dan learning outcomes dari setiap pokok bahasan atau setiap pertemuan. Penerapan sks kelihatannya sudah bergeser, tidak lagi,mengikuti bakuan yang dikembangkan sejak awal dahulu. Mahasiswa tidak ada persiapan, tidak ada PR, dst, sehingga perkuliahan cenderung hanya sebagai penonton dan mencatat informasi yang disampaikan oleh dosen.

Ada lima butir penting yang harus ada dan diperhatikan oleh dosen dan mahasiswa dalam setiap pertemuan atau setiap modul yaitu:
- materi & pokok bahasan
- sumber bahan/pustaka/referensi
- learning outcomes
- mekanisme pembelajaran & level Taxnomi Bloom
- assesment criteria

Semua butir di atas tidak ada yang baru namun sudah dilupakan atau diabaikan oleh dosen dan mahasiswa dalam setiap pembelajaran. Yang menjadi perhatian hanya pada materi dan pokok bahasan dan sumber bahan, sedangkan aspek lainnya, diabaikan dengan demikian proses pembelajaran hanya bersifat menyampaikan informasi secara monolog. Perlu ada penekanan dan penegasan kembali semua aspek tersebut dalam SAP yang dibuat. Di samping learning outcomes, juga harus ditekankan tentang mekanisme pembelajaran yang dapat dikaitkan dengan Taxonomi Bloom (memorizing, comprehension, application, analysis, synthesis, evaluation ). SAP harus memuat keempat aspek di atas secara lengkap. Dalam mekanisme pembelajaran mahasiswa harus diaktifkan dengan jalan berdiskusi, menjelaskan, presentasi, simulasi, dst. bahkan dengan berbagai kegiatan yang menuntut mahasiswa harus melakukan sesuatu proses agar mereka lebih menguasai ilmu pengetahuan yang dipelajari. Proses pembelajaran yang dilakukan tidak hanya dosen menyampaikan informasi, namun harus mendorong mahasiswa agar aktif sehingga kadar penguasaan akan ilmu pengetahuan dapat sampai kepada high order thinking (analysis, synthesis, evaluation ).

Penggunaan TI memungkinkan pembelajaran dilakukan melalui media internet, sehingga SAP juga dapat memuat mekanisme pembelajaran melalui media elektronik. di mana antara dosen dan mahasiswa tidak perlu harus bertemu dalam suatu ruang kelas. Pertemuan dan diskusi antara mahasiswa dengan dosen dan antara mahasiswa dengan mahasiswa dapat dilakukan melalui media elektronik. Demikian pula dengan penyiapan bahan ajar yang terekam dalam web-site atau CD-ROM membuat para mahasiswa dapat dengan lebih leluasa dan secara aktif dapat mempelajari bahan ajar tsb.

Pertemuan tatap muka di dalam kelas dapat diganti dengan pertemuan melalui media elektronik ini, sehingga peraturan jumlah kehadiran mahasiswa di dalam kelas tidak lagi menjadi penting, dengan catatan bahwa mahasiswa tersebut aktif berdiskusi dan mempelajari bahan kuliah melalui media elektronik.

4. Proses Pembelajaran
Bila semua paradigma masyarakat perguruan tinggi telah memahami dengan baik tentang proses pembelajaran mahasiswa aktif, learning how to learn, penyiapan sumber daya telah diatur dengan baik, dan penyiapan content yang sudah tersedia dengan balk dan SAP yang telah mengatur dengan baik mekanisme proses pembelajaran, maka proses pembelajaran akan berjalan dengan lebih mudah. Proses pembelajaran hanya menerapkan kemampuan dan menggunakan sarana serta mengikuti mekanisme yang telah diatur dengan baik dalam SAP. Proses pembelajaran yang telah direncanakan dengan baik akan mencapai kepada tujuan yang telah ditetapkan. Selain menerapkan proses pembelajaran yang telah ditata secara baik, juga harus selalu meminta feedback dan melakukan kajian untuk terus membenahi proses pembelajaran. Proses pembelajaran dapat melalui tatap muka di dalam ruang kelas dan dapat melalui media elektronik sesuai dengan pengaturan di dalam SAP. Proses pembelajaran melalui internet mendorong mahasiswa lebih aktif dalam pembelajaran karena harus berkomunikasi secara maya dengan para dosen, dan mahasiswa lain di samping mengembara di dalam dunia pengetahuan melalui ruang mayantara.

KESIMPULAN
Perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi serta perubahan tatanan sosial, budaya, ekonomi dan teknologi telah mendorong dilakukan penataan ulang proses pembelajaran di perguruan tinggi, di sisi lain proses pembelajaran di negara berkembang saat ini belum diberdayakan secara optimal, begitupun juga dengan perguruan tinggi di Indonesia. Sistem pembelajaran di perguruan tinggi yang meliputi aspek dosen, mahasiswa, kurikulum, sumber belajar, alat belajar dan peraturan masih menempatkan para mahasiswa sebagai objek dalam pembelajaran, mahasiswa sangat pasif, sehingga kadar pemahaman dan pengusaan ilmu pengetahuan sangat dangkal. Untuk itu perlu dilakukan penataan ulang terhadap proses pembelajaran.

Pertu ada konsep dan ide untuk merombak proses pembelajaran tersebut dan menata ulang ke arah pembelajaran yang lebih dinamis yang menempatkan para mahasiswa sebagai pelaku pembelajaran. Penataan ulang proses pembelajaran bertujuan untuk memberikan peran yang lebih aktif kepada mahasiswa dalam proses pembelajaran. Rekomendasi untuk menata ulang proses pembelajaran yaitu melakukan pola pembelajaran student centred learning, sehingga mahasiswa berperan aktif dalam pembelajaran. Penggunaan TI dengan pola pembelajaran jarak jauh melalui internet merupakan salah satu cara mendorong para mahasiswa agar aktif dalam proses pembelajaran. Semua kegiatan pembelejaran di atas membawa mahasiswa memiliki gaya belajar learning how to learn sehingga dapat membentuk long life learning.

Penataan ulang proses pembelajaran meliputi empat aspek yaitu (1) mengubah paradigma masyarakat perguruan tinggi, (2) mempersiapkan sumber daya yang terdiri dari dosen, alat dan sumber belajar, (3) mempersiapkan content, yang meliputi kurikulum, bahan ajar dan SAP, (4) proses pembelajaran.

Dari konsep yang disampaikan ini terdapat beberapa pemikiran yang perlu dikaji dan diteliti lebih dalam antara lain, kemampuan dan kapasitas para calon mahasiswa di Indonesia, kemampuan dosen dalam mengajar, metode mengajar yang baik dan disenangi para mahasiswa di Indonesia, kemampuan dan kapasitas intelektual lulusan perguruan tinggi di Indonesia, kemamuan lulusan perguruan tinggi di Indonesia yang dibutuhkan di dunia usaha/industri, diagnosa yang tepat untuk menjembatani gap kemampuan tenaga yang dibutuhkan dengan kompetensi lulusan perguruan tinggi, sejauh mana peran TI dalam proses pembelajaran bagi mahasiswa di Indonesia, dan masih banyak topik lain perlu diteliti lebih jauh.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, (1997), Problem Based Learning, [http://ww.ic.polyu.edu.posh97/student/PBL/pbl01/htm#center]
Anonim, (2001), e-Learning Environment, What is’ Student Centred Learning?,[http:// www.bath.ac.uk/e-learning/environments.html]
Amstrong Thomas, (1999), Seven Kind of Smart, Identifying and Developing Your Multiple Intellegence, Terjemahan T. Hermaya, PT Gramedia Pustaka Utama
Kurniawan Once, (2000), TI Menciptakan Budaya Belajar Mandiri, Kumpulan Makalah Seminar Nasional, Pemanfaatan TI Dalam Komunikasi Pendidikan, Departemen Pendidikan nasional, Universitas Terbuka
Kurniawan Once, (1998), Metode Mengajar di Perguruan Tinggi, Jurnal BINUS, Biro Publikasi Iimiah, Universitas Bina Nusantara
Martin Donald, (1998), How to be Successful Student, Martin Press, San Anselmo
Mc Kowen, (2000), Teaching Human Beings, [http://www.helicon. net.cmckowen]
Meier Dave, (2002), The Accelerated Learning Handbook: Panduan Kreatif dan Efektif Merancang Program Pendidikan dan uelatihan, Terjemahan oleh Rahmani Astuti, Penerbit Kaifa, Bandung
Orstein Allan C, Lasley Thomas ). II, (2000), Strategies For Effective Teaching, McGraw-Hill Companies, New York
Reed Thomas and Francis M. Laura, ( 2001 ), Learning Circuit, Build Skill with Action Learning, [http://www.learning Circuit.org/2001/Oct2001/fancis.html#.bio]
Reid Ian, (1999), Towards A Flexible, Learner Centred Environment, A Draft Disscution Paper, Curtin University of Technology, [ http://otl.curtin.edu.au]
Sparrow Len, Sparrow Haether, Swan Paul, (2000), Student Centred Learning; Is it Possible?, Teaching and Learning Forum 2000, Proceedings Contents, [http://cleo.murdoch:edu.au/confs/tlf/tIf2000/contents.html]
Tilaar H.A.R., (2002), Perubahan Sosial dan Pendidikan, Pengantar Pedagogik -Transformatif untuk Indonesia, PT Gramedia Widiasarana Indonesia, Center for Education and Community Development Studies
The Joint Task Force on Computing Curricula IEEE Computer Society, (2001) Association for Computer Machinery ( ACM ), Computing Curricula 2001 Computer Science (Final ‘ Report, December 15, 2001) [ http:// www.acm.org].
The Task Force Curriculim Information Systems ACM, (1999), ACM Recommended Information ‘ Systems Curriculum Created Industry and Academe, Information Systems Centric Curriculum’99 (ISCC’99) [http://www.acm.org J
Zamroni, (2000), Paradigma Pendidikan Masa Depan, Bigraf Publising, Bandung.

ke atas
 
ke daftar isi
 

 

 

 

 

 

 

     
 

VALIDITAS DAN RELIABILITAS TES:
Deskripsi Konsep dan Aplikasinya dalam Evaluasi Pendidikan

Oleh:Jafar Ahiri *)


Abstract
Validity of a test is its most important characteristic. A test is valid to the degree that it accurately measures some characteristics. There are three basic types of validity: content validity, which is most important for the classroom teacher’s achievement test, describes the adequacy of the test to sample the domains of a subject as stressed in classroom instruction. Criterion-related validity describes the relationship between test scores and independent external criterion measures. Construct validity is the degree to which test scores can be accounted for by certain explanatory actions that support a psychological theory.
Reliability of test result is a universal criterion of educational measurement. Higher reliability measures are obtained as chance errors associated with the complete process of testing are reduced. Coefficients of reliability are the best statistical data available to the teacher who is striving to determine the degree of success in testing and who is making efforts to improve future tests. One major aspect of test reliability is the degree to which a test measures with consistency.

Kata Kunci: validitas, reliabilitas

A. PENDAHULUAN
Evaluasi pendidikan melibatkan banyak kegiatan teknis dalam menentukan metode dan format penilaian yang dapat digunakan untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Informasi tersebut diperlukan dalam menafsir dan menetapkan keputusan untuk kepentingan pendidikan. Penilai membutuhkan keterampilan dalam mengidentifikasi dan memahami berbagai macam perspektif penilaian, baik penilaian kontekstual dan proses maupun penilaian hasil. Karena penilaian merupakan pusat kontrol keberhasilan program pendidikan, maka terdapat dua syarat utama yang harus dipenuhi oleh suatu instrumen penilaian, yaitu validitas dan reliabilitas.

Validitas mengacu pada keberartian, kebenaran, kemanfaatan, dan kesesuaian skor tes. Validitas merupakan karakteristik suatu tes ketika diujikan pada suatu kelompok peserta tes. Validasi suatu instrumen mencakup pengumpulan data empiris dan argumentasi logis untuk menunjukkan bahwa kesimpulan tertentu adalah tepat. Sedangkan reliabilitas yang berarti konsistensi adalah ciri umum dari suatu instrumen pengukuran dan penilaian pendidikan. Konsistensi tinggi skor instrumen dari suatu pengukuran ke pengukuran berikutnya merupakan ciri terpenting dari instrumen yang berkualitas tinggi.

Tulisan ini adalah sebuah kajian teoretis tentang apa dan bagaimana validitas dan reliabilitas itu apabila dikaitkan dengan kualitas instrumen dan penerapannya dalam penilaian hasil suatu program pembelajaran. Selanjutnya, tulisan ini diharapkan untuk mengundang wacana bagi pembaca tentang: Bagaimana instrumen penilaian yang berkualitas? Bagaimana meningkatkan validitas dan reliabilitas suatu instrumen penilaian? Faktor-faktor apa yang mempengaruhi validitas dan reliabilitas suatu instrumen penilaian?


B. DESKRIPSI KONSEP
1. Konsep Validitas
Validitas merupakan produk dari validasi. Validasi adalah suatu proses yang dilakukan oleh penyusun atau pengguna instrumen untuk mengumpulkan data secara empiris guna mendukung kesimpulan yang dihasilkan oleh skor instrumen. Sedangkan validitas adalah kemampuan suatu alat ukur untuk mengukur sasaran ukurnya.

Untuk menjadi valid suatu instrumen tidak hanya konsisten dalam penggunaannya, namun yang terpenting adalah harus mampu mengukur sasaran ukurnya. Hal ini berarti bahwa validitas merupakan ciri instrumen yang terpenting. Berbagai usaha dilakukan untuk meningkatkan validitas instrumen, baik langsung ataupun tidak berhubungan dengan peningkatan validitas instrumen itu sendiri. Untuk menjadi valid maka suatu instrumen harus dikonstruksi dengan baik dan mencakup materi yang benar-benar mewakili sasaran ukurnya. Validitas instrumen bersifat relatif terhadap situasi tertentu dan tergantung pada kondisi tertentu. Instrumen yang mempunyai validitas tinggi terhadap tujuan atau kegunaan tertentu mungkin akan mempunyai validitas sedang atau mungkin rendah terhadap tujuan lainnya.

Menurut Messik (1989) terdapat lima aspek yang berbeda dalam konsep validitas. Kelima aspek tersebut secara bersama-sama berfungsi sebagai ukuran validitas umum atau standar untuk semua pengukuran psikologis dan pendidikan. Kelima aspek tersebut adalah: (1) Substansi. Aspek substansi validitas mencakup verifikasi proses utama dalam pengungkapan tugas penilaian. Hal ini dapat dikenali melalui penggunaan teori substansi dan pemodelan proses. Ketika menentukan substansi instrumen, seseorang perlu mempertimbangkan dua hal pokok: Pertama, tugas penilaian harus mewakili materi yang akan dinilai. Kedua, penilaian harus ditetapkan berdasarkan fakta-fakta empiris. (2) Strukrur pensekoran. Strukrur pensekoran harus secara rasional konsisten dengan apa yang diketahui tentang sifat hubungan struktural dari keberadaan konstruk yang dipersoalkan. Struktur internal penilaian harus konsisten dengan apa yang diketahui tentang struktur internal dari domain konstruk. (3) Ketergeneralisasian. Ketergene-ralisasian penilaian harus memenuhi keterwakilan isi dan konstruk. Hal ini memungkinkan penafsiran skor untuk penggeneralisasian secara luas dalam konstruk yang ditetapkan. Fakta seperti kemampuan generalisasi tersebut tergantung pada tingkat korelasi suatu tugas dengan tugas lainnya yang juga mewakili konstruk atau aspek-aspek konstruk. (4) Faktor-faktor eksternal. Aspek eksternal dari validitas mengacu pada tingkat hubungan skor assessment dengan ukuran lain dan perilaku nonassessment yang mencerminkan tinggi, rendah, dan hubungan interaksi antara konstruk yang ditetapkan. (5) Akibat dari validitas. Akibat validitas meliputi bukti dan dasar pemikiran dalam mengevaluasi konsekuensi penafsiran dan menggunakan skor yang tidak diharapkan dan yang diharapkan. Penyelidikan jenis ini terutama penting ketika berhubungan dengan akibat yang merugikan bagi individu dan kelompok yang dihubungkan dengan penyimpangan dalam penskoran dan penafsiran.

Ke lima aspek validitas tersebut berlaku bagi semua pengukuran psikologis dan pendidikan; umumnya penafsiran berbasis skor dan kesimpulan tindakan mengasumsikannya secara tegas atau secara tersembunyi. Tantangan dalam validasi instrumen selanjutnya adalah menghubungkan kesimpulan ini terhadap fakta-fakta terpusat yang mendukungnya seperti halnya terhadap fakta-fakta berbeda yang merupakan bagian kesimpulan tandingan yang rasional.

2. Konsep Reliabilitas
Reliabilitas telah didefinisikan dengan cara yang berbeda oleh pengarang yang berbeda. Cara yang terbaik untuk membahas reliabilitas adalah sejauhmana hasil pengukuran dari suatu instrumen mewakili karakteristik yang diukur. Sebagai contoh, reliabilitas didefinisikan seberapa besar konsistensi skor tes yang dicapai peserta tes pada pengujian ulang. Definisi ini akan memuaskan jika skor tes dapat menggambarkan kemampuan peserta tes; jika tidak maka skor tes tidak sistematis, tidak dapat diulangi atau tidak terikat. Reliabilitas juga diartikan sebagai indikator ketidakhadiran kesalahan acak. Jika kesalahan acak dapat diperkecil maka skor tes akan lebih konsisten dari suatu pengujian ke pengujian berikutnya.

Definisi teoretis dari reliabilitas adalah proporsi keragaman skor tes yang disebabkan oleh keragaman sistematis dalam populasi peserta tes. Jika terdapat keragaman sistematis yang lebih besar dalam suatu populasi dibanding dengan populasi lainnya, seperti dalam semua siswa sekolah negeri dibandingkan hanya dengan kelas tertentu, tes akan mempunyai reliabilitas lebih besar untuk populasi yang lebih bervariasi. Reliabilitas adalah karakteristik bersama antara tes dan kelompok peserta tes. Reliabilitas tes bervariasi dari suatu kelompok dengan kelompok lainnya.

Para profesional pengukuran menganggap reliabilitas sebagai persyaratan utama suatu instrumen penilaian. Dalam teori tes diakui bahwa skor tes akan valid (benar) jika skor tes tersebut reliabel (Mehrens & Lehmann, 1991). Asumsi ini didasarkan pada suatu model matematika teori tes dimana skor perolehan terdiri atas skor tulen dan skor galat (obtained score = true score + error score). Semakin sedikit kesalahan dalam suatu tes (yaitu semakin reliabel) semakin valid skor tes. Karenanya, suatu penilaian yang tidak reliabel secara otomatis tidak valid.

Penekanan utama dalam mengumpulkan data untuk menentukan reliabilitas tes adalah pada konsistensi dihubungkan dengan reliabilitas skor atau reliabilitas penilai. Reliabilitas skor berarti bahwa jika suatu tes telah diadministrasikan pada penempuh ujian untuk kedua kalinya, maka penempuh ujian akan tetap memperoleh skor yang sama dengan pengadministrasian yang pertama. Salah satu cara para spesialis pengukuran dalam menentukan reliabilitas skor tes adalah melalui tes standar. Jika penempuh ujian diuji kembali, mereka harus melengkapi tugas yang sama persis dalam kondisi yang juga persis sama. Hal ini akan membantu dalam pencapaian hasil tes yang konsisten.


C. PEMBAHASAN
1. Validitas
a. Jenis-jenis Validitas dan Ukurannya
Crocker dan Algina (1986) membedakan tiga jenis validitas, yaitu: 1) validitas isi, mengkaji kepadanan sampel yang terdapat dalam suatu instrumen; 2) validitas konstruk, mengkaji sifat-sifat psikologis yang menjelaskan keragaman skor responden dalam instrumen tertentu; 3) dan validitas relasi kriteria, membandingkan skor responden dengan satu atau lebih variabel eksternal.

Validitas konstruk mencakup syarat-syarat empiris dan logis dari validitas isi dan validitas kriteria. Hal Ini berari bahwa validitas konstruk menggabungkan syarat-syarat yang terdapat dalam validitas isi dan validitas relasi kriteria (Anastasi, 1997). Validitas konstruk menghubungkan gagasan dan praktek pengukuran di satu pihak, dengan gagasan teoretik di pihak lain. Para penyusunan instrumen biasanya bertolak dengan bekal suatu konstruk, kemudian mengembangkan instrumen untuk mengukur konstruk tersebut. Selanjutnya, butir-butir instrumen yang telah dikembambangkan diujicobakan secara empiris.

Validitas isi dan validitas konstruk berhubungan dengan kecocokan butir-butir instrumen dengan tujuan ukurnya. Kedua jenis validitas tersebut dapat ditentukan melalui pengkajian secara teoretis dan secara empiris, yang mencakup: (1) menjelaskan pokok bahasan dan sub pokok bahasan; (2) menetapkan pokok bahasan dan subpokok bahasan yang diukur oleh setiap butir instrumen; (3) mencocokkan butir-butir instrumen dengan pokok bahasan dan subpokok bahasan yang diukurnya. Secara teoretis validitas isi dan validitas konstruk dapat dikaji melalui penilaian panelis. Penilaian panelis dimaksudkan untuk menilai kesesuaian setiap butir instrumen dengan pokok bahasan dan subpokok bahasan yang diukurnya. Prosedur yang digunakan adalah meminta para panelis untuk mencermati butir-butir instrumen. Kemudian menilai kesesuaian setiap butir instrumen dengan pokok bahasan dan subpokok bahasan yang diukurnya.

Suatu contoh penilaian validitas isi dan validitas konstruk secara teoretis dapat dilakukan melalui penilaian panelis (pakar). Pengembangan prosedur penilaian panelis dapat dilakukan melalui beberapa langkah, yaitu: Pertama, menetapkan skala yang digunakan, yaitu: 1 = tidak relevan, 2 = kurang relevan, 3 = cukup relevan, 4 = relevan, dan 5 = sangat relevan. Kedua, menetapkan kriteria penilaian yang mencakup: (1) mengukur indikatornya; (2) hanya memiliki satu arti; (3) jelas dan mudah dipahami; (4) tidak bersifat faktual; dan (5) tidak tumpang tindih dengan butir-butir lainnya. Ketiga, menetapkan pilihan, yaitu: 1 (tidak relevan) jika hanya satu atau semua kriteria tidak terpenuhi; 2 (kurang relevan) jika hanya dua kriteria yang terpenuhi; 3 (cukup relevan) jika hanya tiga kriteria yang terpenuhi; 4 (relevan) jika hanya empat kriteria yang terpenuhi; dan 5 (sangat relevan) jika semua kriteria terpenuhi. Keempat, kualitas masing-masing butir instrumen didasarkan atas rerata hasil penilaian panelis, dengan kriteria sebagai berikut:

Rerata Penilaian Keputusan

1,0 – 2,9 Tidak sesuai Direvisi
3,0 – 3,9 Cukup sesuai Diterima dengan revisi
4,0 – 5,0 SesuaiDiterima

Penilaian validitas isi dan validitas konstruk secara empiris dilakukan dengan ujicoba instrumen kepada responden yang sesuai dengan karakteristik responden tempat pemberlakuan instrumen final. Penetapan jumlah sampel dapat diacuh dari pendapat Nunnaly (1970) bahwa untuk mengurangi resiko kehilangan butir-butir instrumen dan agar memungkinkan untuk mengeliminasi faktor-faktor yang tidak dikehendaki maka dalam analisis instrumen direkomendasikan untuk digunakan sampel 5–10 kali jumlah butir instrumen.

Ujicoba secara empiris dimaksudkan untuk menganalisis validitas isi dan validitas konstruk instrumen secara empiris. Validitas isi biasanya digunakan untuk menyebut validitas instrumen tes, sedangkan validitas konstruk biasanya digunakan untuk menyebut validitas instrumen non tes. Secara empiris, kedua jenis validitas tersebut dianalisis dengan cara yang berbeda.

Validitas isi. Secara empiris alat analisis validitas isi yang biasa digunakan (khusus untuk tes pilihan ganda) adalah Item and Test Analysis (ITEMAN). Alat analisis ini dimaksudkan untuk mendapatkan informasi tentang: indeks kesukaran butir tes, indeks daya beda butir, dan keberfungsian pengecoh. Disamping itu, juga untuk menentukan: korelasi biserial titik (point biserial correlation), dan keseimbangan isi atau keterwakilan materi yang hendak diukur. Secara empiris kelima informasi tersebut dibutuhkan karena saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya, dimana keberfungsian pilihan dapat meningkatkan indeks kesukaran butir tes, indeks kesukaran butir tes dapat menentukan daya beda butir, dan indeks kesukaran dan daya beda butir dapat mempengaruhi interkorelasi butir, dan secara keseluruhan kelima informasi tersebut merupakan penentu tingkat reliabilitas tes. Untuk jelasnya prosedur analisis butir dan penetapan kriteria untuk menerima, menolak atau merevisi butir-butir tes, secara berturut-turut sebagai berikut:
(1) Indeks kesukaran butir (p). Indeks kesukaran butir tes adalah proporsi peserta yang menjawab benar butir tes. Indeks kesukaran butir yang baik berkisar antara 0,3-0,7 paling baik pada 0,5; karena p=0,5 dapat memberikan kontribusi optimal terhadap korelasi biserial titik, daya pembeda butir, dan reliabilitas tes. Butir-butir tes yang memiliki indeks kesukaran di bawah atau di atas kriteria 0,3 - 0,7 dapat digunakan apabila ada pertimbangan keterwakilan pokok bahasan yang diukurnya.

(2) Daya pembeda butir (D). Daya pembeda butir adalah kemampuan butir tes untuk membedakan siswa mampu dan kurang mampu. Indeks daya beda butir mempunyai rentang nilai –1 ke +1, namun nilai negatif dan rendah menunjukkan kinerja butir yang rendah. Suatu butir tes dapat dipertahankan apabila memiliki nilai D ³ 2,0. Indeks daya beda butir dihitung dengan menggunakan rumus: D= pu - pi; dimana: pu = proporsi kelompok atas yang menjawab benar, pi = proporsi kelompok bawah yang menjawab benar. Pembagian kelompok responden didasarkan atas pendapat Kelly (1939) yang dikutip oleh Crocker dan Algina (1996) bahwa indeks daya beda butir yang lebih stabil dan sensitif dapat dicapai dengan menggunakan 27 persen kelompok atas dan 27 persen kelompok bawah.

(3) Korelasi biserial titik (rpbi). Korelasi biserial titik adalah korelasi antara skor butir tes dengan skor total. Korelasi biserial titik dapat disamakan dengan daya beda butir, namun rpbi itu sendiri perlu dihitung karena dapat menyediakan refleksi yang sebenarnya dari kontribusi setiap butir tes terhadap keberfungsian tes. Semakin tinggi rpbi suatu butir tes semakin tinggi kontribusinya dalam memprediksi kriteria. Suatu butir tes dapat dipertahankan apabila memiliki rpbi ³ 0,30.

(4) Keberfungsian pengecoh. Suatu pengecoh dapat dipertahankan apabila memenuhi syarat-syarat: (1) kunci jawaban (keyed answer) harus dipilih lebih banyak oleh kelompok atas daripada kelompok bawah; (2) setiap penggagal (foils) harus dipilih minimal 2 persen dari keseluruhan peserta tes dan dipilih minimal 5 persen kelompok bawah, (3) Indeks daya beda kunci jawaban harus positif dan indeks daya beda penggagal harus negatif.

Validitas konstruk. Sama halnya dengan prosedur ujicoba instrumen tes, instrumen non tes juga diujicobakan secara empiris kepada sejumlah responden (5-10 kali jumlah butir instrumen). Data hasil ujicoba secara empiris dari instrumen non tes biasanya dianalisis dengan menggunakan Analisis Faktor Konfirmasi (Confirmatory Factor Analysis) dengan menggunakan metode ekstraksi komponen utama (principle component extraction). Analisis tersebut bertujuan untuk menguji kebenaran konstruk teori yang dijadikan acuan dalam pengembangan instrumen, dengan cara menentukan struktur atau model faktor dari sejumlah butir instrumen berdasarkan muatan faktor (factor loading) jumlah varians (eigenvalue), dan proporsi varians (communality). Dalam analisis ini juga digunakan rotasi ortogonal dan varimax. Beberapa kriteria yang dijadikan acuan dalam analisis faktor adalah:
(1) Ukuran kecukupan pensampelan (sampling adequacy). Ditentukan dengan menggunakan rumus Kaiser-Meyer-Olkin (KMO), yaitu dengan membandingkan nilai koefisien korelasi observasi dengan koefisien korelasi parsial (Norusis, 1996). Jika koefisien korelasi parsial kecil maka nilai KMO besar (mendekati satu) berarti dapat digunakan analisis faktor, sebaliknya jika nilai koefisien korelasi parsial besar maka nilai KMO kecil (mendekati nol) berarti tidak dapat digunakan analisis faktor. Jelasnya penafsiran nilai KMO diacuh dari ciri yang dikemukakan oleh Kaiser (1974) seperti dikutip oleh Norusis (1996) bahwa KMO 0,90 baik sekali (marvelous); 0,80 baik (meritorius); 0,70 sedang (middling); 0,60 kurang (mediocre); 0,50 sangat kurang (miserable); dan dibawah 0,50 tidak dapat diterima (unacceptable).

(2) Uji Bartlett tentang bentuk matriks korelasi (Bartlett’s test of sphericity). Uji ini dimaksudkan untuk memastikan apakah matriks korelasi berasal dari matriks identitas atau bukan. Dalam uji ini digunakan pendekatan Chisquare dan dibutuhkan data yang berasal dari populasi normal multivariat. Dengan ketentuan bahwa bila matriks korelasi merupakan matriks identitas (makriks dengan diagonal 1 dan selain diagonal 0) maka tidak dapat digunakan analisis faktor, sebaliknya bila matriks korelasi bukan matriks identitas maka dapat digunakan analisis faktor.

(3) Banyaknya faktor. Banyaknya faktor ditetapkan berdasarkan aturan yang dikemukakan oleh Norusis (1996) bahwa jumlah faktor harus diekstraksi sama dengan jumlah faktor yang mempunyai varians (eigenvalue) lebih besar dari 1,0.

(4) Muatan faktor (factor loading). Muatan faktor diseleksi setelah melalui ekstraksi komponen utama (extracting principal component) dengan rotasi ortogonal untuk memaksimalkan varians (variance maximizing/ varimax) antara variabel utama. Muatan faktor yang tetap dipertahankan adalah di atas 0,3. Hal ini sesuai dengan aturan yang dikemukakan oleh Crocker dan Algina (1996) bahwa muatan faktor yang lebih dari 0,3 cenderung siginifikan, sebaliknya muatan faktor yang kurang dari 0,3 tidak dapat memberikan kontribusi yang siginifikan terhadap suatu faktor tertentu.

b. Penyebab invaliditas
Ancaman utama terhadap validitas instrumen adalah: (1) ketakterwakilan konstruk; menunjukkan bahwa tugas yang diukur dalam penilaian tidak mencakup dimensi penting dari konstruk. Oleh karena itu, hasil tes tersebut tidak mungkin untuk mengungkapkan kemampuan siswa sebenarnya dalam konstruk yang hendak diukur oleh instrumen; (2) penyimpangan keragaman konstruk berarti bahwa instrumen tersebut mengukur terlalu banyak variabel, dan kebanyakan variabel tersebut tidak relevan terhadap isi konstruk. Jenis penyimpangan validitas seperti ini mencakup dua bentuk, yaitu penyimpangan kemudahan konstruk (Construct irrelevant easiness) dan penyimpangan kesukaran konstruk (Construct irrelevant difficulty). Penyimpangan kemudahan konstruk terjadi ketika faktor-faktor luar seperti kata-kata kunci atau bentuk instrumen memungkinkan seseorang untuk menjawab benar dengan cara yang tidak sesuai dengan konstruk yang diukur, dan penyimpangan kesukaran konstruk terjadi bila aspek-aspek luar dari tugas membuat tingkat kesukaran tugas tidak sejalan terhadap sebagian atau keseluruhan anggota kelompok. Sementara bila terjadi penyimpangan keragaman konstruk yang pertama menyebabkan seseorang memperoleh skor yang lebih tinggi dibanding dengan kemampuan yang sebenarnya, dan terjadinya penyimpangan keragaman konstruk yang kedua menyebabkan seseorang memperoleh skor yang lebih rendah dibanding dengan kemampuan yang sebenarnya.

2. Reliabilitas
a. Ukuran Reliabilitas
Terdapat beberapa statistik yang digunakan untuk menghitung stabilitas skor seperangkat tes dari suatu kelompok peserta tes, yaitu: reliabilitas test-retest, reliabilitas split-half, dan reliabilitas konsistensi internal.

Reliabilitas test-retest. Suatu koefisien reliabilitas test-retest diperoleh dengan mengadministrasikan tes yang sama dua kali dan mengkorelasikan skor tes tersebut. Dalam konsep, hal ini merupakan ukuran konsistensi skor yang sempurna sebab memungkinkan pengukuran konsistensi langsung dari suatu ujian ke ujian berikutnya. Namun, koefisien ini tidaklah direkomendasikan dalam praktek, oleh karena masalah dan keterbatasannya, yaitu memerlukan dua kali pengadministrasian tes yang sama dalam kelompok yang sama dan memerlukan pemilihan waktu yang tepat. Jika interval waktunya singkat, mungkin skor siswa akan sangat konsisten sebab mereka masih mengingat sebagian atau seluruh pertanyaan dan jawaban mereka. Dan jika intervalnya lama, maka hasilnya akan dipengaruhi oleh perubahan belajar dan kematangan yang terjadi pada diri siswa.

Reliabilitas Split-Half. Sesuai dengan namanya, reliabilitas split-half adalah suatu koefisien yang diperoleh dengan pembagian suatu skor tes ke dalam dua bagian yang masing-masing separuhnya, kemudian kedua bagian skor tes tersebut dikorelasikan untuk menentukan koefisien reliabilitasnya. Pembagian data dipecah atas nomor ganjil dan genap, memecah butir-butir tes menjadi dua bagian yang sama jumlahnya, memilih butir secara acak, atau berdasarkan keseimbangan materi dan tingkat kesukaran. Pendekatan ini mempunyai suatu keuntungan, yakni hanya memerlukan satu kali pengujian. Kelemahannya adalah koefisien yang dihasilkan akan bervariasi tergantung bagaimana tes tersebut dipecah. Juga tidak cocok digunakan untuk mengukur reliabilitas tes kecepatan (speed test), karena skor siswa dipengaruhi oleh seberapa banyak butir tes yang dijawab dalam waktu yang tersedia.

Konsistensi internal. Konsistensi internal tergantung pada interkorelasi butir tes, yang juga disebut homogenitas. Rumus statistik terbaik yang digunakan untuk menentukan koefisien reliabilitas konsistensi internal adalah: Alpha Cronbach dan Kuder-Richardson (KR-20 dan KR-21). Kebanyakan program pengujian melaporkan bahwa hasil pengujian dengan Alfa Cronbach secara fungsional setara dengan KR-20.

Keuntungan penggunaan statistik ini adalah hanya memerlukan satu kali administrasi tes dan tidak tergantung pada pemecahan materi tes. Sedangkan kerugiannya adalah akan efektif diterapkan jika tes hanya mengukur area keterampilan tunggal. Hanya membutuhkan rerata skor tes, simpangan baku atau varians, dan sejumlah butir, KR-20 adalah rumusan reliabilitas yang paling sederhana. Dan rumus KR-21 hampir selalu menghasilkan koefisien yang lebih rendah dari KR-20. Kesederhanaannya menjadikannya sebagai rumus reliabilitas yang paling banyak digunakan khususnya untuk mengevaluasi tes yang dikembangkan di kelas. Namun, rumus ini tidak dapat digunakan untuk menentukan reliabilitas skor dikotomi.

b. Seberapa Tinggi Koefisien Reliabilitas
Reliabilitas tes adalah proporsi varians tulen (true variance) dalam skor tes (Guilford, 1982). Penilaian kecukupan koefisien reliabilitas tes dapat diacuh dari pendapat Aiken (1988) bahwa jika tes akan digunakan untuk menentukan signifikansi perbedaan rerata skor dua kelompok siswa maka koefisien reliabilitas sebesar 0,65 dianggap memuaskan. Dan jika tes akan digunakan untuk membandingkan siswa yang satu dengan yang lainnya maka paling tidak diperlukan koefisien reliabilitas sebesar 0,85. Untuk menjelaskan keberartian koefisien reliabilitas dapat pula diacuh dari galat baku pengukuran, yang dihitung dengan menggunakan rumus: ; dimana: Sm = galat baku pengukuran; Sx = simpangan baku skor tes; dan rx = koefisien reliabilitas tes.

Misalnya, dari hasil perhitungan koefisien reliabilitas instrumen dengan menggunakan rumus Alpha Cronbach diperoleh 0,93 dengan galat baku pengukuran 6,88. Hal ini berarti bahwa tes tersebut sangat terandalkan karena dapat mengukur 93 persen keragaman skor yang sebenarnya, dan bila dalam jangka waktu tertentu dan dalam kondisi yang sama para responden merespon kembali tes tersebut maka rentangan penyimpangan skor total yang dicapai masing-masing responden berkisar antara ­+ 6,88; jadi bila pada tes pertama seseorang siswa memperoleh skor total 450 maka kemungkinan rentangan skor total yang dicapai pada tes berikutnya adalah ­450+ 6,88 atau paling rendah 443,12 dan paling tinggi 456,88.

Jika tes yang diadministrasikan memiliki konsekuensi tinggi, seperti tes yang digunakan untuk penempatan dalam pendidikan, misalnya ujian akhir SMU, dan sertifikasi profesional, maka diperlukan reliabilitas konsistensi internal yang tinggi paling sedikit di atas 0,90, dan paling baik jika di atas 0,95. Kesalahan klasifikasi yang disebabkan oleh kesalahan pengukuran harus diperkecil. Tetapi perlu dicatat bahwa tidak satu pun tes dengan sendirinya dapat digunakan untuk membuat suatu keputusan penting bagi seseorang.

Tes di kelas tidak selalu membutuhkan koefisien reliabilitas tinggi. Ketika para siswa lebih menguasai materi yang diujikan, variabilitas tes akan menurun, sehingga reliabilitas tes juga akan menurun. Para guru mengawasi siswa mereka sepanjang hari dan mempunyai peluang untuk mengumpulkan masukan dari berbagai sumber informasi. Jika pengetahuan dan pertimbangan guru digunakan bersama dengan informasi yang diperoleh dari tes, maka akan dapat menyediakan informasi yang lebih lengkap. Jika suatu tes tidak reliabel atau tidak akurat untuk siswa secara perorangan, maka guru perlu membuat koreksi penyesuaian. Suatu koefisien reliabilitas sebesar 0.50 atau 0.60 mungkin cukup untuk tes di kelas.

Selanjutnya, reliabilitas adalah karakteristik bersama antara tes dan kelompok peserta tes. Reliabilitas juga perlu dievaluasi dalam kaitan dengan kelompok peserta tes. Suatu tes dengan koefisien reliabilitas 0.92 ketika diujikan pada siswa dalam beberapa kelas maka koefisien reliabilitas yang diperoleh tidak akan sama jika tes tersebut hanya diujikan pada satu kelas saja.

Reliabilitas berhubungan dengan konsistensi hasil pengukuran. Reliabiltas dipengaruhi oleh cakupan instrumen penilaian. Misalnya, suatu instrumen tes tertentu yang mencakup sasaran belajar dan butir yang terbatas memiliki reliabilitas yang lebih rendah dibanding dengan tes yang mencakup sasaran belajar yang lebih luas dengan jumlah butir yang lebih banyak.

Instrumen yang representatif dengan kesalahan pengukuran yang relatif kecil akan memiliki reliabilitas tinggi. Kesalahan pengukuran dapat diperkecil melalui penulisan butir instrumen yang jelas, petunjuk yang mudah dipahami, administrasi instrumen yang sesuai, dan penskoran yang konsisten. Suatu instrumen tes adalah suatu sampel perilaku dari keterampilan yang diinginkan, tes lebih panjang dengan sampel yang lebih besar, memungkinkan untuk lebih reliabel. Hasil ujian akhir dari suatu unit pembelajaran dengan waktu satu jam akan lebih reliabel ketimbang hasil ujian harian dengan jangkauan materi dan waktu yang terbatas.

c. Ancaman terhadap Reliabilitas
Semua jenis instrumen tes atau nontes tidak terlepas kesalahan. Hal ini berlaku untuk instrumen tes dalam ilmu-ilmu eksakta dan dalam ilmu-ilmu psikologi dan pendidikan. Misalnya, dalam mengukur panjang dengan suatu penggaris, mungkin ada kesalahan sistematis berhubungan dengan di mana titik nol dicetak pada penggaris dan kesalahan acak berhubungan dengan kemampuan mata dalam membaca tanda-tanda dan memperhitungkan tanda-tanda tersebut. Juga memungkinkan bahwa panjang obyek dapat berubah dari waktu ke waktu dan pada lingkungan yang berbeda (misalnya perubahan temperatur). Salah satu tujuan penilaian adalah untuk mengurangi kesalahan tersebut hingga ke tingkatan yang sesuai dengan tujuan tes. Tes yang beresiko tinggi (high-stakes tes), seperti ujian untuk mendapatkan SIM, harus mempunyai kesalahan yang sangat kecil. Tes di kelas dapat mentolerir kesalahan yang lebih tinggi secara wajar kesalahan tersebut mudah dikoreksi sepanjang proses pengujian. Reliabilitas hanya mengacu pada derajat tingkat kesalahan yang tidak sistematis, yang disebut kesalahan acak.

Ada tiga sumber kesalahan utama, yaitu: faktor dalam tes itu sendiri, faktor siswa yang dites, dan faktor penskoran. Umumnya tes berisi suatu koleksi butir yang mengukur keterampilan tertentu. Adakalanya guru secara khas menggeneralisasikan masing-masing butir tes ke semua materi yang diukur oleh tes itu. Sebagai contoh, jika seorang siswa dapat memecahkan beberapa permasalahan seperti 7x8, maka mungkin akan disamaratakan kemampuannya dalam mengalikan angka tunggal bilangan bulat. Juga mungkin akan menyamaratakan suatu kumpulan materi kepada suatu domein yang lebih luas. Jika siswa dapat menyelesaikan penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian, maka mungkin akan disimpulkan bahwa siswa tersebut mampu menyele-saikan operasi pecahan. Kesalahan dapat pula disebabkan oleh pemilihan butir untuk mengukur domein dan keterampilan tertentu. Materi yang tercakup dalam tes berbeda menurut format masing-masing tes, kesalahan pensampelan, pembatasan butir tes, dan karena menyamaratakan ke data yang tidak diamati, yakni, kemampuan siswa terhadap keseluruhan butir yang mungkin terdapat dalam tes. Ketika keterampilan dan domain yang diukur menjadi lebih rumit, mungkin akan terjadi lebih banyak kesalahan yang disebabkan oleh pensampelan materi. Sumber lain kesalahan tes adalah ketidakefektifan pengecoh dalam tes pilihan ganda, seperti jawaban benar yang lebih banyak, dan tingkat kesukaran butir tes.

Sebagai manusia, para siswa tidaklah selalu konsisten dan juga tidak terlepas dari kesalahan dalam menyelesaikan tes. Apakah tes itu dimaksudkan untuk mengukur kemampuan khusus atau kemampuan siswa secara optimal, perubahan dalam berbagai hal seperti sikap siswa, kesehatan, dan rasa kantuk dapat mempengaruhi kualitas usaha dan konsistensi siswa dalam menyelesaikan tes. Sebagai contoh, peserta tes mungkin membuat kesalahan karena teledor, salah menafsirkan petunjuk tes, melupakan instruksi tes, melupakan beberapa butir tes, atau salah baca butir tes.

Kesalahan penskoran merupakan sumber sepertiga dari kesalahan potensial. Pada bentuk tes objektif, penskoran bersifat mekanik, dan kesalahan penskoran harus diperkecil. Pada tes uraian, sumber kesalahan meliputi ketidakjelasan rubrik penskoran, ketidakjelasan apa yang diharapkan dari siswa, dan beberapa kesalahan yang bersumber dari penilai. Para penilai tidaklah selalu konsisten, kadang-kadang merubah ukuran-ukuran mereka selagi menskor, dan terkadang terpengaruh oleh hal-hal yang tidak berhubungan dengan skor tes seperti efek halo, latar belakang siswa, perbedaan persepsi, kebaikan hati atau kepelikan, dan kesalahan dalam penskalaan (Rudner, 1992).


D. KESIMPULAN
Validitas adalah kemampuan suatu alat ukur untuk mengukur sasaran ukurnya. Validitas dibedakan atas: validitas isi mengkaji kepadanan sampel yang terdapat dalam suatu instrumen; validitas konstruk mengkaji sifat-sifat psikologis yang dapat menjelaskan perbedaan-perbedaan responden dalam hal keragaman pencapaian skor tes dalam instrumen tertentu; dan validitas relasi kriteria membandingkan skor responden dengan satu atau lebih variabel eksternal.

Reliabilitas adalah proporsi keragaman skor tes yang disebabkan oleh keragaman sistematis dalam populasi peserta tes. Reliabilitas adalah karakteristik bersama antara tes dan kelompok peserta tes. Reliabilitas tes bervariasi dari suatu kelompok dengan kelompok lainnya. Terdapat beberapa statistik untuk menghitung stabilitas skor tes yaitu: reliabilitas test-retest, reliabilitas split-half, dan reliabilitas konsistensi internal.

Para profesional pengukuran menempatkan kebanyakan penekanan mereka dalam penilaian pada reliabilitas. Suatu pengakuan umum dalam teori tes bahwa suatu tes akan menjadi valid (benar) jika tes tersebut reliabel. Asumsi ini didasarkan pada suatu model matematika teori tes dimana skor perolehan terdiri atas skor tulen dan galat. Semakin sedikit kesalahan dalam suatu tes (yaitu semakin reliabel) semakin valid skor tes tersebut. Suatu penilaian yang tidak reliabel secara otomatis tidak valid. Instrumen yang memiliki reliabilitas tinggi diperlukan jika hasil penilaian akan digunakan untuk pengambilan keputusan yang penting. Sebaliknya, reliabilitas tingkat menengah diperlukan jika hasil penilain kurang penting, dan penilaian didasarkan atas beberapa sumber informasi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi reliabilitas suatu instumen adalah: (1) instrumen yang lebih panjang lebih reliabel dari instrumen yang lebih pendek; (2) reliabilitas akan rendah bila penyebaran skor rendah; (3) semakin obyektif penskoran semakin tinggi reliabilitas; (4) reliabilitas instrumen akan berbeda jika diadministrasikan kepada responden yang memiliki sebaran kemampuan yang berbeda; (5) interval waktu pengambilan data dalam penentuan reliabilitas test-retest juga dapat mengaruhi relibiabilitas instrumen.


DAFTAR PUSTAKA

Aiken, lewis R. Psychological Testing and Assessment. Massachusetts: Allyn and Bacon Inc., 1988.
Anastasi, A. Psychological Testing. New York: MacMillan Publishing Company, 1987.
Bloom, B. S., Madaus, G.F., & Hastings, J. T. Evaluation to Improve Learning. New York: McGraw-Hill Book Company, 1981.
Crocker, Linda and James Algina. Introduction to Classical and Modern Test Theory. Orlando, Florida: Holt, Rinehart and Winston, Inc., 1986.
Cronbach, L. J. Essentials of Psychological Testing. Third Edition. New York: Harper & Row, Publishers, 1970.
Fredericksen, J.R., & Collins, A. A systems approach to educational testing. Educational Researcher, 1989.
Gregory, Robert J. Psychological Testing History, Principles, and Applications. Boston: Allyn & Bacon, 2000.
Gronlund, Norman E. Measurement and Evaluation in Teaching. New York: McMillan Publishing Company, 1985.
Guilford, J.P. Psychomeric Methods. New Delhi: Tata McGraw-Hill Publishing Co. Ltd., 1982.
Hopkins, Charles D., and Richard L. Antes. Classroom Measurement and Evaluation. Itasca, Illinois, 1990.
Linn, R. L., & Gronlund, N. E. Measurement and Assessment in Teaching, Seventh Edition. Englewood Cliffs, NJ: Merrill, an imprint of Prentice Hall, 1995.
Mehrens, W. A., & Lehmann, I. J. Measurement and Evaluation in Education and Psychology. Fourth Edition. Fort Worth, TX: Holt, Rinehart, and Winston, Inc., 1991.
Messick, S. Validity In Educational Measurement. Robert Linn (Ed.). Washington, DC: American Council on Education, 1989.
Nitko, A. J. Educational Assessment of Students. Englewood Cliffs, NJ: Merrill an imprint of Prentice Hall, 1996.
Nunnaly, Jum C. Jr. Introduction to Psychological Measurement. New York: McGraw-Hill Book Company, 1970.
Oosterhof, A. Developing and Using Classroom Assessments. Englewood Cliffs, NJ: Merrill, an imprint of Prentice Hall, 1996.
Popham, W. James. Classroom Assessment, What Teachers Need to Know. Boston: Allyn and Bacon, 1998.
Shavelson, R., G. Baxter, & J. Pine. Performance Assessments: Political Rhetoric and Measurement Reality. Educational Researcher, 1992.
Stapleton, Connie D. Basic Concepts in Exploratory Factor Analysis (EFA) as a Tool to Evaluate Score Validity : A Right-Brained Approach. http://www.utexas.Edu /stat/packs. html., 2002.

ke atas
 
 

 

 

 

 

 

 

 
     
  SINGKATAN DAN AKRONIM DALAM MEDIA CHATTING DAN SMS
(Analisis Komunikasi Teks dalam Internet dan Telepon Selular)

Oleh: Lydia Irawati *)


Abstract
The analyzed result shows abbreviation types in .... are shortening and acronym. The analysis of abbreviations produces (a) the same shortening for difference prolongation, b) different shortening for same prolongation, c) shortening that cause ambiguity, d) shortening for foreign language terminology, e) shortening for regional laguage terminology. The analysis shows that the obbrevations for the names of places are consistent, i.e. they always use capital letters.


I. PENDAHULUAN
Bahasa mempunyai fungsi yang sangat penting di dalam tataran kehidupan bermasyarakat. Fungsi-fungsi bahasa tersebut, antara lain adalah, (1) sebagai wahana komunikasi antara nggota masyarakat, melalui bahasa anggota masyarakat mengomunikasikan pendapat antarsesama, (2) sebagai penyimpan pengetahuan, dan (3) sebagai cermin keadaan lingkungan sosial. Dengan fungsi-fungsi semacam itu, dapat dikatakan bahwa selama manusia hidup, tidak akan pernah lepas dari bahasa.

Pepatah mengatakan bahwa orang yang menguasai dunia adalah orang yang menguasai informasi. Tampaknya, pepatah tersebut merupakan ungkapan yang tepat karena memang informasi merupakan sarana penting yang dapat menghubungkan manusia dalam berinteraksi, apalagi dalam era globalisasi sekarang ini. Informasi dapat diberikan dalam bentuk data, baik secara lisan maupun tulisan.

Pada saat ini, komunikasi dilakukan melalui berbagai cara. Adanya internet dan telepon tidak dipungkiri semakin memudahkan manusia untuk melakukan komunikasi.. Kedua media tersebut merupakan teknologi berbasis bahasa yang memiliki keunikan. Keunikannya ialah jenis informasi yang diberikan harus singkat, tepat, dan mudah dimengerti. Pada media chatting di internet informasi harus singkat, tepat, dan tidak terlalu memakan waktu, sedangkan pada SMS faktor karakter yang tersedia pada telepon selular juga sangat menentukan.Untuk mengatasi hal tersebut, pemakai media percakapan dan SMS cenderung menggunakan proses abreviasi dalam mengirimkan pesan. Proses abreviasi adalah proses pemendekan sebuah kata. Pemendekan kata itu di antaranya berupa singkatan dan akronim.

Dalam Pedoman Ejaan yang Disempurnakan (2002: 16) dijelaskan bahwa singkatan adalah bentuk yang dipendekkan, sedangkan akronim adalah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata yang diperlakukan sebagai kata.

Singkatan dan akronim memang sudah menggejala dalam seluruh tatar kebahasaan di Indonesia. Bila kita perhatikan, hampir semua nama departemen baik pemerintahan maupun swasta menggunakan singkatan dan akronim ini. Misalnya, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang disingkat menjadi P dan K (lebih disingkat menjadi P D K) dan kini menjadi Depdiknas (Departemen Pendidikan Nasional) atau Menteri Transmigrasi dan Permukiman Wilayah (Mentranskimwil). Singkatan dan akronim ini kadang-kadang telah menjadi sebuah kata yang lazim dipakai oleh masyarakat memakai bahasa. Kata tilang yang semula berasal dari bukti pelanggaran, dahulu adalah semacam surat teguran bagi pengemudi yang melanggar aturan lalu lintas. Kini, kata itu telah mempunyai makna yang lain. Jika kita melihat polisi sedang mengadakan operasi di jalan, orang akan mengatakan bahwa sedang ada tilang. Makna tilang berubah menjadi sebuah pemeriksaan/kegiatan rutin ataupun tidak dari pihak kepolisian terhadap kelengkapan kendaraan dan mengemudi. Singkatan dan akronim tersebut akan berkembang jika hasil singkatan atau akronim tersebut banyak dipergunakan oleh masyarakat bahasa.

1. Internet
Internet adalah jaringan luas dari komputer, yang lazim disebut dengan worldwide network. Teknologi internet merupakan salah satu teknologi yang sangat menunjang dalam pemberian informasi. Saat ini perkembangan internet sangat pesat. Aksesnya mudah didapat dan aplikasinya pun mudah digunakan oleh pemakai yang tidak mengerti komputer sekali pun. Pemakai dapat menggunakan fasilitas internet di rumah, yaitu dengan fasilitas telepon yang ada. Selain itu, fasilitas internet mudah didapat di kota-kota besar, seperti adanya warung internet (warnet) yang marak di mana-mana.

Pemberian informasi dari internet dapat bermacam-macam, contohnya fasilitas e-mail. Dalam bahasa Indonesia e-mail (Electronic Mail) dipadankan dengan pos elektronik, lalu disingkat dengan pos-el. Dengan pos-el memungkinkan dua orang atau lebih berkomunikasi dalam bentuk surat menyurat, baik berupa teks, gambar, foto, data, dll. Selain itu, masih ada fasilitas yang lain yaitu mailing list (milis). Milis merupakan perluasan fasilitas pos-el. Dengan milis pemakai dapat melakukan diskusi secara bersama-sama dan memberikan saran pemecahan (brain storming). Pos-el dan milis tidak dapat digunakan untuk berinteraksi secara interaktif pada waktu yang sama.

Pemakai internet tampaknya lebih menyukai media interaktif. Mereka menggunakan fasilitas news group. Fasilitas ini memungkinkan pemakai berkomunikasi antara dua orang atau lebih secara serempak dan dilakukan dalam waktu yang sama. Komunikasi semacam ini disebut chatting ‘bercakap-cakap’, ‘mengobrol’. Fasilitas pertemuannya dinamakan konferensi. Saat melakukan konferensi, pemakai dapat berinteraksi langsung dengan menggunakan teks (kata-kata) dan dapat juga menggunakan fasilitas multimedia. Dengan fasilitas tersebut, selain membuat teks sebagai informasi, pemakai juga dapat langsung melihat lawan bicaranya, yaitu dengan fasilitas kamera (webcam). Selain kamera, ada fasilitas yang lain, yaitu fasilitas untuk berbicara (voice) secara langsung. Fasilitas-fasilitas tersebut dapat digunakan secara pribadi atau bersamaan.

Walaupun fasilitas yang diberikan internet sangat beragam, fasilitas kamera dan bercakap-cakap secara langsung (voice) kurang dimanfaatkan. Hal ini disebabkan oleh tidak semua komputer dan pemakai mempunyai fasilitas kamera (webcam) dan headphone. Keterbatasan itu membuat pemakai lebih sering menggunakan teks sebagai sarana komunikasi.

Kata-kata yang digunakan pun ternyata berupa istilah, yang hanya diketahui oleh pemakai sarana chatting di internet. Hal tersebut tampak ketika pemakai berkomunikasi dengan seseorang pada waktu chatting. Dalam ber-chatting pemakai memunculkan identitasnya, baik yang asli maupun palsu. Berikut ini contoh percakapan dua orang pemakai media chatting dengan identitas (1) Jejaka-01 dan (2) Gadis-02.
Jejaka-01 : hi, how r u?
Gadis-02 : im fine, thx
Jejaka-01 : asl plz
Gadis-02 : 21/f/Ina
Jejaka-01 : oic, dr Indo jg, ya? PSSDMN?
Gadis-02 : Bdg
Jejaka-01 : Oh…Mjg Bdg… Kmh kbr bdg?

Saat memulai percakapan, pemakai (1) Jejaka-01 tidak mengetahui siapa yang diajak bicara. Oleh karena itu, pemakai (1) menggunakan bahasa Inggris agar dapat berkomunikasi secara internasional. Setelah Jejaka-01 mengetahui identitas dari lawan bicaranya (gadis-02), Jejaka-01 menggunakan bahasa Indonesia bahkan kemudian dilanjutkan dengan bahasa Sunda yang merupakan bahasa daerah di Bandung.

Bagi yang baru saja masuk ke media percakapan internet, percakapan di atas membingungkan. Banyak kata yang tidak dimengerti, misalnya asl, plz, dan oic. Bentuk tersebut sebenarnya adalah kependekan dari kata-kata yang akan digunakan. Maksud dari percakapan itu adalah sebagai berikut.
Jejaka-02 : hi, how r u?
hai, how are you ‘hai, apa kabar?’)
Gadis-01 : im 5n, thx
(I am fine, thanks ‘saya baik-baik saja, terima kasih’)
Jejaka-02 : asl plz
(Age, sex, location, please ‘permohonan saat menanyakan umur, jenis kelamin, dan lokasi)
Gadis-01 : 21/f/Ina
(21, female, Indonesia ’21 tahun, perempuan, dari Indonesia)
Jejaka-02 : oic, dr Indo jg, ya? PSSDMN?
(Oh, I see ‘oh, saya mengerti’ dari Indonesia juga, ya? Posisi di mana?
Gadis-01 : Bdg
(Bandung)
Jejaka-02 : Oh, Mjg Bdg… Kmh kbr Bdg?
(Oh, Mojang Bandung. Kumaha kabar Bandung?)

Bentuk singkatan dari percakapan tersebut dikumpulkan, kemudian diperoleh data yaitu kata-kata yang mengalami abresiasi, baik dalam bahasa Indonesia maupun Inggris. Singkatan dan akronim baik yang berasal dari bahasa Indonesia maupun dari bahasa Inggris akan diuraikan berdasarkan bentuk dan maknanya.

2. SMS (Short Message Service)
Media komunikasi yang lain ialah telepon selular (phone cell). Dengan fasilitas yang diberikan pemberi jasa layanan (operator) telepon selular, pemakai telepon tidak hanya dapat memberikan informasi kepada lawan bicaranya, tetapi juga dapat menggunakan fasilitas lain yang disediakan, misalnya SMS (Short Message Service).

SMS merupakan layanan pemberian pesan singkat. Sesuai dengan fungsinya, memberikan pesan-pesan singkat, bahasa yang digunakan pun menjadi khas. Biasanya, penulisan kata disesuaikan dengan banyaknya karakter huruf yang dapat ditulis pada fasilitas telepon selular. Beragamnya jenis telepon selular membuat pemakai SMS sendiri berusaha sehemat mungkin menimbulkan berbagai kata-kata yang singkat namun masih dapat dimengerti.

Seperti dalam media percakapan di internet, penulisan SMS mempunyai pola-pola pembentukan tersendiri dalam rangka kehematan karakter huruf. Kehematan penulisan kata merupakan salah satu keunikan sendiri, sekaligus menimbulkan keambiguan.

Sebuah SMS menuliskan (1) Atikah skt gjl tipus.
Kalimat tersebut mempunyai makna lebih dari satu jika kita tidak mengetahui kepanjangan singkatan atau akronim kata-kata yang dituliskan. Kemungkinan makna kalimat yang akan di dapat adalah sebagai berikut.
(1) Atikah skt gjl tipus.
(1a) Atikah sakit ginjal dan tipus.
(1b) Atikah sakit gejala tipus.

Informasi/pesan yang disampaikan menjadi beragam karena bentukan singkatan yang dibuat menghasilkan keambiguan.

Pemakaian singkatan dan akronim di media percakapan (chatting) dan SMS menarik untuk dibahas. Data yang akan diamati diambil dan dikumpulkan dari media massa (harian umum Pikiran Rakyat), SMS, dan komunikasi teks (chatting) di internet.


II. SINGKATAN DAN AKRONIM DALAM MEDIA CHATTING DAN SMS
Akronim dan singkatan merupakan bagian dari proses abreviasi. Istilah abreviasi yang dipakai oleh Kridalaksana (1996:159) adalah proses penanggalan satu atau beberapa bagian leksem atau kombinasi leksem sehingga jadilah bentuk baru yang berstatus kata.

Dari pendapat tadi penulis menyimpulkan bahwa abreviasi dapat berarti pemendekan bentuk sebagai pengganti kata atau frase dengan cara menanggalkan satu atau beberapa bagian leksem. Proses morfologis terjadi dari masukan (input) yang berupa leksem dan keluaran (output) yang berupa kata.


Kridalaksana (1996:162) mengemukakan bahwa bentuk-bentuk kependekan adalah (1) singkatan, (2) penggalan, (3) akronim, (4) kontraksi, dan (5) lambang huruf. Dalam makalah ini bentuk kependekan (abreviasi) yang akan dibahas dibatasi hanya singkatan dan akronim. Kridalaksana (1996:162) menyebutkan bahwa singkatan adalah satu di antara hasil pemendekan yang berupa huruf atau gabungan huruf, baik yang dieja huruf demi huruf maupun yang tidak dieja huruf demi huruf.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 1994:945) singkatan adalah (1) hasil menyingkat (memendekkan) yang berupa huruf atau gabungan huruf (misalnya, DPR, KKN, yth.,dsb., dan hlm.), (2) kependekan; ringkasan. Dengan demikian, semua kependekan kata atau frase itu dapat digolongkan ke dalam singkatan. Singkatan juga berarti hasil menyingkat (memendekkan) sehingga akronim merupakan salah satu bentuk singkatan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 1994:18), akronim adalah kependekan yang berupa gabungan huruf atau suku kata atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai kata yang wajar (misalnya, mayjen singkatan dari mayor jenderal, rudal singkatan dari peluru kendali, dan sidak singkatan dari inspeksi mendadak).

Kridalaksana (1996:162) mendefinisikan akronim sebagai proses pemendekan yang menggabungkan huruf atau suku kata atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai sebuah kata. Akronim dianggap sebagai suatu kata contohnya, jika ada seseorang yang mengucapkan paskibraka, orang sudah mengetahui maknanya.

Dapat disimpulkan bahwa singkatan dan akronim adalah kependekan dari kata atau gabungan huruf. Perbedaan antara singkatan dan akronim adalah bentuk singkatan dilafalkan huruf per huruf, sedangkan akronim dilafalkan sebagai satu kata.

1. Syarat Pembentukan Singkatan dan Akronim
Singkatan digunakan untuk meringkas suatu gagasan dalam berkomunikasi. Penggunaan singkatan dapat menambah kosa kata. Akan tetapi, banyak singkatan yang dihasilkan tidak memperhatikan proses pembentukannya dan tidak melihat hubungan antara singkatan dengan kepanjangannya. Selain itu, singkatan dapat juga menimbulkan keambiguan (banyak makna).

Singkatan-singkatan dibentuk lebih banyak oleh faktor pragmatik daripada fonologis. Jika pembentukan singkatan memperhatikan kaidah, penyimpangan bentuk singkatan tidak banyak terjadi.

Menurut Pedoman Ejaan yang Disempurnakan (2002: 16), jika diperlukan membentuk akronim, hendaknya diperhatikan syarat-syarat berikut. (1) Jumlah suku kata akronim jangan melebihi jumlah suku kata yang lazim dalam bahasa Indonesia. (2) Akronim dibentuk dengan mengindahkan keserasian kombinasi vokal dan konsonan yang sesuai dengan pola kata Indonesia yang lazim.

Menurut Amran Tasai, ada sembilan pola singkatan. Sebagai berikut.
1. Pola pertama
Singkatan ini terdiri atas huruf besar. Huruf besar yang dijadikan pola singkatan tersebut adalah huruf-huruf awal kata. Singkatan seperti ini adalah singkatan yang umum dipakai baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa asing. Pada singkatan jenis ini tidak diperlukan tanda titik, misalnya KKN (Kuliah Kerja Nyata), PT (Perusahaan Terbatas).

2. Pola Kedua
Pola kedua adalah akronim yang unsur-unsurnya terdiri atas huruf-huruf besar. Huruf-huruf besar yang membentuknya terdiri atas huruf-huruf awal kata yang membentuknya, misalnya ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia), LAN (Lembaga Administrasi Negara), ASI (Air Susu Ibu).

3. Pola ketiga
Pola ketiga adalah singkatan yang terdiri atas huruf-huruf kecil. Singkatan tersebut berasal dari huruf-huruf awal kata. Dalam pembentukannya kita harus menggunakan tanda titik di antara huruf-huruf pembentuk singkatan itu, misalnya: a.n. (atas nama), u.b. (untuk beliau), u.p. (untuk perhatian).

4. Pola Keempat
Pola keempat adalah singkatan yang terdiri atas huruf–huruf kecil, yang dibentuk dari huruf awal kata yang membentuknya. Singkatan itu terdiri atas tiga huruf kecil dan dibubuhi tanda titik pada akhir singkatan, misalnya dll. (dan lain-lain), dsb. (dan sebagainya).

5. Pola Kelima
Pola kelima adalah singkatan yang berupa akronim dari nama badan atau nama diri. Singkatan ini terdiri atas huruf-huruf bagian kata yang membentuk singkatan itu, bukan hanya huruf awal kata. Singkatan ini dilafalkan sebagai sebuah kata, sehingga kita sebut akronim. Huruf awal akronim harus ditulis dengan huruf besar, misalnya: Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional).

6. Pola Keenam
Akronim pada pola keenam ini adalah akronim yang seluruhnya ditulis dengan huruf kecil, misalnya: tilang (bukti pelanggaran), rudal (peluru kendali).

7. Pola Ketujuh
Pola ketujuh adalah singkatan pada gelar kesarjanaan dan sapaan. Singkatan pada pola ketujuh ini merupakan singkatan yang khusus karena wujudnya dapat berupa singkatan yang terdiri atas huruf-huruf awal kata dan dapat pula berbentuk akronnim seperti pola kelima. Yang membedakannya adalah pada pola ketujuh ada penggunaan tanda baca titik. Singkatan pada pola ketujuh ini menggunakan tanda titik pada setiap huruf besar hasil singkatan, misalnya S.H. (Sarjana Hukum), M.Hum (Magister Humaniora).

8. Pola Kedelapan
Pola kedelapan adalah pola singkatan yang berhubungan dengan lambang kimia, ukuran, takaran, timbangan, dan besaran.Singkatan pada pola ini tidak dibenarkan untuk menggunakan tanda titik, misalnya Rp (rupiah), cm (sentimeter), kg (kilogram).

9. Pola Kesembilan
Singkatan yang termasuk dalam pola kesembilan ini disebut sebagai “bentuk singkat”. Sebagian besar kata-kata berasal dari bahasa asing. Dalam bentuk singkat ini tidak diperlukan tanda titik, misalnya lab (laboratorium), Café (cafetaria), memo (memorandum).

2. Pemakaian Singkatan dan Akronim pada Sarana Chatting di Internet dan SMS
Singkatan pada media Chatting dan SMS hampir serupa. Di internet percakapan dilakukan secara global. Pada awalnya pemakai tidak mengetahui identitas seseorang secara pasti. Hal ini dimungkinkan karena pemakai dapat menggunakan berbagai identitas yang berbeda. Selain itu, pemakai tidak mengetahui siapa yang dituju sebelum lawan bicara kita memberi data pribadinya dengan jelas. Karena bersifat global, bahasa yang digunakan tidak hanya menggunakan bahasa Indonesia.

Bahasa Inggris yang merupakan bahasa pergaulan internasional menjadi bahasa yang mau tidak mau harus dimengerti oleh pemakai dunia chatting. Oleh karena itu, pemakai sarana percakapan ini harus orang yang multibahasa. Apalagi, jika si pemakai mencoba untuk memasuki wilayah dengan bahasa yang berbeda. Cara memasuki kelompok bahasa yang berbeda ini akan mudah didapat jika masuk ke ruangan (room) yang disediakan untuk berinteraksi. Keanekaragam ruangan dapat dilihat dari wilayah, jenis keperluan (komputer dan internet, keagamaan, dll). Wilayah (regional) dapat dimulai dari negara yang dituju, contohnya ruangan dengan wilayah (regional) Indonesia. Indonesia terbagi atas beberapa ruangan, misalnya Jakarta Global Chat, Nusantara Global Chat, Bandung, Bali, Jogja. Tiap kota mempunyai channel untuk memudahkan memilih lokasi, tujuan, dan lawan bicaranya. Pengguna sarana chatting ini dengan mudah masuk ke negara lain untuk mengetahui bahasa, adat, dan budaya. Untuk masuk ke wilayah lain, pemakai harus menguasai bahasa Inggris, sebagai bahasa internasional.

Dalam SMS pengguna sudah mengetahui siapa orang yang dituju, sehingga bahasa yang akan digunakan pun sudah dapat diketahui, termasuk dalam pemakaian ragam bahasa. Jika akan meng-SMS seseorang yang kedudukannya lebih tinggi, tentu saja ragam bahasa yang dipergunakan cenderung yang resmi dan santun. Berbeda apabila kita akan berkomunikasi SMS dengan teman sebaya, bahasa yang dipergunakan cenderung santai dan tidak resmi.

Untuk pembahasan kali ini, kita memfokuskan pada masalah akronim dan singkatan yang dipergunakan oleh pengguna sarana percakapan. Berikut ini data mengenai singkatan dan akronim dalam media chatting.

3. Pemakaian Singkatan pada Media Chatting dan SMS
1) Singkatan yang Menggunakan Huruf Awal Kapital
Singkatan berikut ini sesuai dengan pola pertama, dibentuk dari huruf awal pada sebuah kata. Penulisan singkatan itu harus menggunakan huruf kapital dan tidak disertai tanda titik.
a. ASL ‘Age Sex Location’
b. ABG ‘Anak Baru Gede’
c. ACK ‘Aku Cinta Kamu’
d. ASK ‘Aku Suka Kamu’
e. BBG ‘Berangkat Bareng Gue’
f. BF ‘Boy Friend’
g. BMW ‘Be My Wife’ (Jadilah istriku)
h. DLK ‘Dinas Luar Kota’
i. EGP ‘Emang Gue Pikirin’
j. GF ‘Girl Friend’
k. JJ ‘ Jalan-Jalan’
l. KDL ‘Kasihan Deh Lu’
m. JAP ‘Jadikan Aku Pacarmu’
n. OL ‘On line’
o. PM ‘Private Message’ (Pesan Perorangan)

2) Bentuk Singkatan
Bentuk singkatan ini disebut juga pemendekan kata. Dalam istilah komputer, kata yang disingkat semacam ini banyak ditemukan, misalnya disk untuk disket.
a. Perpus ‘Perpustakaan’
b. Co ‘Cowok/Laki-laki’
c. Ce ‘Cewek/Perempuan’
d. Ker ‘Kerja’
e. Kul ‘Kuliah’
f. Pi ‘Pipis’
g. Ok ‘Okay’
h. Dir ‘Directory’
i. Ok ‘Okay’

3) Angka sebagai Pengganti Huruf atau Kata
Penggunaan angka untuk menggantikan sebuah kata atau suku kata ini dipilih berdasarkan kesesuaian bunyi dengan kata atau suku kata yang digantikannya. Penyingkatan semacam ini merupakan pola baru dalam proses penyingkatan sebuah kata. Hal tersebut tampak pada contoh berikut ini.
a. 1 ‘one, wan’ (satu, wan)
b. 2 ‘two, too, to’ (dua, juga, kepada)
c. 4 ‘four, for’ (empat, untuk)

4) Gabungan Huruf dan Angka
Singkatan berikut ini dibentuk dari gabungan antara huruf dan angka. Angka yang dipilih adalah angka yang memiliki lafal yang sama dengan kata atau suku kata yang digantikannya. Proses penyingkatan semacam ini kerap menimbulkan kebingungan karena orang harus menebak-nebak terlebih dahulu sebelum mengetahui makna sebenarnya. Hal itu lebih tepat disebut sebagai permainan bahasa yang dipergunakan oleh pemakai media chatting dan SMS.
a. U2 ‘you too’(kamu juga)
b. B4 ‘before’ (sebelum)
c. G8 ‘Great’ (bagus)
d. 5n ‘Fine’ (baik)
e. Se9 ‘Senin’
f. G2 / BG2 ‘Gitu / begitu’
g. B4N ‘Bye For Now’ (Sampai jumpa)
h. 2morow ‘tommorow’ (besok)
i. L8 ‘Late’ (terlambat)
j. L8r ‘Later’ (nanti)
k. G9S ‘Genius’
l. 10tu ‘tentu’
m. 1 st ‘first’ (satu)
n. U1 ‘u first / kamu pertama’

5) Singkatan yang Mengubah Beberapa Huruf
Singkatan semacam ini melesapkan huruf-huruf yang membentuknya atau mengubah kata atau suku kata menjadi sebuah huruf yang lafalnya mirip. Kata yang dibentuk menjadi lebih singkat.
a. Plz “Please’
b. thx ‘Thanks’
c. miz ‘miss’
d. GPP ‘ga pa pa’ (Nggak/Tidak apa-apa)
e. ILU ‘I Love U’
f. IWU ‘ I Owe You’
g. QT ‘kita’
h. GW ‘Gue’
i. C ‘see’ (lihat)
j. D ‘The’ (partikel dalam bahasa Inggris)
k. N ‘and’ (dan)
l. B ‘be’ (jadi)
m. R (are)
n. Yr (your)
o. Urs (yours)
p. Mo (mau)
q. Ga (nggak / tidak)

6) Singkatan yang menghilangkan unsur vokal dalam sebuah kata
Bentuk singkatan dengan pola penghilangan vokallah yang paling banyak digunakan pengguna media chatting dan SMS. Di samping mudah menyingkatnya, hal ini disebabkan karena hampir semua kata dapat disingkat menjadi bentukan semacam ini. Tentu saja hal ini dapat menimbulkan keambiguan. Contohnya cr adalah singkatan dari cara, cari, dan ciri.
a. BHG ‘Bohong’
b. BGT ‘Banget’
c. BLG ‘ Bilang’
d. BLM ‘Belum’
e. BR ‘baru’
f. BRS ‘beres’
g. CKP ‘Cakep’
h. JD ‘jadi’
i. JG ‘juga’
j. Jgn ‘Jangan’
k. MCT BGT ‘Macet Banget’
l. MSULkeCRZ ‘Miss You Like Crazy’
m. PJM ‘Pinjam’
n. PGL ‘Pulang’
o. PSSDMN ‘Posisi Dimana?’
p. SKT ‘Sakit’
q. BGN ‘Bangun’
r. BS ‘Bisa’
s. CR ‘Cari’
t. KM ‘Kamu’

4. Pemakaian Akronim
1) Akronim yang Berasal dari Awal Huruf Setiap Kata
Pemendekan huruf awal dari setiap kata yang dilafalkan sebagai sebuah kata disebut akronim. Jenis akronim tersebut hanya sedikit ditemukan dalam data media chatting dan SMS. Berikut ini adalah contohnya.
a. ASAP ‘As Soon As Possible’ (Secepat mungkin)
b. JAP ‘Jadikan Aku Pacarmu’
c. LOL ‘Laugh of Language’ ‘tertawa terbahak-bahak’

2) Akronim yang Ditulis dengan Huruf Kecil
Akronim ini dari penggalan suku kata atau penggalan satu huruf saja. Pemendekan ini dinamakan akronim karena dilafalkan sebagai sebuah kata. Penulisan singkatan semacam ini sebaiknya dituliskan dengan huruf kecil semua. Berikut ini adalah contohnya.
a. asbun ‘asal bunyi’
b. asal ‘asli tapi palsu’
c. nomat ‘nonton hemat’
d. boljug ‘boleh juga’
e. borjug ‘borjuis juga’
f. dores ‘doa restu’
g. jaim ‘jaga image’
h. titi dj ‘hati-hati di jalan’.

.
III. KESIMPULAN
Singkatan dan akronim dibentuk lebih sering oleh faktor pragmatik daripada fonologis. Oleh karena itu, pemakai bahasa sangat berperan dalam pembentukan singkatan tersebut.

Pembentukan singkatan dan akronim pada media chatting dan SMS di samping menggunakan pola yang sudah ada juga menggunakan pola-pola baru yang belum ada dalam pola pembentukan singkatan bahasa Indonesia. Pola yang sudah ada adalah (1) Singkatan yang menggunakan huruf awal kapital, (2) bentuk singkat dari sebuah kata, (3) akronim yang unsur-unsurnya terdiri atas huruf-huruf besar dan berasal dari huruf-huruf awal kata yang membentuknya, (4) akronim yang seluruhnya ditulis dengan huruf kecil.

Pola baru yaitu (1) singkatan dari angka sebagai pengganti huruf atau kata, (2) singkatan dari gabungan huruf dan angka, (3) singkatan yang mengubah beberapa huruf, (4) singkatan yang menghilangkan unsur vokal sebuah kata.

Pola baru tersebut kemungkinan akan menjadi pola baru dalam pembentukan singkatan dalam bahasa Indonesia jika pemakai bahasa terus mempertahankannya, singkatan tersebut akan dianggap lazim oleh masyarakat bahasa.

Singkatan yang menghilangkan unsur vokal merupakan singkatan yang paling sering dipergunakan oleh pemakai SMS. Hal ini terjadi karena pada umumnya hampir semua kata dapat dibentuk dengan singkatan yang menghilangkan unsur vokal. Hal ini memudahkan pemakai SMS untuk menyampaikan pesan dengan singkat. Namun, tentu saja hal ini dapat menimbulkan keambiguan. Keambiguan tersebut terjadi karena singkatan tersebut mengandung beberapa makna. Hal itu akan mempersulit pemahaman terhadap makna sebenarnya.

Untuk menghindari keambiguan itu, sebaiknya pemakai menghindari penyingkatan kata-kata yang dapat menimbulkan keambiguan. Dengan demikian komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang dipahami kedua pihak.


DAFTAR PUSTAKA
Alwasilah, A. Chaedar. 1993. Pengantar Sosiologi Bahasa. Bandung: Penerbit Angkasa.
Chaer, Abdul. 2003. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Chaer, Abdul. 1993. Pengantar Sosiologi Bahasa. Bandung: Angkasa.
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1994. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Kridalaksana, Harimukti. 1996. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Pateda, Mansyur. 1987. Sosiolinguistik. Bandung: Penerbit Angkasa.
Pardosi, Mico. 2000. Uraian Lengkap tentang Internet. Surabaya: Penerbit Indah.
Sobur, Alex. 2003. Semiotika Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia. 2002. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan. Jakarta: Pusat Bahasa.
Tasai, Amran. 1997. “Singkatan dan Akronim dalam Bahasa Indonesia” Dalam Majalah Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta: Depdiknas.

ke atas